Covesia.co.id – Fenomena orang tua membagikan prestasi anak di media sosial (flexing-red) perlu disikapi secara bijak.
Di balik rasa bangga yang ingin ditunjukkan, kebiasaan tersebut dapat memunculkan tekanan psikologis bagi anak apabila diikuti ekspektasi yang terlalu tinggi.
Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Zadrian Ardi, S.Pd., M.Pd., Kons., mengatakan kebanggaan orang tua terhadap prestasi anak merupakan hal yang wajar. Namun, ketika pencapaian itu terus dipamerkan dan dijadikan tolak ukur keberhasilan, anak berpotensi mengalami stres akademik.
Menurut Zadrian, stres akademik tidak hanya dipicu oleh banyaknya tugas kuliah atau tuntutan memperoleh nilai tinggi.
Berdasarkan kajian dan pengalaman mendampingi mahasiswa di Laboratorium Bimbingan dan Konseling UNP, tekanan juga kerap muncul akibat ekspektasi orang tua yang tidak dikomunikasikan dengan baik.
“Orang tua punya ekspektasi tertentu pada anak, sementara anak tidak memahami ekspektasi itu seperti apa. Ketika komunikasi tidak berjalan, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan bagi anak,” ujar Zadrian.
Guru besar termuda UNP yang konsentrasi di bidang Teknologi dan Media ini menjelaskan stres akademik memiliki sejumlah indikator. Mulai dari tekanan menyelesaikan tugas, tuntutan memperoleh nilai yang baik, rasa takut gagal, hingga harapan tinggi yang datang dari diri sendiri maupun keluarga..
Ia mengungkapkan, banyak mahasiswa memilih memendam tekanan yang mereka alami daripada menceritakannya kepada orang lain.
Akibatnya, masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan sejak dini justru berkembang menjadi beban psikologis yang lebih berat.
“Banyak mahasiswa sebenarnya mampu menyelesaikan studinya, tetapi mereka terjebak dalam tekanan untuk memenuhi harapan orang tua maupun target yang mereka tetapkan sendiri,” katanya.
Berdasarkan pengalaman memberikan layanan konseling, Zadrian menemukan sejumlah mahasiswa terlambat menyelesaikan studi bukan karena tidak mampu secara akademik. Melainkan karena takut mengungkapkan kondisi sebenarnya kepada keluarga.
“Ada yang mengaku sudah mengerjakan skripsi, padahal belum memulainya sama sekali karena khawatir mengecewakan orang tua,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengatakan beberapa mahasiswa yang datang ke layanan konseling bahkan telah mengalami tekanan psikologis cukup berat.
Tidak sedikit yang harus mengonsumsi obat tidur maupun obat psikiatri akibat stres akademik yang terus menumpuk tanpa mendapatkan penanganan sejak awal.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini dan pendampingan psikologis agar stres akademik tidak berkembang menjadi depresi maupun gangguan kesehatan mental lainnya.
Selain faktor keluarga, Zadrian menilai kebiasaan menunda pekerjaan (procrastination) juga menjadi penyebab meningkatnya stres akademik. Tugas yang terus ditunda akan menumpuk dan pada akhirnya memperbesar tekanan yang dirasakan mahasiswa.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan mengelola waktu serta memiliki strategi menghadapi tekanan (coping strategy) sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental selama menjalani pendidikan.
Zadrian juga menyoroti pengaruh media sosial yang dinilai memperkuat tekanan tersebut. Jika dahulu kebanggaan orang tua hanya diketahui lingkungan sekitar, kini unggahan mengenai prestasi anak dapat disaksikan oleh masyarakat luas.
“Semua orang tua pasti bangga dengan anaknya. Dulu mungkin flexing hanya diketahui tetangga sekitar, sekarang bisa dilihat seluruh dunia melalui media sosial,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan yang perlu dihindari bukanlah membagikan kebanggaan terhadap anak. Melainkan ketika hal itu berubah menjadi kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain atau menjadikan capaian orang lain sebagai standar keberhasilan.
“Jangan sampai anak terbebani. Membandingkan anak dengan anak lain atau menjadikan capaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dapat menjadi beban psikologis,” tegasnya.
Sebagai upaya membantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik, tim peneliti yang dipimpinnya mengembangkan model layanan konseling daring yang diawali dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.
Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa yang mulai mengalami tekanan dapat memperoleh bantuan sejak fase awal sehingga persoalan yang dihadapi tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.
Zadrian mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.
Menurutnya, harapan terhadap anak boleh saja dimiliki, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan mereka dan dibarengi ruang dialog yang sehat.
“Lebih banyaklah bertanya tentang perkembangan anak, dengarkan apa yang mereka alami, lalu berikan penguatan ketika mereka menunjukkan kemajuan. Ekspektasi boleh ada, tetapi jangan sampai berubah menjadi tekanan,” pungkasnya. (*)











