Menu

Mode Gelap
KONI Agam Siapkan Rp3,4 Miliar untuk Hadapi Porprov XVI 2026 Aplikasi Cek Pemilih Pilwana Pasaman Barat Diluncurkan, Warga Diminta Pastikan NIK dan TPS Erupsi Sinabung Tak Berdampak Langsung ke Gunung Api di Sumbar Kader Kesehatan Padang Dilatih Percepat Temuan Kasus TBC Diduga Curi Burung Seharga Rp5 Juta, Remaja di Padang Ini Diciduk Tim Klewang Polres Pariaman Tangkap Perampok Sopir Truk Inti Sawit, Korban Disekap dan Diikat

Budaya

Ruang Setara Empat Etnis: Cerita Hamad dan Faldilla di Padang Gastronomy Market

Fitratul Husnabadge-check

Ruang Setara Empat Etnis: Cerita Hamad dan Faldilla di Padang Gastronomy Market Perbesar

Covesia.co.id – Padang Gastronomy Market 2026 tidak hanya menjadi ruang promosi kuliner dan penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM, tetapi juga menjadi panggung keberagaman etnis yang telah menjadi bagian dari sejarah Kota Padang.

Festival yang digelar Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Koperasi dan UKM pada 7–10 Agustus 2026 di kawasan Kota Tua Padang itu menghadirkan kuliner dari empat etnis, yakni Minang, Tionghoa, India, dan Nias.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Sejumlah pelaku UMKM bahkan mengaku mengalami peningkatan penjualan sejak hari pertama festival.

Salah satunya Hamad (40), warga asal Pakistan yang telah menetap di Padang dan menemukan pasangan hidupnya di kota ini. Dalam festival tersebut, Hamad menyajikan panipuri, jajanan kaki lima yang populer di Pakistan dan memiliki akar sejarah dari kawasan India kuno.

Bagi Hamad, keikutsertaan dalam Padang Gastronomy Market tahun ini terasa berbeda dibandingkan sebelumnya.

Ia menilai, penyelenggaraan tahun ini memberikan ruang yang lebih besar bagi kuliner dari berbagai etnis untuk tampil dan dikenal masyarakat.

“Ini kali kedua saya ikut festival kuliner Kota Padang. Sebelumnya semua dicampur sehingga tidak terlihat mana makanan khas dan makanan autentik. Di tahun ini sudah ada dorongan lebih untuk memperkenalkan makanan dari etnis lainnya yang ada di Padang,” kata Hamad kepada Covesia.co.id, Sabtu (8/8/2026).

Ia mengaku senang karena panipuri yang dijualnya mendapat sambutan positif dari pengunjung. Bahkan, dagangannya habis lebih cepat pada hari pertama pelaksanaan festival.

Menurut Hamad, keberadaan ruang khusus bagi kuliner berbagai etnis tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan identitas kuliner masing-masing kepada masyarakat.

“Tahun ini lebih spesial karena ada highlight untuk etnis-etnis yang berada dalam sejarah Kota Padang, sehingga kami juga punya kesempatan untuk menonjolkan makanan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar meningkatkan penjualan, Hamad melihat festival tersebut sebagai bentuk keterbukaan dan kesetaraan bagi pelaku UMKM dari kelompok minoritas.

Ia mengapresiasi kesempatan yang diberikan pemerintah kepada pelaku usaha dari berbagai latar belakang untuk ikut mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi dan budaya di Kota Padang.

“Selain semakin dikenal makanan asal Pakistan, saya merasa untuk minoritas seperti saya tidak dibedakan dan punya hak yang sama dalam menjalankan usaha,” katanya.

Menyatukan Keberagaman Dalam Kuliner

Semangat keberagaman tersebut juga dirasakan Faldilla (40), rekan satu teman Hamad yang turut menyajikan kuliner khas India dalam festival tersebut.

Perempuan keturunan India generasi ketiga itu menilai Padang Gastronomy Market memberikan manfaat dari dua sisi sekaligus, yakni sebagai ruang promosi usaha dan tempat mempererat hubungan antarmasyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Saya juga untung dengan adanya festival ini. Selain kami menjalankan usaha, juga sangat kental semangat kebersamaan dan kekeluargaan dengan warga Minang, Tionghoa, Nias, dan bahkan saya juga bersatu kembali dengan saudara yang di Pakistan dalam satu tenan,” kata Faldilla.

Menurutnya, keberadaan kuliner dari berbagai etnis dalam satu festival memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat makanan sekaligus budaya yang melatarbelakanginya.

Bagi Faldilla, makanan bukan sekadar produk yang diperjualbelikan. Kuliner juga dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan keberagaman sekaligus membangun interaksi antara masyarakat dari berbagai latar belakang.

Ia berharap ruang seperti Padang Gastronomy Market dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak kuliner autentik dari berbagai komunitas yang dikenal oleh masyarakat luas.

Moment Pengikisan Stigma Lama

Di balik semarak festival, Hamad dan Faldilla juga membawa harapan lain. Keduanya ingin kesempatan memperkenalkan kuliner Pakistan dan India secara langsung kepada masyarakat dapat membantu mengikis anggapan negatif yang masih muncul terkait kebersihan makanan dari kedua negara tersebut.

Menurut mereka, interaksi secara langsung antara penjual dan pembeli dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat proses penyajian, mengenal bahan yang digunakan, sekaligus mencicipi makanan yang ditawarkan.

Dengan begitu, mereka berharap penilaian terhadap kuliner Pakistan dan India tidak lagi dibangun berdasarkan stigma, tetapi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masyarakat setelah mengenalnya secara langsung.

“Semoga melalui festival ini kami perlahan dapat menghilangkan pikiran yang menganggap makanan Pakistan dan India itu tidak higienis,” tutup Faldilla dan Hamad.

Padang Gastronomy Market 2026 pada akhirnya tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli. Festival ini juga mempertemukan cerita, identitas, dan budaya yang berbeda dalam satu ruang.

Di tengah keberagaman tersebut, Hamad dan Faldilla menemukan bahwa kuliner dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menunjukkan bahwa perbedaan etnis bukan penghalang untuk tumbuh dan berdagang dalam ruang yang sama. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin

31 Agustus 2026 - 13:27 WIB

Lomba Mural Wisata di Padang Selatan, 18 Karya Masuk Final

29 Agustus 2026 - 21:29 WIB

Makna Lamang Bagi Masyarakat Padang Pariaman Dalam Mauluik Nabi

29 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Dengan Mural, Dinding Tak Terawat Disulap Jadi Media Promosi Wisata Padang Selatan

29 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Makam Syekh Burhanuddin Ditetapkan Jadi Cagar Budaya Nasional

29 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Trending Topik Budaya