Covesia.co.id – Jejak ketakutan itu masih terekam jelas di ingatan para korban, meski bencana galodo dan tanah longsor telah berlalu sejak September 2025 lalu. Namun bagi mereka yang terdampak, perjuangan sesungguhnya justru baru dimulai ketika air surut dan tanah mulai mengering: perjuangan bertahan hidup di tengah bantuan yang datang tak serempak.
Di Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Hafiz (28) menatap bagian belakang rumahnya yang hingga kini tak beratap utuh. Rumah itu berjarak sekitar 40 meter dari aliran Batang Air yang bermuara ke Danau Maninjau. Saat galodo menerjang hulu bukit setahun lalu, material batu besar dan pepohonan meluncur deras menghantam permukiman.
“Sebagian dapur rumah saya hancur parah, syukurnya bagian depan masih bisa ditempati,” ujar Hafiz saat diwawancarai oleh Covesia, Kamis (22/10/2026).
Pemerintah setempat sebenarnya telah berjanji membangunkan rumah baru dari nol bagi warga terdampak, dengan syarat lahan berada di luar zona merah dan tidak bersengketa di kawasan Kampung Bano atau Darma Gadang.

Namun, karena hunian baru itu tak kunjung rampung dibangun, Hafiz terpaksa bertahan di rumah lamanya. Setiap kali hujan turun berdurasi lama, rasa cemas memaksanya angkat kaki untuk mengungsi. Ia bahkan merogoh kantong sendiri untuk memperbaiki dapur seadanya.
Meski begitu, Hafiz enggan berkecil hati. “Alhamdulillah, pemerintah masih memberikan bantuan berupa pembangunan rumah dari nol bagi korban bencana, tuturnya penuh rasa syukur di balik penantian panjang.
Cerita berbeda datang dari Kota Padang. Liza (40), warga Lubuk Minturun, ingat betul bagaimana ia sempat terjebak banjir dan longsor selama dua jam tanpa mendengar suara sirene peringatan dini kebencanaan, sebelum akhirnya dievakuasi tim penyelamat.
Meski rumahnya masih berdiri, barang-barang berharganya rusak terendam. Untuk menyambung hidup, Liza mengandalkan bantuan dana dari pemerintah sebesar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Sayangnya, penyalurannya dinilai belum merata dan sering kali tak pasti.
“Saya sudah menerima bantuan itu Rp500 ribu kadang-kadang sih. Bahkan, tetangga saya ada yang belum dapat sama sekali sampai sekarang,” ungkap Liza.
Di tengah ketidakpastian bantuan formal tersebut, ulur tangan para relawan menjadi penambal duka warga. Liza mengaku sangat terbantu oleh kepedulian masyarakat luar yang menyalurkan bahan pangan hingga perlengkapan sekolah anak.
“Saya dapat beras dan bahan pokok selama seminggu waktu itu. Kami juga dapat pakaian sekolah anak, alhamdulillah lah kak, jadi tak perlu beli lagi,” tambahnya.
Bayang Trauma dan Solidaritas Antar-Sesama
Tak hanya warga lokal, mahasiswa pun turut meretas trauma akibat bencana ini. Aini (20), mahasiswa UIN Imam Bonjol yang ngekos di kawasan Sungai Bangek, menceritakan detik-detik mencekam saat longsor terjadi di tengah hujan deras sekitar pukul 13.00 atau 14.00 WIB.
“Waktu itu saya baru pulang ngampus, jadi cepat-cepat pulang dan ambil motor di parkiran. Tiba di kos, dapat info kalau parkiran yang tadi saya tempati itu roboh. Kalau saya masih di parkiran, bisa jadi saya sudah tak ada, Kak,” kenang Aini dengan nada bergetar.
Kejadian itu menyisakan trauma mendalam baginya. Namun di balik musibah yang sempat viral tersebut, simpati mengalir deras dari masyarakat. Bantuan donasi berupa sembako berdatangan menyasar para mahasiswa kos di area terdampak.
“Karena saya ngekos di area Sungai Bangek, jadi dapat bantuan makanan. Mungkin kalau dihitung-hitung, ada sampai 5 kali bantuan makanan sampai ke kami,” tutup Aini saat dihubungi melalui telepon seluler.
Satu tahun pascabencana, potret kehidupan para korban bencana di Sumatera Barat menunjukkan ketahanan luar biasa. Di antara janji pembangunan rumah yang belum rampung dan alokasi bantuan yang masih timpang, hangatnya uluran tangan relawan serta rasa syukur yang tak putus menjadi pilar utama mereka untuk terus bangkit. (*)











