Menu

Mode Gelap
Komplotan Curanmor Di Kota Padang Dibekuk, Polisi Ungkap Puluhan TKP Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana Sempat Buron, Jukir Penggelap Motor Rp18 Juta Diciduk di Bandar Purus

Daerah

Gen Z Rentan Terjerat Hubungan Toksik: Apa Makna Cinta yang Sesungguhnya?

Fitratul Husnabadge-check

Foto ilustrasi/ Istimewa Perbesar

Foto ilustrasi/ Istimewa

Covesia.co.id – Apakah cinta harus dibuktikan dengan mengorbankan segalanya?

Pertanyaan klasik ini kembali mencuat di tengah maraknya kasus kekerasan dalam hubungan asmara anak muda. Salah satu yang paling menyita perhatian publik saat ini adalah kasus Taufik Hidayat (30), tersangka penyekapan dan penganiayaan sadis terhadap kekasihnya, YTR (29), di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kasus ini menjadi sorotan nasional karena korban diisolasi dan disiksa selama hampir tiga tahun, sejak Mei 2024 hingga Juni 2026 hingga mengalami cacat fisik permanen.

Tragedi yang menimpa YTR yang kini ramai diperbincangkan di berbagai media nasional menjadi alarm keras. Ini adalah bukti nyata bagaimana hubungan yang didominasi cemburu buta dan obsesi menguasai pasangan bisa berakhir pada tindakan kriminal yang keji.

Secara psikologis dan medis, cinta memang bukan sekadar perasaan. Melansir data dari Halodoc, Rabu (30/6) saat seseorang jatuh cinta, otak akan melepaskan berbagai zat kimia yang memperkuat ikatan emosional. Ironisnya, ikatan kimiawi yang kuat inilah yang sering kali membuat seseorang “buta” dan memilih bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Fase awal hubungan biasanya selalu dipenuhi romansa yang berbunga-bunga. Celah inilah yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku. Senada dengan hal tersebut, dr. Lahargo Kembaren, Psikiater dari Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) melalui jurnal Mediapsi Universitas Surabaya, menjelaskan bahwa pelaku kekerasan sering kali menampilkan citra sebagai sosok yang sangat perhatian di awal hubungan. Akibatnya, korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi secara perlahan.

Pada titik tertentu, hubungan toksik tidak lagi melulu soal kekerasan fisik. Bentuknya bisa bermutasi menjadi manipulasi emosional, kontrol berlebihan, pembatasan ruang sosial, hingga eksploitasi finansial.

Banyak korban yang sulit melepaskan diri karena terjebak dalam trauma bonding—sebuah ikatan emosional labil yang terbentuk akibat siklus berulang antara kekerasan ekstrem dan permintaan maaf yang manipulatif dari pelaku.

Merespons fenomena ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui laman resminya menegaskan pentingnya mengenali tanda bahaya (red flags) sejak dini. Hubungan yang sehat seyogianya dibangun di atas fondasi komunikasi yang setara, penghormatan terhadap batasan pribadi (boundaries), dan ruang aman bagi kedua belah pihak.

Hakikat Cinta yang Mendewasakan
Pada dasarnya, cinta adalah proses bertumbuh yang membutuhkan waktu untuk saling mengenal, membangun kepercayaan, dan menemukan kecocokan hingga tercipta rasa aman. Romansa instan mungkin memicu daya tarik, namun hanya komitmen, komunikasi, dan rasa hormat yang mampu membuatnya bertahan.

Cinta sejati tidak pernah meminta seseorang untuk menyerahkan warasnya, apalagi raganya. Ia bukan tentang seberapa besar kita sanggup menderita dan berkorban, melainkan tentang bagaimana kedua belah pihak saling menghargai, menjaga, dan bertumbuh bersama tanpa mengorbankan keselamatan fisik maupun kesehatan mental. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Sempat Buron, Jukir Penggelap Motor Rp18 Juta Diciduk di Bandar Purus

12 September 2026 - 17:04 WIB

Hutang Sabu di Balik Dapur: Ketika Kristal Haram Menyasar Pekerja Kasar di Padang Pariaman

12 September 2026 - 10:23 WIB

Dari Kampung Cina hingga Tragedi Kanso, Jejak Etnis Tionghoa di Pariaman

9 September 2026 - 10:41 WIB

Polusi Akibat Karhutla, 4 Tanaman ini Bantu Jaga Kualitas Udara di Dalam Rumah

8 September 2026 - 16:51 WIB

Generasi Muda, Stop Tone Deaf

8 September 2026 - 10:32 WIB

Trending Topik Life Style