Covesia.co.id – Negara Spanyol dan Prancis saat ini tengah menghadapi masalah kebakaran hutan yang serius. Ratusan ribu hektare lahan dan hutan terbakar selama dua pekan terakhir.
Gelombang panas panas yang mencapai 42°C memperburuk kondisi. Apalagi gelombang panas diprediksi akan terus berlanjut hingga perubahan musim pada Oktober 2026 mendatang.
Di Spanyol, Sebanyak 130.000 hektare lahan telah terbakar. Mayoritas berada di sekitar Madrid dan Ávila, dengan luas 70.000 hektare.
Kemudian kebakaran juga terjadi di Castilla y León, terutama di kawasan Sierra Oeste, yang meliputi San Martín de Valdeiglesias hingga Villa del Prado.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan pemerintah telah mengerahkan lebih dari seribu personel militer, ratusan kendaraan pemadam, pesawat pemadam kebakaran, serta menerima bantuan dari beberapa negara Uni Eropa.
“Kami menghadapi situasi yang sangat kompleks. Saya meminta seluruh warga untuk tetap waspada dan mematuhi seluruh instruksi keselamatan,” ujar Pedro Sánchez pada Kamis (30/7/2026).
Spanyol juga mengaktifkan Mekanisme Perlindungan Sipil Uni Eropa (EU Civil Protection Mechanism). Yunani, Italia, Turki, dan Portugal mengirimkan pesawat amfibi untuk membantu pemadaman.
Sementara itu di Prancis, kondisi dinilai lebih mengkhawatirkan. Kebakaran terbesar berpusat di Departemen Gironde, barat daya Prancis, tidak jauh dari Kota Bordeaux.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyebut tahun 2026 telah menjadi musim kebakaran hutan terburuk dalam sejarah modern Prancis, bahkan sebelum memasuki Agustus yang biasanya merupakan puncak musim panas.
“Sejak awal tahun, hampir 98.000 hektare lahan telah terbakar. Ini merupakan rekor bersejarah bagi Prancis,” kata Laurent Nuñez yang dikutip dari EFE Noticias.
Kebakaran di Gironde sempat membakar sekitar 42.000 hektare hutan pinus dan memaksa hingga 220.000 orang mengungsi. Setelah cuaca sedikit membaik, sebagian besar warga telah diizinkan kembali ke rumah. Namun petugas masih berjaga mengantisipasi munculnya titik api baru.
Menurut analisis ilmiah World Weather Attribution (WWA), perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah meningkatkan peluang munculnya cuaca ekstrem yang memicu kebakaran.
Para ilmuwan menilai bencana ini tidak hanya dipicu oleh cuaca panas biasa, tetapi merupakan dampak dari gelombang panas ekstrem yang diperparah oleh perubahan iklim.
Analisis kelompok ilmiah World Weather Attribution (WWA) menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat kondisi cuaca yang sangat panas, kering, dan berangin.
Curah hujan yang minim selama beberapa bulan terakhir membuat vegetasi mengering dan berubah menjadi bahan bakar alami. Sementara angin kencang menyebabkan kobaran api menyebar dalam waktu singkat.
Gelombang panas yang masih berlangsung juga membawa dampak luas di berbagai sektor. (*)










