Covesia.co.id – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar berencana merevitalisasi Benteng Van Der Capellen dan disiapkan untuk menjadi Museum Sejarah. Rencana ini sudah mendapat persetujuan dan anggaran dari Kementerian Kebudayaan RI.
Rencana ini mengingatkan kembali bagaimana sebuah situs Cagar Budaya memiliki makna dan perjalanan sejarah sebuah bangsa. Sebuah rencana positif yang bila dikemas dengan manajemen yang baik, bisa memberi edukasi untuk beberapa generasi selanjutnya.
Saksi Bisu Kerasnya Perang Paderi
Benteng Van Der Capellen adalah saksi bisu bagaimana kerasnya Perang Paderi (1803-1838) pada masa lalu. Pertempuran antara Kaum agama (Islam-red) dengan kaum adat Minang yang dibantu penjajah Belanda telah mengubah alur politik, militer, pendidikan dan kebudayaan di tanah Minang.
Bangunan berukuran 14 x 12 meter dengan ketebalan dinding 42 cm ini dibangun secara bertahap dari tahun 1822 hingga 1826 di Jantung Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Fungsinya sebagai benteng pertahanan kaum adat dan kolonial Belanda dari gempuran kaum agama.
Perang Paderi pecah karena adanya perselisihan pandangan antara Kaum Agama dan kaum Adat. Dimana kaum agama ingin menerapkan ajaran Islam secara ketat di tanah Minang.
Memang saat itu, budaya judi, minuman keras hingga perbuatan yang melanggar norma agama menjadi hal yang biasa ditengah masyarakat Minang. Semuanya dikemas dalam bentuk budaya dan adat. Kaum agama gerah dan merasa butuh menetralisir kembali adat dan budaya seperti ini.
Kaum adat pun menolak upaya yang ingin dilakukan oleh kaum agama. Alhasil, perselisihan yang awalnya cuma konflik sosial beralih ke konflik terbuka. Tidak adanya titik temu dalam musyawarah atas aspirasi kaum agama, membuat perselisiban semakin meruncing. Kedua kubu pun saling angkat senjata, dan perang pun pecah.
Di Kota Batusangkar saat ini, pernah berdiri Kerajaan Pagaruyung. Disinilah pusat adat dan budaya Minang diatur. Daerah ini selalu menjadi sasaran kaum agama. Selama perang Paderi, pertumpahan darah didominasi disekitar Kerajaan Pagaruyung.
Diawal perang Paderi, kekuatan Militer Kaum Agama jauh lebih unggul dari kaum adat. Kekalahan demi kekalahan memperkecil pengaruh Pagaruyung di masyarakat Minang saat itu. Posisi kian terdesak, sampai akhirnya para penghulu Minang minta Bantuan Belanda di Padang di tahun 1821.
Permintaan ini disambut baik oleh Belanda guna memperluas pengaruhnya di pedalaman Minangkabau.
Di bawah komando Kolonel A.T. Raaff, pasukan Belanda bergerak menuju Tanah Datar dan memilih sebuah bukit strategis di Batusangkar sebagai lokasi pembangunan benteng pertahanan permanen.
Lokasi tersebut dipilih karena berada di dataran yang lebih tinggi sehingga memungkinkan pengawasan terhadap jalur-jalur penting menuju pusat Kerajaan Pagaruyung.
Dari Barak Kayu Hingga Batu Permanen
Pembangunan benteng dimulai sekitar tahun 1822. Pada tahap awal, struktur pertahanan masih sangat sederhana, berupa pagar bambu dan kayu yang mengelilingi barak-barak pasukan.
Seiring semakin kuatnya posisi Belanda di pedalaman, benteng kemudian dibangun secara permanen menggunakan pasangan batu dan bata dengan dinding yang tebal. Penyelesaiannya berlangsung bertahap hingga tahun 1826.
Bangunan utama memiliki karakter arsitektur militer Belanda yang sederhana namun kokoh, lengkap dengan parit pertahanan yang mengelilingi kompleks benteng.
Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort van der Capellen, diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen, yang memimpin Hindia Belanda pada periode 1816-1826.
Penamaan benteng mengikuti tradisi kolonial Belanda yang lazim mengabadikan nama pejabat tinggi pemerintahan pada fasilitas-fasilitas strategis. Bahkan, nama benteng ini kemudian digunakan sebagai nama administratif kawasan Batusangkar selama masa kolonial, sehingga kota Batusangkar sebelumnya dikenal sebagai Fort van der Capellen selama lebih dari satu abad.
Magnet Pembangunan Kota Batusangkar
Keberadaan benteng menjadi titik awal perubahan wajah Kota Batusangkar. Sebelum kedatangan Belanda, kawasan ini hanyalah sebuah pusat permukiman dan pasar rakyat yang berada tidak jauh dari bekas pusat Kerajaan Pagaruyung.
Setelah benteng berdiri, Belanda membangun berbagai fasilitas pendukung seperti kantor pemerintahan, rumah pejabat kolonial, tangsi militer, jalan penghubung, hingga pusat perdagangan.
Dengan demikian, benteng bukan hanya berfungsi sebagai instalasi militer, tetapi juga menjadi inti pertumbuhan kota kolonial di pedalaman Minangkabau. Kajian sejarah perkotaan menunjukkan bahwa perkembangan Batusangkar modern berawal dari pembangunan Fort van der Capellen tersebut.
Selama Perang Padri berlangsung, benteng menjadi basis operasi militer Belanda. Dari lokasi inilah berbagai ekspedisi dilancarkan untuk menguasai wilayah-wilayah lain di pedalaman Sumatera Barat.
Benteng berfungsi sebagai tempat penyimpanan logistik, markas pasukan, sekaligus pusat komunikasi militer. Dengan posisi geografis yang strategis, Belanda mampu mempertahankan pengaruhnya di Tanah Datar dan secara bertahap memperluas kekuasaan hingga perang berakhir pada tahun 1836.
Beralih Ke Berbagai Peran
Memasuki paruh kedua abad ke-19, fungsi benteng mulai bergeser. Ketika situasi keamanan relatif stabil, kawasan Fort van der Capellen berkembang menjadi pusat administrasi pemerintahan kolonial.
Di sekitar benteng berdiri kantor-kantor pemerintahan, rumah dinas pejabat, hingga kawasan perdagangan yang menjadi cikal bakal pusat Kota Batusangkar saat ini.
Kehadiran benteng turut mengubah pola tata ruang kota yang sebelumnya berpusat pada pasar tradisional menjadi kota administratif bergaya kolonial.
Memasuki abad ke-20, Batusangkar semakin berkembang sebagai pusat pemerintahan di pedalaman Sumatera Barat. Tahun 1913 menjadi tonggak penting ketika Batusangkar ditetapkan sebagai distrik dalam struktur administrasi Hindia Belanda.
Benteng Van der Capellen tetap menjadi simbol kekuasaan kolonial sekaligus penanda identitas kota. Pada masa inilah infrastruktur seperti jalan, fasilitas umum, dan pusat perdagangan mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Perubahan besar kembali terjadi ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Pemerintahan Hindia Belanda runtuh, dan Benteng Van der Capellen beralih fungsi menjadi markas militer Jepang. Seperti banyak bangunan kolonial lainnya, benteng dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan dan administrasi militer selama masa pendudukan.
Meski demikian, struktur utama bangunan relatif tetap dipertahankan oleh Militer Jepang sehingga tidak mengalami perubahan arsitektur yang signifikan.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, benteng memasuki babak sejarah baru.
Bangunan ini digunakan oleh pasukan keamanan Republik Indonesia sebagai markas pertahanan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, benteng sempat kembali dikuasai Belanda sebelum akhirnya sepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia setelah pengakuan kedaulatan. Peristiwa tersebut menjadikan Benteng Van der Capellen sebagai saksi pergantian kekuasaan dari kolonial menuju negara merdeka.
