Covesia.co.id – Gaya hidup generasi muda yang dianggap tidak peduli terhadap situasi di negaranya kini sering disebut dengan istilah tone deaf.
Istilah ini merupakan kiasan untuk menggambarkan sikap seseorang, brand, maupun figur publik yang dianggap tidak peka atau acuh terhadap situasi sosial, terutama ketika terjadi krisis.
Saat negara masih diselimuti kabut asap, misalnya, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian bersama.
Di tengah situasi seperti ini, memamerkan kemewahan dan privilege tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain tentu menjadi sesuatu yang disayangkan.
Terlebih jika sikap tersebut ditunjukkan oleh seseorang yang memiliki pengaruh, termasuk seorang pemimpin.
Seseorang yang dianggap tone deaf dinilai kurang memiliki kepekaan emosional dan sosial. Mereka cenderung melakukan apa yang diinginkan tanpa mempertimbangkan keadaan di sekitarnya maupun perasaan orang lain.
Padahal, manusia adalah makhluk sosial. Kita hidup berdampingan, saling membutuhkan, dan sudah semestinya memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Sekilas, sikap tidak peduli mungkin terlihat sepele. Namun, jika terus dibiarkan, perilaku tersebut bisa menjadi sesuatu yang dianggap wajar.
Apalagi jika ditunjukkan oleh figur publik yang menjadi panutan. Apa yang mereka lakukan berpotensi ditiru oleh masyarakat.
Fenomena tone deaf juga bukan hanya milik figur publik. Masyarakat biasa pun dapat menunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketidakpedulian terhadap kondisi sekitar dapat memengaruhi orang-orang terdekat, mulai dari teman, tetangga hingga keluarga.
Istilah tone deaf kemudian sering dikaitkan dengan nir empati, karena menggambarkan kegagalan seseorang dalam menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami apa yang mereka rasakan.
Hilangnya kepekaan sosial juga bisa terjadi ketika seseorang terlalu sibuk mengejar pengakuan, pujian, dan jumlah likes di media sosial.
Dunia digital membuat kita mudah melihat apa yang ingin kita lihat, tetapi terkadang lupa dengan realitas yang terjadi di sekitar.
Karena itu, mari touch some grass—keluar sejenak dari ruang digital dan melihat langsung kehidupan di sekitar kita.
Kepedulian sosial tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga, teman, dan lingkungan terdekat.
Belajar memahami keadaan orang lain, menahan diri untuk tidak memamerkan privilege di tengah kesulitan orang lain, dan berani peduli terhadap persoalan sosial adalah bentuk sederhana dari kepekaan.
Sebab, segala sesuatu yang dimulai dari diri sendiri pada akhirnya akan kembali memberikan dampak kepada diri kita dan lingkungan tempat kita hidup. (*)











