Menu

Mode Gelap
Pagi Ini Kualitas Udara Padang Kembali Berbahaya, ISPU Tembus 440 Komplotan Curanmor Di Kota Padang Dibekuk, Polisi Ungkap Puluhan TKP Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana

Budaya

Kemdiktisaintek Peringatkan Ketergantungan, Paksa RS Perguruan Tinggi Jadi ‘Laboratorium Perang’ Inovasi

Redaksi Covesiabadge-check

Kemdiktisaintek Peringatkan Ketergantungan, Paksa RS Perguruan Tinggi Jadi ‘Laboratorium Perang’ Inovasi Perbesar

Covesia.co.id – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memberikan peringatan keras terhadap ketergantungan masif Indonesia pada impor alat kesehatan dan obat-obatan. Di tengah gempuran produk asing, kementerian itu kini menuntut Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) bertransformasi menjadi “laboratorium terbuka” dan pusat inovasi militan untuk memutus rantai impor yang mencapai 93 persen.

Hal tersebut menjadi inti dari Kongres Nasional Asosiasi RSPTN 2025 dan Pertemuan Tahunan ke-6 yang diselenggarakan di RSUI dan RSKGM UI, Sabtu (4/10). Forum ini ditegaskan sebagai upaya terakhir untuk menjadikan RSPTN garda terdepan dalam agenda “Diktisaintek Berdampak”.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyoroti potensi kerugian luar biasa yang dihadapi negara. “Bidang kesehatan itu unik dan kaya ‘data’, sehingga harusnya kita unggul di kancah internasional,” tegas Menteri Brian yang dinukil dari kemdistitisaintek.go.id, Sabtu

Namun, data menunjukkan aliran dana kesehatan ke luar negeri masih mencapai Rp187 triliun per tahun.

Menanggapi krisis ini, Mendiktisaintek kini mematok target agresif: RSPTN harus mampu bersaing di tingkat internasional dalam 3-5 tahun mendatang. Untuk itu, RSPTN didorong untuk berfungsi sebagai pusat kolaborasi lintas disiplin, tidak hanya untuk kedokteran, tetapi juga melibatkan teknik fisika, teknik mesin, dan disiplin ilmu lain.

“RSPTN harus menjadi champion sebagai RS unggul dan mendunia. RSPTN bisa bekerja sama dengan Harvard, NUS, atau perguruan tinggi dunia lainnya,” ujar Brian Yuliarto.

Untuk mencapai target ambisius tersebut, Kemdiktisaintek mengumumkan akan memulai program revitalisasi RSPTN pada 2026. Program ini akan didukung penuh dengan pengadaan peralatan, perbaikan infrastruktur, serta penguatan riset translasional.

Ketua Asosiasi RSPTN, Nasronudin, mengakui potensi besar yang selama ini “belum sepenuhnya tergali.” Ia menegaskan bahwa RSPTN memiliki fleksibilitas tinggi untuk menjadi motor penggerak riset robotik dan stem cell berbasis pelayanan.

Setiawan, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, menambahkan bahwa kolaborasi antar-RSPTN adalah kunci akselerasi pendidikan spesialis dan subspesialis.

Langkah strategis ini menjadi upaya Kemdiktisaintek untuk mewujudkan arahan Presiden Prabowo Subianto, mengubah RSPTN dari sekadar institusi layanan kesehatan menjadi lokomotif riset yang mampu mengembangkan instrumentasi medis canggih, memanfaatkan big data, dan menciptakan teknologi kecerdasan buatan (AI) di bidang kesehatan, yang semuanya bertujuan tunggal: mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin

31 Agustus 2026 - 13:27 WIB

Lomba Mural Wisata di Padang Selatan, 18 Karya Masuk Final

29 Agustus 2026 - 21:29 WIB

Makna Lamang Bagi Masyarakat Padang Pariaman Dalam Mauluik Nabi

29 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Dengan Mural, Dinding Tak Terawat Disulap Jadi Media Promosi Wisata Padang Selatan

29 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Makam Syekh Burhanuddin Ditetapkan Jadi Cagar Budaya Nasional

29 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Trending Topik Budaya