Covesia.co.id – Ketika mendengar kata “Skateboard”, hal pertama yang terbesit di pikiran kamu pasti nggak jauh-jauh dari kata keren dan gaul banget, bukan?
Tapi, tahu nggak sih? Skateboard itu sebenarnya bisa dibilang “adik kandung” dari olahraga surfing, cuma mereka main di beda alam aja!
Kisah ini bermula di California Amerika Serikat pada era 1950-an. Ide kreatif ini muncul saat para pencinta surfing mati gaya karena kondisi laut sedang tenang dan tak berombak. Karena tetap ingin merasakan sensasi berselancar, muncul inovasi nekat: memasang roda pada papan kayu. Siapa sangka, eksperimen iseng di jalanan tersebut kini berevolusi menjadi fenomena olahraga yang mendunia.
Di Indonesia sendiri, tren ini awalnya dibawa pulang oleh anak-anak muda yang baru menyelesaikan studi atau berkunjung dari luar negeri. Perkembangannya makin melesat cepat ketika media massa kala itu gencar mengulas skena papan roda ini. Skateboard punya perjalanan sejarah yang panjang—dari yang semula dipandang sebelah mata sebagai kenakalan jalanan yang ekstrem, hingga akhirnya diakui resmi sebagai cabang olahraga prestasi.
Hari ini, fungsi olahraga memang sudah bergeser jauh. Nggak cuma urusan membakar kalori atau menjaga kebugaran jasmani, tetapi juga menjadi simbol budaya, gaya hidup, hingga identitas sosial. Skateboard adalah salah satu contoh nyata yang mengalami perkembangan paling pesat di kalangan anak muda, terutama Gen Z.
Skateboard saat ini sukses bertransformasi. Dari imej lama sebagai “olahraga ekstrem jalanan”, kini naik kelas menjadi gaya hidup ikonik dan estetik bagi Gen Z. Tak heran, lapangan dan skatepark kini dipenuhi oleh kreator Gen Z, baik laki-laki maupun perempuan.
Peran media sosial jelas nggak kaleng-kaleng dalam mendongkrak kembali popularitas aktivitas ini. Lewat konten video pendek, mereka memamerkan sisi kebebasan berekspresi, kreativitas trik, hingga solidnya ikatan komunitas yang asyik.
Dinukil dari Jurnal Jendela Olahraga Universitas PGRI Silampari, Selasa (30/6) kepopuleran skateboard di berbagai daerah bertumbuh subur dari inisiatif anak muda yang memanfaatkan ruang publik sebagai wadah berekspresi sekaligus tempat latihan.
Menariknya, dampak skateboard ternyata tidak sesederhana itu. Olahraga ini punya efek ganda (multiplier effect). Selain bermanfaat bagi para pelakunya, lingkungan sekitar pun ikut kecipratan berkah. Interaksi positif antara Gen Z dan masyarakat sekitar di ruang publik ini sukses mengundang para pelaku UMKM untuk ikut “membersamai” aktivitas mereka.
Melihat sisi lain dari selembar papan beroda ini menunjukkan adanya potensi besar dalam membuka peluang bagi roda ekonomi lokal. Keterlibatan Gen Z dalam ruang sosial memang nyata memberi dampak lebih: setiap aktivitas seru yang mereka lakukan selalu berhasil menciptakan peluang baru bagi hal-hal tidak terduga, termasuk urusan perputaran rupiah bagi pedagang kecil. (*)











