Covesia.co.id – Ketidakpastian ekonomi masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia.
Tekanan terhadap perekonomian mulai dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Di tengah meningkatnya biaya hidup, pengaturan anggaran yang disiplin dinilai menjadi langkah penting agar kondisi finansial keluarga tetap stabil.
Perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, menekankan bahwa pengeluaran sebaiknya diprioritaskan pada kebutuhan utama.
Menurutnya, penghematan tetap dapat dilakukan meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, misalnya dengan lebih sering memasak di rumah dibandingkan membeli makanan di luar.
Selain kebutuhan pangan, masyarakat juga disarankan memprioritaskan biaya transportasi, kebutuhan rumah tangga, serta menghindari pembelian yang bersifat impulsif. Penyusunan anggaran bulanan dinilai mampu membantu mengontrol pengeluaran sekaligus mencegah pemborosan.
Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho. Ia mengatakan bahwa kemampuan menentukan skala prioritas merupakan kunci dalam menjaga kesehatan keuangan.
Pengeluaran wajib seperti cicilan utang, tagihan listrik dan air, hingga biaya pendidikan anak harus menjadi prioritas sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan lainnya.
Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, pengeluaran untuk konsumsi harian, transportasi kerja, dan kebutuhan anak dapat disesuaikan dengan kemampuan keuangan.
Sementara itu, anggaran untuk hiburan dan gaya hidup sebaiknya dikurangi selama kondisi ekonomi belum menunjukkan perbaikan.
Dalam mengatur anggaran, Tejasari menyarankan komposisi sekitar 40 persen untuk kebutuhan rutin, maksimal 30 persen untuk pembayaran utang, minimal 10 persen untuk tabungan atau investasi, dan 20 persen untuk kebutuhan pribadi.
Namun, pembagian tersebut tetap dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Bagi mereka yang tidak memiliki cicilan, misalnya, porsi tabungan dan investasi dapat ditingkatkan.
Sementara itu, Andy Nugroho menawarkan pola alokasi yang berbeda, yakni 55 persen pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk cicilan, 10 persen untuk tabungan atau investasi, 10 persen dana darurat, 10 persen pengembangan diri, 10 persen hiburan, dan 5 persen untuk kegiatan sosial atau donasi.
Selain pengaturan anggaran, keberadaan dana darurat dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu. Dana tersebut berfungsi sebagai cadangan apabila terjadi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, maupun kebutuhan mendesak lainnya.
Idealnya, dana darurat mencapai tiga hingga enam kali total pengeluaran bulanan. Untuk membangunnya, masyarakat dapat menyisihkan sedikitnya 10 persen dari penghasilan secara rutin.
Dana tersebut sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan, seperti tabungan, deposito, emas, atau reksa dana pasar uang.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau menghindari utang konsumtif karena berpotensi menjadi beban yang semakin berat ketika suku bunga meningkat.
Bagi yang telah memiliki pinjaman, restrukturisasi atau percepatan pelunasan terhadap utang berbunga tinggi dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko keuangan.
Perlindungan melalui asuransi juga dinilai penting untuk mengantisipasi risiko yang dapat mengganggu kondisi finansial, seperti sakit maupun kecelakaan.
Sementara itu, bagi masyarakat yang telah memiliki kondisi keuangan yang stabil, investasi pada instrumen berisiko rendah seperti emas dan reksa dana pasar uang dapat menjadi alternatif untuk menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi.
Masyarakat juga diingatkan agar memilih produk investasi yang legal dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta memastikan dana simpanan ditempatkan pada bank yang menjadi peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Selain menghemat pengeluaran, membuka sumber penghasilan tambahan juga menjadi langkah yang dapat memperkuat ketahanan finansial keluarga.
Peluang tersebut dapat diperoleh melalui pekerjaan lepas, usaha mikro, maupun penjualan produk secara daring yang kini semakin mudah dilakukan berkat perkembangan teknologi digital.
Pada akhirnya, meningkatkan literasi keuangan menjadi bekal penting agar masyarakat mampu mengambil keputusan finansial secara tepat.
Dengan disiplin menjalankan anggaran, memperkuat dana darurat, mengelola utang secara bijak, dan memanfaatkan peluang menambah penghasilan, masyarakat diharapkan mampu menjaga kondisi keuangan tetap sehat meski berada di tengah ketidakpastian ekonomi. (*)











