Menu

Mode Gelap
Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana Sempat Buron, Jukir Penggelap Motor Rp18 Juta Diciduk di Bandar Purus Daftar 31 SPBU ‘ Nakal’ di Sumbar yang Disanksi Tegas Pertamina

Life Style

Dari Kampung Cina hingga Tragedi Kanso, Jejak Etnis Tionghoa di Pariaman

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Dari Kampung Cina hingga Tragedi Kanso, Jejak Etnis Tionghoa di Pariaman Perbesar

Covesia.co.id – Hari ini, hampir tidak ditemukan lagi komunitas Tionghoa yang menetap di Kota Pariaman. Namun, kondisi itu berbeda pada masa lalu.

Pariaman pernah menjadi tempat tinggal ratusan warga Tionghoa yang hidup dari aktivitas perdagangan dan berbaur dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan penelitian berjudul Peralihan Aset Etnis Tionghoa di Kota Pariaman (1945-1980) yang diterbitkan dalam Jurnal Kronologi Universitas Negeri Padang, lebih dari 400 warga Tionghoa tercatat tinggal di Pariaman pada 1945.

Mereka banyak bermukim di kawasan Pondok yang dikenal sebagai Kampung Cina.

Keberadaan warga Tionghoa tidak terlepas dari posisi Pariaman sebagai kota perdagangan.

Mereka datang terutama untuk berdagang dan menjadi penghubung perdagangan antara hasil bumi dari pedalaman Minangkabau dengan pedagang dari luar daerah.

Komunitas tersebut juga memiliki permukiman, tempat ibadah dan pemakaman.

Jejak itu menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa pernah menjadi bagian dari kehidupan Pariaman dalam waktu yang cukup panjang.

Namun, hubungan tersebut berubah pada masa pendudukan Jepang. Sejumlah warga Tionghoa dicurigai membantu atau memberikan informasi kepada tentara Jepang mengenai aktivitas pejuang.

Kecurigaan itu kemudian dikaitkan dengan peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Kanso atau Insiden Kanso.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah masyarakat Tionghoa di Pariaman. Namun, sejumlah sumber memiliki perbedaan mengenai waktu dan kronologi kejadian.

Cerita yang diwariskan masyarakat

Bagi sebagian warga Pariaman, kisah tentang hilangnya masyarakat Tionghoa masih diwariskan secara lisan.

Maini, warga asli Pariaman yang lahir pada 1972, mengaku tidak pernah melihat warga Tionghoa menetap di Pariaman sejak kecil.

Namun, ia mendengar cerita dari orang-orang terdahulu mengenai peristiwa pembunuhan dan pengusiran warga Tionghoa.

“Waktu masih kanak-kanak, ibuk tidak pernah melihat orang Cina. Tapi kami sudah dijelaskan bahwa orang Cina dulu dibantai dan diusir sehingga tidak ada satu pun orang Cina yang berani ke Pariaman,” ujar Maini kepada Covesia, Rabu (9/9/2026).

Cerita tersebut menunjukkan bahwa peristiwa masa lalu masih hidup dalam ingatan masyarakat. Namun, sejarah lisan tidak serta-merta dapat dianggap sebagai bukti tunggal untuk memastikan seluruh kronologi sejarah.

Komunitas Tionghoa tidak langsung hilang

Penelitian Universitas Negeri Padang memberikan gambaran yang lebih panjang.

Lebih dari 400 warga Tionghoa masih tercatat tinggal di Pariaman pada 1945. Artinya, keberadaan mereka tidak langsung berakhir setelah Tragedi Kanso.

Penelitian tersebut menyebut hilangnya komunitas Tionghoa dari Pariaman berlangsung secara bertahap.

Perubahan politik dan kebijakan pemerintah setelah revolusi kemerdekaan hingga berakhirnya Orde Lama ikut memengaruhi keberadaan mereka.

Setelah peristiwa 1965, penelitian tersebut tidak lagi menemukan orang Tionghoa yang tinggal di Pariaman. Aset yang ditinggalkan kemudian berpindah melalui proses nasionalisasi maupun jual beli dengan masyarakat.

Peneliti sejarah Erniwati juga pernah menyebut bahwa sejumlah cerita mengenai Kanso masih bersumber dari wawancara dan sejarah lisan.

Karena itu, belum seluruh detail peristiwa tersebut dapat dipastikan berdasarkan bukti tertulis.

Sementara itu, penulis buku Tragedi Kanso: Trauma Etnis Cina di Pariaman 1945,

Armaidi Tanjung, menyebut peristiwa tersebut berkaitan dengan pembunuhan sejumlah warga Tionghoa yang dituduh sebagai mata-mata Jepang.

Namun, ia juga menegaskan bahwa tidak seluruh masyarakat Tionghoa di Pariaman menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Dengan demikian, hilangnya komunitas Tionghoa dari Pariaman tidak bisa hanya dijelaskan sebagai akibat satu peristiwa pembunuhan atau pengusiran.

Tragedi Kanso menjadi salah satu titik penting, tetapi keberadaan masyarakat Tionghoa di Pariaman baru benar-benar menghilang setelah melalui rangkaian perubahan sosial dan politik yang berlangsung selama beberapa dekade.

Kini, jejak mereka masih dapat ditelusuri melalui kawasan yang dahulu dikenal sebagai Kampung Cina, makam Tionghoa serta cerita yang diwariskan masyarakat.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa Pariaman pernah menjadi ruang hidup bagi komunitas Tionghoa. Mereka datang sebagai pedagang, membangun kehidupan dan menjadi bagian dari aktivitas kota.

Komunitas itu kemudian perlahan menghilang. Yang tersisa kini adalah jejak fisik dan ingatan masyarakat tentang keberadaan mereka, termasuk kisah Tragedi Kanso yang hingga kini masih menjadi bagian dari sejarah Pariaman. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Polusi Akibat Karhutla, 4 Tanaman ini Bantu Jaga Kualitas Udara di Dalam Rumah

8 September 2026 - 16:51 WIB

Generasi Muda, Stop Tone Deaf

8 September 2026 - 10:32 WIB

Cerita Nama Nagari Sumani Kabupaten Solok, Berawal Dari Sebuah Sumur

5 September 2026 - 14:47 WIB

Air Terjun Lubuak Bulan, Hidden Gem Sumatera Barat yang Bikin Penasaran

5 September 2026 - 10:09 WIB

Sumbar Diselimuti Asap, Selain Air Putih Minuman Ini Cocok Untuk Melegakan Tenggorokan

5 September 2026 - 10:05 WIB

Trending Topik Life Style