Covesia.co.id — Bagi masyarakat Padang Pariaman, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kegiatan keagamaan yang berlangsung sehari.
Di daerah yang dikenal dengan sebutan Piaman ini, peringatan tersebut telah berkembang menjadi tradisi sosial dan budaya yang melibatkan surau, kaum, keluarga, ninik mamak, alim ulama hingga masyarakat perantauan.
Masyarakat setempat menyebutnya Mauluik Nabi atau Mauluik. Perayaannya dapat berlangsung secara bergiliran dari satu surau ke surau lainnya, dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti badikie, malamang, bajamba, mahanta kue hingga berbagi hidangan kepada tamu dan kerabat.
Karena itu, ketika memasuki bulan Maulid, suasana di sejumlah nagari di Padang Pariaman terasa berbeda. Aktivitas masyarakat tidak hanya berpusat di rumah dan surau, tetapi juga melibatkan persiapan bersama yang dapat berlangsung berhari-hari.
Salah satu tradisi yang tidak boleh ketinggalan saat Mauluik Nabi adalah Lamang.
Sebuah makanan tradisional yang bahan baku utamanya adalah beras ketan dan santan. Kemudian dimasukkan ke ruas bambu yang dilapisi daun pisang. Bambu yang telah diisi tersebut pun di bakar di atas bara api hingga matang.
Lamang, bukan sekedar masakan kuliner tradisional. Bagi masyarakat Padang Pariaman, cara pembuatan Lamang (Malamang-red) memiliki nilai gotong royong dan kekeluargaan yang tinggi.
Jika ada kegiatan Malamang, pasti ada perwakilan wanita di setiap rumah dalam satu kampung yang ikut meramaikan proses Malamang.
Proses Malamang dan menjadikan Lamang sebagai makanan wajib Mauluik Nabi telah ada sejak masuknya Islam yang dibawa Syekh Burhanuddin pada abad ke-16.
Tradisi tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah Padang Pariaman dan berkembang dengan bentuk yang berbeda sesuai nagari serta pengaruh ulama setempat.
Salah seorang mamak Suku Guci di Sicincin, tepatnya di Surau Kasai, Mothia Aziz atau Dt. Nan Basa mengatakan Mauluik bukan hanya bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan memperingati kelahirannya.
Menurutnya, Mauluik juga menjadi ruang untuk memperkuat rasa syukur dan gotong royong masyarakat.
“Mauluik Nabi merupakan wujud syukur dari masyarakat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi tradisi memperkuat gotong royong,” ungkapnya.
Menurut Mothia, lamang menjadi salah satu hidangan yang tidak terpisahkan dari perayaan Mauluik Nabi.
Pembuatan lamang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat sebelum kemudian dibawa ke surau atau masjid untuk disajikan kepada para tamu.
Makanan tersebut juga buah tangan yang dibawa pulang oleh tamu. Dalam kebiasaan masyarakat Padang Pariaman, tamu laki-laki biasanya memperoleh lamang dalam bentuk batangan, sedangkan tamu perempuan menerima potongan lamang yang telah dibungkus.
Dengan demikian, lamang tidak hanya memiliki fungsi kuliner, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme berbagi dalam tradisi Mauluik.
Tradisi Estafet
Salah satu hal yang kerap membuat masyarakat dari luar Padang Pariaman bertanya adalah waktu pelaksanaan Mauluik yang tidak selalu jatuh pada hari yang sama.
Jika Maulid Nabi secara umum dikenal berkaitan dengan 12 Rabiul Awal, di Padang Pariaman rangkaian peringatannya dapat berlangsung lebih panjang.
Masyarakat melaksanakannya secara bergiliran dari satu surau atau kaum ke surau lainnya. Karena jumlah surau dan kelompok masyarakat yang terlibat cukup banyak, rangkaian Mauluik dapat berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.
Tradisi tersebut membuat bulan Maulid di Padang Pariaman bukan hanya menjadi satu momentum, melainkan menjadi rangkaian perayaan yang menghidupkan berbagai surau dan ruang sosial masyarakat.
Mothia menjelaskan, pelaksanaan di Surau Kasai juga terlebih dahulu dibicarakan bersama seluruh kaum Suku Guci. Mereka bermusyawarah untuk menentukan tanggal yang dianggap sesuai.
“Acara Mauluik Nabi di sini dilaksanakan pada hari yang berbeda-beda karena perayaannya dilakukan bergantian dari satu surau ke surau lain. Hingga nanti puncaknya di Masjid Raya Lubuak Pandan. Di sana juga ada kegiatan Hoyak Tabuik. Untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi, tidak harus berpatokan pada satu hari saja bukan,” ungkapnya.
Bagi Mothia, perbedaan waktu tersebut bukan berarti mengurangi makna peringatan. Justru, panjangnya rangkaian membuat semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk hadir, bersilaturahmi dan ikut berbagi.
Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Padang Pariaman menempatkan surau sebagai ruang penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Pada pelaksanaannya, Mauluik juga tidak hanya berisi aktivitas makan bersama. Ada badikie atau pembacaan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, doa dan kegiatan keagamaan lainnya.
Tokoh ulama dan akademisi Sumbar, Prof. Duski Samad dalam kajiannya mengenai Mauluik Badikie menyebut tradisi tersebut sebagai ruang perjumpaan antara agama dan budaya.
