Menu ✖

Mode Gelap
Operasi Senyap Polda Sumbar di Pasaman, Alat Berat dan Operator Berhasil Diamankan Polisi Razia Tempat Hiburan Malam di Solok, Ratusan Botol Miras Disita Hujan Intensitas Sedang Hingga Lebat Diprakirakan Guyur Sejumlah Wilayah Sumbar  Sumbar Diprediksi Diguyur Hujan Berintensitas Sedang- Lebat Hari Ini Mengenal Yulius, Hakim Agung Kelahiran Bukittinggi yang Pimpin Sidang Kasasi Suket Gibran Waspada! November-Desember Jadi Puncak Musim Hujan di Sumbar

Lingkungan

Mengenal Udara Kabur, Fenomena Atmosfer yang Membuat Jarak Pandang Menurun

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Mengenal Udara Kabur, Fenomena Atmosfer yang Membuat Jarak Pandang Menurun Perbesar

Covesia.co.id – Sejak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memasuki wilayah udara Sumatera Barat, sejumlah daerah di Ranah Minang dihadapkan pada fenomena haze atau udara kabur.

Langit terlihat seperti tertutup lapisan putih hingga abu-abu tipis. Matahari tampak lebih redup, sementara gedung, perbukitan, hingga objek yang berada jauh terlihat samar. Jarak pandang pun terasa menurun.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan istilah udara kabur dalam prakiraan cuaca untuk menggambarkan kondisi atmosfer ketika jarak pandang mengalami penurunan akibat adanya material atau partikel di udara.

Namun, udara kabur tidak selalu berarti sedang terjadi kabut. Kondisi tersebut juga tidak secara otomatis menunjukkan bahwa kualitas udara sedang buruk.

Secara ilmiah, udara kabur terjadi ketika atmosfer mengandung cukup banyak partikel atau tetesan berukuran sangat kecil sehingga cahaya yang melewatinya mengalami hamburan dan penyerapan.

Cahaya dari objek yang berada jauh seharusnya dapat bergerak menuju mata tanpa banyak gangguan.

Namun, ketika atmosfer mengandung aerosol, debu, asap atau tetesan air berukuran mikroskopis, sebagian cahaya tersebut akan dihamburkan ke berbagai arah.

Akibatnya, kontras antara objek dengan latar belakang atmosfer menjadi lebih rendah. Kondisi inilah yang membuat gunung, bukit, gedung atau objek lain yang berada jauh terlihat samar.

Dengan demikian, salah satu karakteristik utama udara kabur adalah berkurangnya kejernihan atmosfer yang kemudian berdampak pada jarak pandang.

Fenomena tersebut dapat dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer. Salah satunya adalah kelembapan udara yang tinggi.

Ketika kelembapan meningkat, uap air dapat mengalami kondensasi atau menempel pada partikel aerosol yang sudah berada di atmosfer.

Partikel tersebut kemudian menjadi lebih besar secara efektif sehingga kemampuan untuk menghamburkan cahaya juga meningkat.

Karena itu, kondisi atmosfer yang tampak kabur lebih sering dijumpai pada malam hingga pagi hari, terutama ketika suhu udara turun dan kelembapan meningkat.

Selain kelembapan, keberadaan aerosol dan partikel di atmosfer juga berperan penting. Aerosol merupakan partikel berukuran sangat kecil yang melayang di udara.

Sumbernya dapat berasal dari proses alami maupun aktivitas manusia, mulai dari debu, asap pembakaran, emisi kendaraan, aktivitas industri hingga kebakaran vegetasi.

Kondisi semakin mudah terlihat ketika atmosfer tidak mampu mengencerkan atau menyebarkan partikel tersebut secara cepat.

Angin yang lemah, misalnya, dapat membuat partikel bertahan lebih lama di sekitar permukaan. Jika kondisi tersebut berlangsung ketika atmosfer relatif stabil, konsentrasi partikel di lapisan udara dekat permukaan dapat meningkat dan membuat pandangan semakin buram.

Meski demikian, udara kabur perlu dibedakan dengan kabut. Kabut atau fog terutama berkaitan dengan kumpulan tetesan air berukuran sangat kecil yang melayang dekat permukaan bumi dan menyebabkan jarak pandang turun secara signifikan.

Sementara udara kabur merupakan istilah yang lebih luas dalam pengamatan dan prakiraan cuaca.

Penyebabnya dapat berupa aerosol, asap, debu, partikel air maupun kombinasi berbagai material yang berada di atmosfer.

Karena itu, ketika masyarakat melihat langit berwarna putih atau abu-abu dan objek di kejauhan tampak samar, kondisi tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kabut.

Hal yang juga penting dipahami, udara kabur tidak selalu identik dengan polusi udara.

Kejernihan atmosfer dan kualitas udara merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak sama.

Udara dapat terlihat kabur akibat kelembapan tinggi atau proses atmosfer alami, tanpa berarti konsentrasi polutan berada pada tingkat yang membahayakan. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Polda Sumbar Ungkap Dugaan Jaringan Penadah Motor Lintas Provinsi

31 Oktober 2026 - 12:46 WIB

Antisipasi Bencana, IJTI Sumbar Soroti Efektivitas CSR dan Pemulihan Pasca-Bencana

22 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Kualitas Udara di Sumbar Belum Menunjukkan Tanda Membaik

20 Oktober 2026 - 09:18 WIB

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Sejumlah Wilayah Sumbar

19 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ini Tanggapan Dishut Sumbar Soal Tumpang Tindih Tanah Milik Fauzi Bahar

17 Oktober 2026 - 11:36 WIB

Trending Topik Lingkungan