Menu

Mode Gelap
Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Ditebus Rp 100 Juta, Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dievakuasi Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif Pemko Padang Matangkan Persiapan Menuju Kota Gastronomi Dunia

Life Style

Vasektomi: Prosedur Pengendali Angka Kelahiran Minim Efek Samping yang Masih Sering Disalahpahami

badge-check

Vasektomi: Prosedur Pengendali Angka Kelahiran Minim Efek Samping yang Masih Sering Disalahpahami Perbesar

Covesia.co.id – Vasektomi masih menjadi salah satu metode kontrasepsi yang paling sering disalahpahami di masyarakat. Tidak sedikit pria yang menganggap prosedur ini dapat menghilangkan kejantanan, menurunkan gairah seksual, bahkan menyebabkan impotensi. Padahal, anggapan tersebut tidak sesuai dengan fakta medis.

Sebagai salah satu metode kontrasepsi permanen bagi pria, vasektomi justru dikenal sebagai prosedur sederhana, aman, dan memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi dalam mencegah kehamilan. Sayangnya, berbagai mitos yang beredar membuat angka pria yang bersedia menjalani vasektomi masih tergolong rendah dibandingkan metode kontrasepsi lain.

Vasektomi memang sebuah tindakan medis yang memotong atau menutup saluran sperma.  Setelah prosedur dilakukan, sperma tidak lagi ikut keluar saat ejakulasi. Cairan mani tetap diproduksi seperti biasa, hanya saja tidak lagi mengandung sperma sehingga tidak dapat membuahi sel telur.

Prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter urologi atau dokter bedah dengan anestesi lokal dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit. Sebagian besar pasien bahkan diperbolehkan pulang pada hari yang sama usah dilakukan prosedur Vasektomi.

Munculnya “Vasektomi” ke permukaan, karena angka kelahiran tidak terkendali di suatu wilayah. Pasangan suami istri menghindari pemakaian alat kontrasepsi karena bisa mengundang efek samping. Alhasil, terjadi pembuahan yang tidak terkendali.

Namun, Vasektomi tidak begitu diminati oleh kaum pria. Banyak hal yang menjadi pertimbangan dan alasan. Termasuk paradigma kuno yang menyebutkan pria akan kehilangan kenikmatan organisme dan ereksi saat berhubungan intim, pelemahan kejantanan, dan banyak mitos lainnya.

Faktanya, yang tidak keluar hanyalah sel sperma. Sementara cairan mani tetap diproduksi oleh tubuh karena sebagian besar volumenya berasal dari kelenjar prostat dan vesikula seminalis, bukan dari testis.

Secara kasat mata, ejakulasi setelah vasektomi hampir tidak memiliki perbedaan dengan sebelumnya.

Dengan kata lain, pria yang telah menjalani vasektomi tetap normal seperti biasa. Hanya saja sperma tidak aka nada lagi di dalam air mani.

Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa vasektomi tidak meningkatkan risiko disfungsi ereksi maupun penurunan libido.

Tidak Langsung Mandul

Banyak orang mengira vasektomi langsung membuat pria tidak subur setelah operasi selesai. Padahal, sperma masih dapat tersisa di saluran reproduksi selama beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah tindakan dilakukan.

Karena itu, pasangan tetap disarankan menggunakan alat kontrasepsi lain hingga hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa cairan mani benar-benar sudah bebas dari sperma.

Biasanya dokter akan meminta pemeriksaan analisis semen sekitar 8 hingga 12 minggu setelah operasi atau setelah sejumlah kali ejakulasi.

Dokter umumnya menyarankan vasektomi bagi pria yang telah memiliki jumlah anak sesuai rencana atau benar-benar yakin tidak ingin memiliki keturunan lagi.

Meskipun terdapat prosedur penyambungan kembali saluran sperma (vasectomy reversal), keberhasilannya tidak selalu tinggi dan memerlukan operasi yang lebih rumit serta biaya yang jauh lebih besar.

Karena itu, vasektomi sebaiknya dipandang sebagai metode kontrasepsi permanen.

Kesadaran Vasektomi di Indonesia Tergolong Rendah

Rendahnya angka vasektomi di berbagai negara, termasuk Indonesia, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya dibanding alasan medis.

Masih banyak masyarakat yang mengaitkan vasektomi dengan hilangnya kejantanan, padahal keduanya tidak memiliki hubungan secara ilmiah.

Selain itu, tanggung jawab penggunaan kontrasepsi selama ini masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan, sehingga partisipasi pria dalam program keluarga berencana belum optimal.

Pakar kesehatan menilai edukasi yang benar mengenai vasektomi sangat penting agar masyarakat tidak lagi terjebak pada informasi yang keliru.

Dengan memahami bahwa prosedur ini aman, tidak memengaruhi fungsi seksual, serta memiliki tingkat efektivitas yang sangat tinggi, diharapkan semakin banyak pasangan dapat memilih metode kontrasepsi berdasarkan informasi yang benar dan pertimbangan medis, bukan karena mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, keputusan menjalani vasektomi merupakan pilihan pribadi yang sebaiknya didiskusikan secara matang antara suami, istri, dan tenaga kesehatan. Dengan informasi yang akurat, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak demi kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga yang lebih. (*)

Safira Ariel Putri – Wartawan Covesia.co.id

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Kebiasaan Minum Teh di Pagi Hari Ternyata Miliki Banyak Manfaat

29 Juli 2026 - 09:31 WIB

MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Wajib Beri Pilihan Layanan

25 Juli 2026 - 12:14 WIB

Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026 Segera Dibuka, Ini Tahapan Seleksinya

20 Juli 2026 - 18:03 WIB

Kala Jamu Mulai Jadi Gaya Hidup Sehat Anak Muda

20 Juli 2026 - 17:54 WIB

Makin Dewasa Makin Susah Fokus, Kenali Tanda ADHD Ini

20 Juli 2026 - 13:03 WIB

Trending Topik Life Style