Di dalamnya terdapat pujian kepada Rasulullah SAW, kisah kehidupan Nabi, doa, zikir, sedekah, kebersamaan, penghormatan kepada ulama serta solidaritas sosial.
Bukan Sekadar Makan Bajamba
Hal lain yang sering menarik perhatian orang luar adalah banyaknya makanan dalam perayaan Mauluik Nabi.
Di sejumlah tempat, masyarakat menyiapkan berbagai hidangan dalam jumlah besar. Jamba-jamba dibawa ke surau. Makanan kemudian disantap bersama dan dibagikan kepada para tamu.
Bagi masyarakat yang tidak terbiasa melihat tradisi tersebut, banyaknya hidangan terkadang dapat dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan.
Namun, bagi masyarakat Padang Pariaman, makanan dalam Mauluik memiliki fungsi sosial yang lebih luas.
Puri, atau yang akrab disapa Ajo Puri, salah seorang yang hadir dalam acara Mauluik Nabi, mengatakan hidangan tersebut menjadi sarana untuk berbagi rezeki.
“Beragamnya makanan yang ada menjadi momentum untuk saling berbagi. Bagi yang mungkin dalam keseharian tidak bisa merasakan makanan-makanan tersebut, melalui Mauluik Nabi menjadi jembatan untuk saling berbagi rezeki, kebahagiaan, dan kebersamaan,” ungkapnya.
Dengan kata lain, makanan bukan hanya soal apa yang tersaji di atas talam. Ada nilai berbagi yang menyertainya.
Masyarakat yang memiliki kemampuan lebih dapat memberikan hidangan kepada tamu dan kerabat. Sementara mereka yang datang sebagai tamu dapat menikmati makanan bersama-sama dalam suasana kekeluargaan.
Tradisi semacam ini juga membuat hubungan antarkeluarga tetap terpelihara.
Bagi masyarakat perantauan, Mauluik bahkan menjadi alasan untuk kembali ke kampung halaman. Mereka pulang membawa anak dan keluarga yang mungkin selama ini tinggal jauh dari kampung.
Ajo Puri mengatakan, momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi orang tua memperkenalkan anak-anak mereka kepada keluarga besar di kampung.
Anak-anak dapat mengenal mamak, ajo, etek dan sanak saudara lainnya. Pertemuan yang mungkin hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu itu menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan kekerabatan.
“Adanya acara Mauluik Nabi ini menjadi momen religius yang identik dengan malamang dan membawa kebahagiaan,” tutupnya.
Tradisi yang Menjaga Ingatan Kolektif
Jika dilihat lebih jauh, kekuatan Mauluik di Padang Pariaman bukan hanya terletak pada kemeriahan acaranya.
Tradisi ini membuat generasi muda bersentuhan langsung dengan kebiasaan yang diwariskan orang tua dan niniak mamak mereka.
Anak-anak melihat bagaimana kaum berkumpul, bagaimana lamang dibuat, bagaimana makanan disiapkan, bagaimana tamu dilayani dan bagaimana masyarakat duduk bersama dalam satu rangkaian kegiatan keagamaan.
Di situlah tradisi bekerja sebagai ruang pewarisan nilai.
Malamang mengajarkan gotong royong. Bajamba mempertemukan masyarakat dalam kebersamaan. Badikie menjaga ekspresi keagamaan. Sementara pemberian makanan dan lamang menjadi bentuk berbagi kepada sesama.
Sejumlah sumber kebudayaan bahkan mencatat bahwa tradisi malamang di Padang Pariaman berkaitan dengan perkembangan dakwah Syekh Burhanuddin dan tetap hidup terutama dalam rangkaian kegiatan keagamaan masyarakat Piaman.
Di dalamnya terdapat sejarah panjang hubungan antara surau, ulama, kaum dan masyarakat.
Tradisi tersebut juga menunjukkan bagaimana masyarakat Padang Pariaman mempertahankan identitas lokal tanpa melepaskan dimensi religius yang menjadi dasar perayaannya.
Pada 2023, perayaan Maulid Nabi masyarakat Padang Pariaman bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Artinya, Mauluik bukan hanya milik satu keluarga atau satu surau. Ia telah menjadi bagian dari kekayaan budaya yang melekat pada masyarakat Padang Pariaman.
Mauluik dan Ruang Pertemuan Masyarakat
Pada 2026, tradisi tersebut kembali terlihat dalam rangkaian Mauluik Gadang Padang Pariaman.
Pada 24 Agustus 2026, misalnya, masyarakat melaksanakan tradisi malamang Mauluik Gadang. Warga bersama-sama menyiapkan lamang sebagai bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi berikutnya.
Sehari setelahnya, Pemkab Padang Pariaman melaporkan puncak Mauluik Gadang 2026 di halaman Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Selasa (25/8/2026).
Ribuan masyarakat hadir dan rangkaian kegiatan diisi antara lain dengan arak-arakan bungo lado, penerimaan jamba, badoncek, penerimaan lamang serta lantunan badikia.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa Mauluik terus berkembang, tetapi unsur utamanya tetap dipertahankan: agama, kebersamaan, gotong royong dan berbagi. (*)