Menariknya, setelah tidak lagi digunakan sebagai instalasi militer, benteng memperoleh fungsi yang jauh berbeda.
Pada dekade 1950-an, bangunan ini dimanfaatkan sebagai lokasi Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Batusangkar yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan Universitas Negeri Padang.
Perubahan fungsi ini memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan yang awalnya dibangun untuk kepentingan perang justru beralih menjadi tempat mencetak tenaga pendidik bagi Indonesia yang baru merdeka.
Setelah itu, Benteng Van der Capellen kembali mengalami transformasi sebagai kantor Kepolisian Resor Tanah Datar. Fungsi tersebut berlangsung cukup lama hingga awal dekade 2000-an. Selama periode ini, beberapa bagian bangunan mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan operasional tanpa menghilangkan bentuk dasar arsitektur kolonialnya.
Namun usia bangunan yang semakin tua menyebabkan sejumlah bagian mulai mengalami kerusakan akibat minimnya perawatan.
Kesadaran akan pentingnya nilai sejarah benteng mendorong pemerintah melakukan upaya pelestarian. Sejak 2007 hingga 2010, Balai Pelestarian Cagar Budaya bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melaksanakan restorasi secara bertahap.
Pekerjaan dimulai dari pembersihan kawasan, penelitian arkeologis, dokumentasi bangunan, hingga pemugaran fisik dengan mempertahankan bentuk asli.
Pendekatan konservasi dilakukan secara hati-hati agar keaslian material dan karakter arsitektur kolonial tetap terjaga.
Kini Benteng Van der Capellen telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya nasional. Saat ini benteng dimanfaatkan sebagai kantor Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar, sekaligus menjadi pusat informasi wisata dan ruang kegiatan seni budaya.
Di dalam kompleks benteng juga terdapat ruang pamer yang memperkenalkan sejarah Minangkabau serta perjalanan panjang kawasan Batusangkar kepada masyarakat dan wisatawan.
Secara arsitektur, benteng ini memang tidak sebesar benteng-benteng kolonial di kota-kota pesisir seperti Fort Rotterdam di Makassar atau Vastenburg di Surakarta. Namun justru kesederhanaannya menjadi ciri khas.
Bangunan utama memiliki dinding yang tebal, ruang-ruang tahanan, serta parit pertahanan yang dahulu mengelilingi kompleks. Posisinya di atas bukit memberikan keuntungan strategis untuk mengawasi wilayah sekitar sekaligus menjadi titik pertahanan alami.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Benteng Van der Capellen menjadi simbol perjalanan sejarah yang kompleks.
Ia lahir dari konflik internal masyarakat Minangkabau, menjadi alat ekspansi kolonial Belanda, berubah menjadi markas Jepang, kemudian menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah masa perang berlalu, benteng justru mengabdi bagi dunia pendidikan, pelayanan publik, dan akhirnya pelestarian warisan budaya.
Sejarah benteng ini juga memperlihatkan bahwa warisan kolonial tidak selalu dimaknai sebagai simbol penjajahan semata.
Dalam perspektif sejarah modern, bangunan seperti Benteng Van der Capellen merupakan sumber informasi penting untuk memahami dinamika sosial, politik, dan budaya masyarakat Minangkabau selama dua abad terakhir.
Melalui benteng ini, generasi sekarang dapat melihat bagaimana sebuah wilayah berkembang dari pusat kerajaan tradisional menjadi kota kolonial, lalu tumbuh sebagai daerah administratif Indonesia yang tetap mempertahankan identitas budayanya.
Di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Tanah Datar untuk merevitalisasi kawasan ini sebagai museum sejarah dan destinasi wisata budaya, Benteng Van der Capellen memiliki peluang besar menjadi ruang edukasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Bangunan yang dahulu dibangun sebagai simbol kekuatan militer kini justru berpotensi menjadi simbol pelestarian sejarah, tempat masyarakat mempelajari perjalanan panjang Minangkabau sekaligus memahami bagaimana sejarah membentuk wajah Batusangkar yang dikenal hingga hari ini. (*)











