Covesia.co.id – Hubungan romantis yang sehat, idealnya dibangun atas dasar saling percaya dan menghargai. Rasa aman dan dukungan satu sama lain akan memperkuat hubungan ke arah lebih baik. Namun dalam kenyataannya, banyak juga hubungan yang berjalan tidak sesuai ekspektasi.
Sebagian perempuan justru terjebak dalam hubungan toxic dari pasangannya. Terjebak dalam perilaku manipulatif, kontrol berlebihan, ketergantungan emosional hingga kekerasan dari pasangan.
Meski hubungan sudah tak sehat, tak selalu membuat perempuan mudah meninggalkan pasangannya.
Ada berbagai faktor yang membuatnya tetap bertahan. Seperti faktor psikologis, sosial, lingkungan, hingga ketergantungan finansial. Walaupun hubungan yang dijalani sudah tak lagi sehat.
Psikolog sekaligus pendiri Kassandra & Associates, Kassandra Putranto, mengatakan kerentanan perempuan terjebak dalam hubungan toxic dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kondisi psikologis, lingkungan, serta tekanan sosial untuk memiliki pasangan.
“Perempuan rentan terjebak hubungan toxic. Ada beberapa faktor kenapa hal tersebut bisa terjadi. Umumnya pada pola asuh masa lalu yang memengaruhi profil psikologis dan konsep diri negatif. Ada juga situasi lingkungan yang menormalisasi perilaku manipulatif dan tekanan sosial untuk berpasangan,” kata Kassandra kepada Covesia.co.id ketika diwawancarai pada Kamis (13/8/2026).
Menurut Kassandra, salah satu faktor yang membuat seseorang rentan terjebak dalam hubungan toxic adalah kesulitan menetapkan batasan diri.
Seseorang yang tidak terbiasa mengatakan “tidak” atau kesulitan mengenali perilaku manipulatif sejak awal akan lebih sulit melindungi dirinya ketika hubungan mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sehat.
Kondisi tersebut dapat semakin rumit ketika seseorang memiliki konsep diri yang negatif atau merasa dirinya tidak cukup baik untuk mendapatkan hubungan yang sehat.
Selain itu, standar mengenai cinta juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai perilaku pasangannya.
Kecemburuan, posesif, maupun kontrol yang berlebihan terkadang dianggap sebagai bentuk perhatian.
Padahal, jika dilakukan secara terus-menerus dan membatasi kebebasan pasangan, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari hubungan yang tidak sehat.
Faktor psikologis juga menjadi salah satu alasan seseorang sulit meninggalkan pasangan toxic.
Ketakutan ditinggalkan, merasa tidak layak dicintai, takut kehilangan pasangan, kehilangan status sosial, hingga kehilangan dukungan finansial dapat membuat korban memilih bertahan.
Ketergantungan tersebut tidak selalu hanya berbentuk materi. Seseorang juga dapat bergantung secara emosional maupun sosial kepada pasangannya.
“Profil psikologis perempuan yang khas memiliki ketergantungan emosional, rasa takut, dan harapan palsu bahwa pasangan akan berubah suatu hari,” ujar Kassandra.
Harapan bahwa pasangan suatu saat akan berubah menjadi lebih baik dapat membuat seseorang terus memberikan kesempatan, meskipun perilaku buruk yang sama berulang kali terjadi.
Di sisi lain, korban juga dapat merasa takut dianggap gagal dalam menjalani hubungan, dikucilkan keluarga atau lingkungan, maupun tidak mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Terjebak dalam Siklus Kekerasan
Hubungan toxic juga dapat berkembang menjadi sebuah siklus yang membuat korban semakin sulit mengambil keputusan untuk pergi.
Siklus tersebut dapat diawali dengan periode hubungan yang terlihat tenang. Setelah itu muncul konflik atau ledakan emosi yang dapat melibatkan ancaman fisik maupun mental, teror hingga manipulasi psikologis.
Setelah konflik mereda, pasangan dapat kembali menunjukkan sikap baik dan memberikan perhatian. Kondisi tersebut kemudian memunculkan harapan pada korban bahwa hubungan akan berubah menjadi lebih baik.
Fase ketika pasangan kembali menunjukkan kasih sayang tersebut kerap disebut sebagai fase bulan madu atau honeymoon phase.
Ketika siklus kembali berulang, korban dapat mengalami kebingungan dan semakin sulit menentukan keputusan untuk meninggalkan hubungan.
Perkembangan teknologi dan media sosial juga turut memengaruhi cara masyarakat memandang hubungan romantis.
Kassandra mengatakan komunitas tertentu dapat membentuk standar hubungan yang tidak realistis dan menyebarkannya melalui berbagai media.
Narasi mengenai hubungan yang dianggap ideal terkadang dikemas sedemikian rupa sehingga perilaku dominasi atau kepatuhan berlebihan terlihat sebagai bentuk cinta.
Misalnya, muncul anggapan bahwa hubungan yang sempurna adalah ketika perempuan harus selalu mengikuti keinginan pasangan.
Di sisi lain, perilaku posesif dan kontrol berlebihan juga dapat ditampilkan sebagai tanda cinta sejati dalam film maupun konten yang viral di media sosial.
Jika terus dikonsumsi tanpa pemahaman yang kritis, gambaran tersebut berpotensi membuat perilaku yang sebenarnya tidak sehat dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam hubungan.
Nilai budaya tertentu juga dapat memperkuat toleransi terhadap dominasi laki-laki terhadap perempuan.
Ketika kondisi tersebut terus dinormalisasi, seseorang dapat kesulitan membedakan antara kasih sayang, perhatian, kontrol, dan kekerasan.
Butuh Waktu Meninggalkan Situasi Toxic
Menurut Kassandra, meninggalkan hubungan toxic bukan keputusan yang selalu dapat dilakukan secara cepat.
Korban membutuhkan proses, terutama jika telah terjadi ketergantungan emosional, sosial, maupun finansial.
Karena itu, korban perlu membangun kembali keyakinan terhadap dirinya sendiri dan menyadari bahwa tindakan buruk yang dilakukan pasangan bukan merupakan kesalahannya.
Kassandra mengingatkan agar perempuan yang sedang berada dalam hubungan tidak sehat tidak menyalahkan dirinya sendiri.
“Meningkatkan kualitas psikologis diri, meyakini diri tidak salah, hindarkan menyalahkan diri sendiri atas tindakan buruk pasanganmu. Proses itu nyata, keluar dari hubungan tidak sehat butuh waktu dan keberanian. Ambil langkah kecil dulu dan cerita ke orang terpercaya atau profesional. Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian,” tutup Kassandra.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keluar dari hubungan toxic merupakan sebuah proses.
Dukungan dari orang yang dipercaya maupun bantuan profesional dapat menjadi salah satu langkah penting bagi seseorang yang sedang berusaha membangun kembali kemandirian dan rasa percaya terhadap dirinya sendiri. (*)











