Covesia.co.id – Setiap bulan Agustus, kita kembali melihat merah putih menghiasi berbagai sudut negeri.
Bendera dikibarkan, berbagai perlombaan digelar, dan semangat kemerdekaan kembali digaungkan.
Namun, di balik kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, ada satu hal yang seharusnya tidak kalah penting untuk kita rayakan, yakni identitas budaya yang menjadi bagian dari jati diri Indonesia.
Di Sumatera Barat, salah satu identitas itu adalah baju kuruang Minangkabau.
Momentum HUT RI seharusnya tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan, tetapi juga menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri.
Setelah Indonesia merdeka selama puluhan tahun, apakah kita masih cukup bangga menggunakan dan menjaga warisan budaya yang ditinggalkan para leluhur?
Pertanyaan itu penting, terutama ketika pakaian tradisional semakin jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Baju kuruang sesungguhnya bukan sekadar pakaian adat. Ia merupakan bagian dari identitas perempuan Minangkabau yang mengandung nilai kesopanan, kehormatan, dan keterikatan dengan adat.
Di dalamnya terdapat gambaran tentang bagaimana masyarakat Minangkabau memandang perempuan, keluarga, adat, dan lingkungan sosial.
Karena itu, sudah saatnya momentum HUT RI menjadi titik untuk menghidupkan kembali baju kuruang Minangkabau.
Bukan hanya sebagai pakaian yang dikenakan ketika ada acara adat, tetapi sebagai pakaian yang kembali memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat modern.
Menghidupkan kembali bukan berarti memaksa masyarakat kembali sepenuhnya kepada cara berpakaian masa lalu.
Zaman telah berubah. Model, bahan, warna dan desain tentu dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Tetapi nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya jangan sampai hilang.
Baju kuruang dapat dibuat lebih modern, lebih nyaman dan lebih sesuai dengan kebutuhan generasi hari ini tanpa kehilangan karakter Minangkabau.
Momentum kemerdekaan menjadi sangat tepat untuk memulainya.
Bayangkan jika setiap peringatan HUT RI di sekolah, kantor pemerintahan, kampus, perbankan, organisasi masyarakat hingga berbagai kegiatan publik di Sumatera Barat, masyarakat kembali mengenakan baju kuruang. Jalan-jalan tidak hanya dipenuhi merah putih, tetapi juga dipenuhi warna-warni pakaian tradisional Minangkabau.
Itu bukan sekadar pemandangan yang indah.
Itu adalah pernyataan budaya.
Sebuah pesan bahwa di tengah derasnya pengaruh budaya global, masyarakat Minangkabau masih mengenal siapa dirinya.
Dan justru di situlah hubungan antara kemerdekaan dan kebudayaan menjadi sangat kuat.
Indonesia merdeka bukan untuk membuat seluruh masyarakat menjadi seragam. Indonesia merdeka memberikan ruang bagi setiap daerah untuk mempertahankan dan mengembangkan identitas budayanya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Maka, mengenakan baju kuruang pada perayaan HUT RI bukanlah bentuk eksklusivitas kedaerahan. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari nasionalisme.
Sebab Indonesia menjadi Indonesia karena memiliki ribuan identitas budaya yang hidup berdampingan.
Merawat budaya Minangkabau berarti ikut merawat kekayaan Indonesia.
Hari ini, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana mempertahankan baju kuruang agar tidak hilang, tetapi bagaimana membuat generasi muda merasa bangga mengenakannya.
Jangan sampai baju kuruang hanya dikenali dari foto-foto lama, museum, acara adat atau pertunjukan budaya. Jangan sampai anak-anak Minangkabau lebih akrab dengan berbagai model pakaian dari budaya luar dibandingkan dengan pakaian tradisional daerahnya sendiri.
Karena itu, pelestarian harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih relevan dengan zaman.
Baju kuruang harus diberi ruang untuk berkembang. Para perancang busana dapat menghadirkan desain yang lebih modern. Sekolah dapat menjadikannya bagian dari pakaian pada momentum tertentu.
Pemerintah dan lembaga masyarakat dapat mendorong penggunaannya dalam berbagai kegiatan resmi. Sementara generasi muda dapat menjadi wajah baru yang menunjukkan bahwa pakaian tradisional tidak identik dengan sesuatu yang kuno.
Kita perlu mengubah cara pandang.
Baju kuruang bukan pakaian masa lalu. Baju kuruang adalah identitas yang bisa dibawa ke masa depan.
Dan momentum HUT RI adalah waktu yang tepat untuk memulai gerakan tersebut.
Kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirayakan dengan perlombaan dan upacara. Kemerdekaan juga dapat dirayakan dengan kembali mengenali akar kita sendiri.
Jika dahulu para pejuang berjuang agar bangsa ini memiliki masa depan, maka tugas generasi sekarang adalah memastikan bahwa masa depan itu tidak kehilangan jati dirinya.
Karena itu, memasuki momentum HUT RI, sudah saatnya Sumatera Barat kembali memberikan ruang yang lebih besar kepada baju kuruang Minangkabau.
Tetapi untuk membawa identitas masa lalu menuju masa depan.
Merah putih kita kibarkan sebagai simbol Indonesia. Baju kuruang kita kenakan sebagai identitas Minangkabau. Keduanya tidak bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi.
Sebab mencintai Indonesia tidak harus dengan meninggalkan budaya daerah.
Justru dengan menjaga budaya daerah, kita sedang menjaga salah satu bagian dari Indonesia. (*)










