Menu

Mode Gelap
Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif Pemko Padang Matangkan Persiapan Menuju Kota Gastronomi Dunia Pameran Foto Bencana Hidrometeorologi di Istano Basa Pagaruyung, PFI : Pengingat Mitigasi Bencana Muncul Petisi Larang Argentina Tampil Piala Dunia Selamanya, Tembus 23 Tanda Tangan

Budaya

Pitih Japutan Adat Pariaman: Simbol Saling Memuliakan, Bukan Ajang Nilai Harga Diri

badge-check

Foto Ilustrasi: Istimewa Perbesar

Foto Ilustrasi: Istimewa

Covesia.co.id – Siapa di antara Anda yang kemarin sempat menghadiri Festival Tabuik di Pariaman?

Berbicara tentang Pariaman memang identik dengan kentalnya tradisi. Namun, jika dikupas lebih dalam, khazanah budaya Pariaman tidak melulu soal Tabuik. Ada tradisi ikonik lain yang tak kalah menarik untuk diulas: budaya pernikahan.

Salah satu yang paling melekat adalah istilah “pitih japutan” (uang jemputan). Secara harfiah, ini adalah pemberian benda berharga, biasanya berupa emas atau uang dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki sebelum pernikahan berlangsung, sebagai simbol keseriusan untuk melangkah ke pelaminan.

Dalam perjalanannya, tradisi uang japutan sering kali disalahartikan. Pemikiran bahwa “seharusnya laki-lakilah yang memberi kepada perempuan” pasti langsung terlintas bagi masyarakat awam yang baru mendengar adat ini. Padahal, adat Pariaman punya cara tersendiri dalam memuliakan dan melindungi kaum perempuan.

Pemberian ini sejatinya berfungsi sebagai bentuk perlindungan bagi istri di kemudian hari. Dengan adanya japutan, suami diingatkan untuk tidak bertindak semena-mena tatkala biduk rumah tangga diterpa badai atau tidak berjalan baik-baik saja.

Dinukil dari Jurnal Sosial dan Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Selasa (30/6) tradisi uang japutan dipandang sebagai manifestasi dari kuatnya sistem matrilinear di tengah masyarakat Pariaman dan Padang Pariaman. Seiring perkembangan zaman, penentuan nominal pitih japutan saat ini ikut dipengaruhi oleh faktor pendidikan, latar belakang keluarga, kepribadian, hingga pekerjaan sang calon pengantin pria.

Modal Awal Rumah Tangga dan Nilai Gotong Royong
Filosofi terdalam dari pitih japutan sebenarnya adalah modal awal bagi pasangan baru untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Pada prinsipnya, tradisi ini bertujuan untuk saling memuliakan kedua belah keluarga.

Untuk mencapai kesepakatan nominal, keluarga besar biasanya bersandar pada nilai gotong royong. Sayangnya, esensi kegotongroyongan inilah yang perlahan mulai memudar, sehingga memicu pergeseran tafsir di tengah masyarakat.

Lantas, bagaimana jika besaran pitih japutan tidak mencapai titik temu?

Pada realitasnya, kasus gagalnya pernikahan akibat ketidaksepakatan uang japutan sangat jarang ditemui. Sebab, aturan ini tidak bersifat dogmatis atau kaku. Musyawarah mufakat selalu menjadi jalan keluar terbaik.

Bahkan dalam beberapa kasus, jika calon pengantin pria benar-benar mencintai kekasihnya, ia secara diam-diam akan memberikan modal pitih japutan kepada calon istrinya. Uang itulah yang nantinya diserahkan kembali oleh pihak perempuan kepada keluarga laki-laki saat prosesi adat. Hal cerdik ini sah-sah saja dilakukan, karena pitih japutan bukanlah sesuatu yang wajib diumumkan ke publik.

Tantangan di Era Modern
Kembali lagi pada realitas hari ini: makna pitih japutan perlahan bergeser menjadi simbol harga diri yang diukur semata-mata dari nominal angka. Efeknya, nilai simbolis sebagai alat untuk saling memuliakan pun lambat laun terkikis. Perubahan tafsir ini menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dihindari di tengah gempuran modernisasi yang mustahil untuk dibendung. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Di Tengah Gempuran Kopi Modern, Kawa Daun Tetap Jadi Kebanggaan Minangkabau

28 Juli 2026 - 15:59 WIB

Padang Timur Optimistis Hadapi Lomba Desawisma, Kubu Marapalam Jadi Andalan

26 Juli 2026 - 14:04 WIB

Tolak PETI, Ratusan Warga Gunung Malintang Sweeping Lokasi Tambang

26 Juli 2026 - 12:08 WIB

Terpilih Secara Aklamasi, Mulyadi Kembali Nahkodai DPD Partai Demokrat Sumbar

26 Juli 2026 - 09:48 WIB

Kopi Tatungkuik, Sensasi Menikmati Kopi Terbalik Khas Malalak yang Sarat Tradisi dan Filosofi

24 Juli 2026 - 11:16 WIB

Trending Topik Budaya