Menu

Mode Gelap
Kasus Yogi “Starlink” Sikakap, Bupati Mentawai : Dia Bantu Program Pemerintah Akibat Karhutla, Program MBG di Dharmasraya Terganggu di Tingkat TK dan PAUD Polres Dharmasraya Grebek 4 Pelaku Pesta Sabu, Salah Satunya Perempuan Lomba Mural Wisata di Padang Selatan, 18 Karya Masuk Final Makna Lamang Bagi Masyarakat Padang Pariaman Dalam Mauluik Nabi Dua EWS Tsunami Sumbar Bermasalah Saat Uji Rutin, BPBD Segera Lakukan Penanganan

Life Style

AI Mulai Gerus Pekerjaan Entry-Level, Anak Muda Dunia Makin Rentan Menganggur

Safira Ariel Putribadge-check

AI Mulai Gerus Pekerjaan Entry-Level, Anak Muda Dunia Makin Rentan Menganggur Perbesar

Covesia.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda yang hendak memasuki dunia kerja.

Pekerjaan tingkat awal atau entry-level yang selama ini menjadi pintu pertama bagi lulusan baru untuk membangun karier mulai tertekan seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI.

Kondisi tersebut terjadi ketika pasar tenaga kerja global sendiri masih menghadapi persoalan perlambatan ekonomi dan lemahnya penciptaan lapangan pekerjaan.

Laporan terbaru Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) menunjukkan, generasi muda kini menghadapi persaingan yang semakin berat untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dan layak.

ILO mencatat tingkat pengangguran kaum muda berusia 15 hingga 24 tahun mencapai 12,4 persen pada 2025. Angka itu setara dengan sekitar 67 juta orang dan sedikit meningkat dibandingkan 12,3 persen pada 2023.

Selain itu, sekitar 20 persen populasi muda dunia atau lebih dari 257 juta orang masuk kategori not in employment, education or training (NEET), yakni tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, maupun mengikuti pelatihan.

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena perkembangan AI mulai mengubah jenis pekerjaan yang tersedia.

Sejumlah pekerjaan yang selama ini menjadi jalur masuk generasi muda ke dunia profesional, seperti administrasi, pengolahan data, jasa, penjualan dan pekerjaan klerikal, termasuk yang paling rentan mengalami otomatisasi.

Menurut ILO, sekitar 6,1 persen pekerjaan yang dilakukan anak muda masuk dalam kategori dengan tingkat paparan AI paling tinggi.

Apabila sebagian dari pekerjaan tersebut benar-benar hilang akibat otomatisasi, dampaknya dapat dirasakan jutaan pekerja muda.

ILO memperkirakan, apabila hanya 10 persen pekerjaan yang terekspos AI benar-benar menghilang, sekitar 5,6 juta anak muda, terutama di negara berpendapatan tinggi, dapat menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, berpindah profesi, atau bahkan keluar dari pasar kerja.

Namun, perkembangan AI tidak serta-merta berarti manusia akan kehilangan pekerjaan secara massal.

ILO dalam sejumlah kajiannya menegaskan bahwa dampak utama AI kemungkinan lebih banyak berupa perubahan terhadap tugas dan cara kerja dibandingkan penghapusan seluruh pekerjaan.

Banyak pekerjaan justru berpotensi mengalami transformasi karena sebagian tugas dapat dikerjakan oleh AI, sementara pekerjaan yang membutuhkan penilaian, kreativitas, interaksi sosial dan tanggung jawab manusia tetap diperlukan.

Masalahnya, generasi muda berada pada posisi yang lebih rentan karena mereka belum memiliki pengalaman kerja yang panjang.

Pekerjaan entry-level selama ini menjadi tempat bagi lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman, membangun keterampilan dan kemudian naik ke jenjang pekerjaan yang lebih tinggi.

Ketika pekerjaan pada tingkat awal tersebut menyusut, muncul kekhawatiran terjadinya hambatan pada tangga pertama karier generasi muda.

Persoalan ini juga tidak hanya terjadi di negara berkembang. Di Amerika Utara, tingkat pengangguran anak muda meningkat dari 8,3 persen pada 2023 menjadi 9,8 persen pada 2025.

Sementara di Eropa Utara, Selatan dan Barat, tingkat pengangguran kaum muda masih berada di sekitar 15 persen.

Di negara-negara berkembang, persoalannya bahkan dapat menjadi lebih rumit.

