Covesia.co.id – Jauh sebelum nama Sitinjau Lauik dikenal luas sebagai salah satu ruas jalan paling ekstrem di Sumatera Barat, kawasan tersebut hanyalah tikungan pegunungan yang dilalui kendaraan seperti biasa. Namun, tingginya angka kecelakaan pada akhir 1990-an membuat warga setempat berinisiatif turun langsung membantu para pengendara. Dari kepedulian itulah lahir para Petugas Keselamatan Jalan Raya (PKJR), kelompok masyarakat yang hingga kini setia membantu kendaraan, terutama truk dan bus, melintasi tanjakan dan turunan curam Sitinjau Lauik.
Salah seorang PKJR senior, Duta (40), mengatakan dirinya mulai bergabung sejak 1999. Menurutnya, keberadaan PKJR muncul bukan untuk mencari keuntungan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan.
“Kami bukan Pak Ogah. Kami adalah PKJR. Awal ada PKJR karena memang kecelakaan di Sitinjau Lauik sering terjadi sekitar tahun 1998 hingga awal 2000-an, Warga akhirnya berinisiatif membantu kendaraan yang melintas,” ujarnya kepada Covesia, Senin, (6/07/26).
Perjalanan PKJR, lanjut Duta, tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal keberadaannya, sempat ada pihak yang mempertanyakan aktivitas mereka. Namun, seiring waktu, berbagai pihak menyadari bahwa kehadiran PKJR mampu membantu mengurangi risiko kecelakaan dan memperlancar arus kendaraan di jalur tersebut.
“Awalnya memang ada yang tidak senang dengan keberadaan kami. Tapi akhirnya mereka mengakui kalau pekerjaan kami ternyata sangat membantu masyarakat,” tuturnya.
Pengakuan itu bahkan diwujudkan dalam bentuk penghargaan. Duta menyebut kelompok PKJR pernah menerima penghargaan dari Kapolda sebanyak dua kali sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka menjaga keselamatan pengguna jalan.
Selain itu, PKJR juga pernah diberikan pakaian resmi sebagai identitas. Meski demikian, sebagian besar anggota memilih tetap mengenakan pakaian sederhana saat bertugas karena dinilai lebih nyaman digunakan di lapangan.
Saat ini, di kawasan Panorama I Sitinjau Lauik terdapat sekitar 18 orang PKJR yang bergantian membantu kendaraan melintasi jalur tersebut.
Selama puluhan tahun bertugas, berbagai pengalaman suka dan duka telah mereka rasakan. Mulai dari nyaris menjadi korban kecelakaan, ditabrak kendaraan, menghadapi pengendara yang tidak mau mengikuti arahan, hingga aksi oknum yang mengganjal roda kendaraan menggunakan batu secara sembarangan sehingga membahayakan keselamatan.
“Risikonya besar. Ada yang pernah ditabrak mobil, menghadapi pengendara yang ngeyel, sampai ada yang mengganjal batu sembarangan. Itu justru berbahaya,” katanya.
Bagi Duta sendiri, menjadi PKJR bukanlah pekerjaan utama. Ia merupakan warga asli Sitinjau Lauik yang sehari-hari menjalankan usaha depot air minum isi ulang. Menurutnya, sebagian besar anggota PKJR juga memiliki profesi lain dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengaku menikmati aktivitas sebagai PKJR karena memberinya kesempatan bertemu banyak orang dari berbagai daerah. Bahkan, keberadaan di jalur Sitinjau Lauik turut membawa dampak positif bagi usaha yang dijalaninya.
(Una/Ariel)











