Covesia.co.id — Kaki atau pergelangan kaki tiba-tiba terlihat membengkak sering kali dianggap sebagai kondisi ringan, terutama setelah terlalu lama duduk atau berdiri.
Namun, jika pembengkakan terjadi berulang, menetap, atau disertai perubahan pada urine dan kondisi tubuh lainnya, kondisi tersebut tidak sebaiknya diabaikan.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah gangguan fungsi ginjal.
Dalam kondisi normal, ginjal bertugas menyaring darah, membuang zat sisa serta mengatur keseimbangan cairan dan garam di dalam tubuh.
Ketika fungsi ginjal menurun, kemampuan tubuh membuang kelebihan cairan dan natrium ikut terganggu. Akibatnya, cairan dapat menumpuk di jaringan dan menimbulkan edema atau pembengkakan, terutama pada kaki, pergelangan kaki dan tungkai.
National Kidney Foundation menyebut pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada ginjal.
Namun, pembengkakan tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit ginjal karena kondisi serupa juga dapat disebabkan penyakit jantung, gangguan hati, masalah pembuluh darah, obat-obatan tertentu hingga terlalu lama berada dalam satu posisi.
Karena itu, penting melihat gejala lain yang menyertainya.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perubahan urine. Penyakit ginjal dapat menyebabkan frekuensi buang air kecil berubah, urine menjadi berbusa karena adanya protein, atau jumlah urine berkurang. Pada kondisi tertentu, pembengkakan juga dapat muncul di wajah, tangan atau sekitar mata.
Pembengkakan akibat gangguan ginjal juga dapat disertai kenaikan berat badan dalam waktu relatif singkat. Kondisi tersebut bisa terjadi akibat penumpukan cairan, bukan semata-mata karena bertambahnya lemak tubuh.
Mengapa ginjal bisa menyebabkan kaki bengkak?
Ketika ginjal tidak mampu membuang cairan dan garam secara optimal, keduanya dapat tertahan di dalam tubuh. Cairan yang berlebihan kemudian berpindah ke jaringan tubuh dan menyebabkan pembengkakan.
Selain penumpukan cairan, beberapa penyakit ginjal dapat menyebabkan protein, terutama albumin, keluar melalui urine dalam jumlah berlebihan.
Rendahnya kadar protein dalam darah dapat ikut mendorong cairan keluar dari pembuluh darah menuju jaringan sehingga menyebabkan edema.
Pada penyakit ginjal kronis, pembengkakan umumnya lebih terlihat ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Namun, gangguan ginjal pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga pemeriksaan medis tetap penting jika terdapat faktor risiko atau keluhan yang menetap.
Cara mengatasi kaki bengkak karena masalah ginjal
Penanganannya tidak cukup hanya dengan menghilangkan bengkaknya. Penyebab yang mendasari harus diketahui dan ditangani.
Salah satu langkah yang sering dianjurkan adalah mengurangi konsumsi garam. Asupan natrium yang tinggi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga pembengkakan semakin berat.
Karena itu, penderita gangguan ginjal biasanya perlu memperhatikan makanan tinggi garam, termasuk makanan olahan, makanan instan dan bumbu yang mengandung banyak natrium.
Namun, pembatasan cairan tidak boleh dilakukan sembarangan.
Pada sebagian penderita penyakit ginjal, dokter dapat memberikan batasan jumlah cairan yang boleh dikonsumsi setiap hari, terutama jika tubuh sudah mengalami kelebihan cairan atau pasien menjalani dialisis.
Jumlah kebutuhan cairan setiap orang berbeda sehingga sebaiknya mengikuti anjuran dokter, bukan mengurangi minum secara ekstrem atas inisiatif sendiri.
Dokter juga dapat memberikan obat diuretik atau obat yang membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan melalui urine. Penggunaan obat tersebut harus berdasarkan pemeriksaan dan resep dokter karena tidak semua penyebab kaki bengkak membutuhkan obat diuretik.
Pada penyakit ginjal yang sudah berat, terapi dapat mencakup dialisis atau cuci darah sesuai kondisi pasien.
Terapi tersebut bertujuan membantu membuang zat sisa dan kelebihan cairan ketika ginjal sudah tidak mampu menjalankan fungsinya secara memadai.
Sementara itu, jika pembengkakan terjadi karena terlalu lama duduk atau berdiri, mengubah posisi tubuh dan mengangkat kaki saat beristirahat dapat membantu mengurangi penumpukan cairan.
Namun, cara sederhana tersebut bukan pengganti pemeriksaan medis jika pembengkakan terus berulang atau disertai gejala lain.
Jangan buru-buru menyimpulkan kaki bengkak karena ginjal
Kaki bengkak tidak otomatis berarti ginjal bermasalah. Edema juga bisa muncul karena terlalu lama duduk atau berdiri, konsumsi garam berlebihan, kelebihan berat badan, kehamilan, varises, gangguan tiroid, penyakit jantung, penyakit hati, maupun efek obat tertentu.
Karena penyebabnya beragam, dokter biasanya perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber pembengkakan. Pemeriksaan dapat mencakup tekanan darah, pemeriksaan urine dan darah untuk menilai fungsi ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Kapan harus segera mencari pertolongan?
Pembengkakan kaki yang disertai sesak napas, nyeri dada, sulit bernapas ketika berbaring, pusing berat atau pingsan perlu mendapat pertolongan medis segera.
Gejala tersebut dapat berkaitan dengan kondisi serius, termasuk kelebihan cairan yang memengaruhi paru-paru atau masalah jantung dan pembuluh darah.
Begitu pula jika pembengkakan muncul bersamaan dengan penurunan jumlah urine yang drastis, muntah, kebingungan atau rasa sangat lemah. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan ginjal yang membutuhkan evaluasi segera.
Pada akhirnya, kaki bengkak sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai masalah penampilan. Jika pembengkangan menetap, berulang, semakin berat atau disertai perubahan urine, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebabnya. (*)