Tingkat pengangguran yang relatif rendah tidak selalu berarti generasi muda mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak anak muda terpaksa masuk ke sektor informal karena tidak memiliki pilihan untuk bertahan lama tanpa pekerjaan.

ILO mencatat hampir sembilan dari 10 pekerja muda berusia 15 hingga 29 tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah bawah bekerja secara informal.

Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap pendapatan yang tidak stabil, minim perlindungan sosial dan ketidakpastian pekerjaan.

Indonesia Menghadapi Persoalan Serupa

Indonesia juga tidak sepenuhnya terlepas dari persoalan tersebut. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menunjukkan terdapat 1.033.182 penganggur berlatar belakang sarjana.

Dari total 7,22 juta penduduk usia kerja yang menganggur, sekitar 14,31 persen merupakan lulusan sarjana terapan maupun S-1, S-2 dan S-3.

Angka tersebut menunjukkan persoalan yang menarik. Ketika jumlah pengangguran secara keseluruhan cenderung menurun, proporsi lulusan perguruan tinggi yang menganggur justru meningkat.

Pada Agustus 2024, misalnya, jumlah penganggur mencapai 7,47 juta orang dengan sekitar 11,28 persen di antaranya merupakan lulusan sarjana. Pada Agustus 2025, jumlah penganggur relatif tetap, yakni 7,46 juta orang, tetapi proporsi lulusan sarjana meningkat menjadi 12,12 persen.

Tren tersebut terus berlanjut. Pada Februari 2026, total pengangguran turun menjadi 7,24 juta orang, tetapi proporsi lulusan sarjana meningkat menjadi 14,27 persen. Pada Mei 2026, angkanya mencapai 14,31 persen.

Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanu Endar Prasetyo, menilai kondisi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan.

Ada persoalan struktural berupa ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya diikuti oleh perluasan lapangan kerja formal yang membutuhkan keterampilan mereka.

Situasi itu kemudian diperumit oleh perkembangan teknologi, potensi pemutusan hubungan kerja, perlambatan industri serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Ancaman AI terhadap pekerjaan tidak seharusnya diterjemahkan sebagai pertarungan antara manusia dan teknologi. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana dunia pendidikan, pemerintah, perusahaan dan generasi muda mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar kerja.

ILO menilai investasi terhadap keterampilan dan perlindungan sosial menjadi semakin penting agar generasi muda mampu menghadapi transformasi dunia kerja.

Di sisi lain, pekerjaan yang membutuhkan kemampuan teknis dan pengetahuan di bidang sains, kesehatan serta teknik justru diperkirakan terus berkembang. Artinya, perubahan teknologi juga menciptakan peluang baru, tetapi peluang tersebut membutuhkan keterampilan yang berbeda dari pekerjaan yang perlahan terotomatisasi.

Karena itu, tantangan terbesar bagi generasi muda bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan memastikan kemampuan yang mereka miliki tetap relevan.

Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan ijazah. Dunia pendidikan juga dituntut membekali generasi muda dengan kemampuan digital, berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah serta kemampuan untuk terus belajar.

Sementara bagi pemerintah, meningkatnya pengangguran di kalangan lulusan muda menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang berkualitas.

AI seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas manusia, bukan mempersempit kesempatan generasi muda untuk memulai kehidupan profesional.

Sebab bagi seorang anak muda, pekerjaan pertama bukan sekadar sumber penghasilan. Pekerjaan pertama adalah pintu untuk memperoleh pengalaman, membangun kepercayaan diri dan menentukan arah masa depan.

Jika pintu itu semakin sempit, maka yang dipertaruhkan bukan hanya angka pengangguran, tetapi juga kesempatan satu generasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Cek Disini Bagi Yang Minat Daftar Sekolah Kedinasan, Pendaftaran Hingga 30 Agustus 2026

20 Agustus 2026 - 11:32 WIB

Kaki Bengkak Bisa Jadi Tanda Masalah Ginjal, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

19 Agustus 2026 - 11:13 WIB

Cara Alami Mengusir Tikus dari Rumah, Bisa Dicoba Tanpa Racun

18 Agustus 2026 - 11:18 WIB

Kopi Pagi Tak Sekedar Teman Sarapan, Ini Manfaatnya Bagi Tubuh

14 Agustus 2026 - 09:41 WIB

Game dan Judol Bikin Remaja Rentan Stress

13 Agustus 2026 - 19:06 WIB

Trending Topik Life Style