Covesia.co.id – Aktivitas digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak dan remaja turut menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan psikologis.
Penggunaan game online secara berlebihan hingga paparan judi online dinilai dapat memicu masalah perilaku dan tekanan psikologis apabila tidak dikendalikan.
Dosen Psikologi Sosial UIN Jakarta, Ikhwan Lutfi, mengatakan bullying, judi online, maupun aktivitas game online yang dilakukan secara berlebihan sama-sama berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kondisi psikologis anak.
Menurut Ikhwan, game maupun judi online pada awalnya dapat digunakan seseorang sebagai sarana hiburan atau pelarian dari tekanan.
Namun, ketika aktivitas tersebut mulai digunakan untuk mengatasi stres secara terus-menerus, muncul risiko terbentuknya pola perilaku yang tidak sehat.
Dalam konteks judi online, kekalahan dapat memunculkan rasa penasaran dan dorongan untuk kembali mencoba. Kondisi tersebut justru dapat memperbesar tekanan yang dialami anak.
“Penasaran dan stres ini kemudian membuat anak terus mengulang karena memiliki keyakinan yang salah bahwa segala sesuatu bisa dikontrol untuk menang,” ujar Ikhwan kepada Covesia.co.id, Kamis (13/8/2026)
Ikhwan menjelaskan, pola tersebut dapat berkembang menjadi kecanduan ketika seseorang terus mengulangi aktivitas demi mendapatkan kemenangan.
Dalam game maupun judi online, keberhasilan mendapatkan kemenangan dapat menciptakan keyakinan bahwa kemenangan berikutnya juga dapat diraih.
Padahal, khusus dalam perjudian, hasil permainan pada dasarnya tidak dapat dikendalikan oleh pemain.
Kondisi tersebut dapat membuat anak terus mencoba meskipun sebelumnya mengalami kekalahan. Pada tingkat yang lebih serius, dorongan untuk bermain dapat membuat seseorang mencari berbagai cara agar dapat kembali mencoba.
Karena itu, penting membedakan antara bermain game sebagai aktivitas hiburan dengan kondisi ketika bermain sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan gaming disorder ke dalam ICD-11. Kondisi tersebut ditandai dengan hilangnya kontrol terhadap aktivitas bermain, meningkatnya prioritas bermain dibandingkan aktivitas lain, serta tetap bermain meskipun telah menimbulkan konsekuensi negatif.
Diagnosis umumnya memerlukan pola perilaku yang menyebabkan gangguan signifikan terhadap kehidupan pribadi, keluarga, sosial atau pendidikan dan berlangsung setidaknya 12 bulan.
Artinya, tidak setiap anak yang bermain game dapat disebut mengalami gaming disorder. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan pola perilaku serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan anak.
Judi Online Mulai Menjangkau Anak
Persoalan menjadi semakin serius ketika aktivitas digital bersinggungan dengan perjudian.
Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukkan bahwa aktivitas judi online di Indonesia juga melibatkan kelompok usia muda.
Pada tahun 2024, PPATK mengidentifikasi 16,38 juta pemain judi online dengan total perputaran dana mencapai Rp359,81 triliun dalam lebih dari 209 juta transaksi.
Dalam data demografi yang disampaikan PPATK pada 2024, sekitar 80 ribu pemain judi online tercatat berusia di bawah 10 tahun, sedangkan kelompok usia 10 hingga 20 tahun mencapai sekitar 440 ribu orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan judi online tidak hanya berkaitan dengan orang dewasa. Anak dan remaja juga menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dan perlindungan.
Bullying Turut Memengaruhi Kondisi Psikologis Anak
Selain aktivitas digital, Ikhwan menyoroti persoalan bullying yang masih dapat ditemukan di lingkungan anak dan remaja.
Menurutnya, baik korban maupun pelaku bullying dapat menghadapi persoalan psikologis apabila perilaku tersebut tidak ditangani dengan baik.
Bullying dapat membuat anak merasa tertekan, tidak aman, dan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sosialnya. Sementara pada pelaku, perilaku agresif yang terus dibiarkan juga dapat menunjukkan adanya persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, penanganan bullying tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman. Anak perlu dibantu memahami dampak perilakunya, sekaligus mendapatkan lingkungan yang aman untuk membangun kemampuan sosial dan emosional.
Ikhwan juga menilai kerentanan psikologis anak dapat berkaitan dengan ketidaksiapan menghadapi kegagalan.
Anak yang sejak kecil terbiasa dituntut untuk selalu berhasil dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi kegagalan. Ketika ekspektasi tersebut tidak tercapai, anak dapat menganggap dirinya buruk atau tidak mampu.
“Anak tidak siap dan merasa menjadi orang yang buruk dan gagal. Kondisi ini menyebabkan anak tidak bisa menerima dirinya sendiri dan merasa buruk di mata orang lain,” jelas Ikhwan.
Kondisi tersebut dapat membuat anak mencari pelarian melalui aktivitas tertentu, termasuk penggunaan gawai secara berlebihan, game, maupun aktivitas digital lainnya.
Karena itu, kemampuan menerima kegagalan menjadi bagian penting dalam perkembangan psikologis anak. Anak perlu memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan bukan ukuran tunggal atas nilai dirinya.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Ikhwan menekankan pentingnya lingkungan keluarga dan sosial dalam membantu anak menghadapi tekanan.
Orang tua tidak hanya perlu mengawasi aktivitas digital, tetapi juga membangun komunikasi terbuka dengan anak.
Dengan komunikasi yang baik, orang tua dapat mengetahui perubahan perilaku, tekanan yang sedang dihadapi, maupun alasan anak menghabiskan banyak waktu di dunia digital.
Pengawasan juga perlu disertai batasan yang jelas mengenai penggunaan gawai, game, dan akses terhadap konten digital.
Di sisi lain, anak perlu diberikan ruang untuk bersosialisasi, beraktivitas secara fisik, belajar menghadapi kegagalan, serta mengembangkan kemampuan mengelola emosi.
Dengan pendekatan tersebut, aktivitas digital tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dilarang, tetapi sebagai bagian dari kehidupan anak yang perlu digunakan secara sehat dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, persoalan stres, bullying, game berlebihan, dan judi online pada anak tidak dapat diselesaikan hanya dengan membatasi penggunaan gawai.
Dibutuhkan keterlibatan orang tua, sekolah, lingkungan sosial, serta pendampingan yang tepat agar anak memiliki kemampuan menghadapi tekanan tanpa mencari pelarian yang justru dapat memperburuk kondisi psikologisnya. (*)











