Menu

Mode Gelap
Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin Polresta Padang Luncurkan Tim Patroli Perintis Presisi dan Samapta Kasus Yogi “Starlink” Sikakap, Bupati Mentawai : Dia Bantu Program Pemerintah Akibat Karhutla, Program MBG di Dharmasraya Terganggu di Tingkat TK dan PAUD Polres Dharmasraya Grebek 4 Pelaku Pesta Sabu, Salah Satunya Perempuan Lomba Mural Wisata di Padang Selatan, 18 Karya Masuk Final

Budaya

Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin

Safira Ariel Putribadge-check

Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin Perbesar

Covesia.co.id – Maulid Nabi Muhammad SAW di Nagari Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman, bukan sekadar peringatan keagamaan. Di balik kemeriahannya, tersimpan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari malamang hingga Oyak Tabuik.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap kali perayaan Maulid Nabi digelar. Bukan hanya untuk memeriahkan acara, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat kebersamaan, bergotong royong, sekaligus menjaga warisan budaya nagari.

Tahun ini, rangkaian perayaan Maulid Nabi di Masjid Raya Lubuk Pandan telah selesai dilaksanakan. Masyarakat kembali menjalankan tradisi yang telah berlangsung sejak lama dan diwariskan oleh para pendahulu.

Perayaan Maulid Nabi di Nagari Lubuk Pandan digelar setiap tahun pada Sabtu dan Minggu berdasarkan kesepakatan nagari. Puncak kegiatan berlangsung di Masjid Raya Lubuk Pandan setelah masing-masing surau kaum terlebih dahulu melaksanakan Maulid Nabi.

Salah satu tradisi yang menjadi perhatian adalah Oyak Tabuik. Mantan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lubuk Pandan periode 1999–2018, Maizal, S.H., Dt. Maninjun, menjelaskan bahwa Oyak Tabuik dalam rangkaian Maulid Nabi di Lubuk Pandan memiliki tujuan yang berbeda dari tradisi tabuik yang dikenal secara luas di Pariaman.

Di Lubuk Pandan, tabuik dibuat oleh masing-masing korong dan kemudian diarak dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi. Tradisi tersebut sekaligus menjadi sarana masyarakat menggalang dana untuk mendukung perbaikan dan pembangunan Masjid Nagari.

Nagari Lubuk Pandan terdiri atas lima korong, yakni Kampung Panyalai, Padang Bukik, Balai Satu, Kampung Guci, dan Kiambang. Masing-masing korong membuat tabuik dengan kreativitas mereka ketika perayaan Maulid Nabi berlangsung.

“Perayaan puncak Mauluik Nabi di Nagari Lubuk Pandan ada di Masjid Raya Lubuk Pandan ini. Setelah surau kaum selesai Mauluik terlebih dahulu, adanya Oyak Tabuik di acara Maulid Nabi di sini berguna untuk menggalang dana dengan tujuan perbaikan dan pembangunan Masjid Nagari kita,” ungkap Maizal.

Bagi masyarakat setempat, Oyak Tabuik tidak hanya soal kemeriahan. Tradisi tersebut juga menjadi cara untuk melibatkan generasi muda dalam kegiatan nagari.

Kreativitas membuat tabuik, ditambah iringan alat musik tradisional, menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak muda. Mereka ikut terlibat dalam proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

“Adanya Oyak Tabuik yang dikenal masyarakat luas di luar Padang Pariaman sebagai tradisi budaya dengan makna lain, bagi kami di sini dibersamainya Maulid Nabi dengan Oyak Tabuik untuk penggalangan dana dan kemeriahan sehingga menarik minat anak muda untuk berpartisipasi dalam acara,” kata Maizal.

Lamang dan Jejak Dakwah Syekh Burhanuddin

Selain Oyak Tabuik, malamang juga menjadi tradisi yang tidak terpisahkan dari perayaan Maulid Nabi di Nagari Lubuk Pandan.

Nasruddin, Dt. Basa, mengatakan tradisi malamang telah dilakukan secara turun-temurun. Cerita mengenai tradisi tersebut terus disampaikan oleh orang tua kepada generasi berikutnya sehingga tetap dikenal hingga saat ini.

Menurutnya, keberadaan malamang di Padang Pariaman juga tidak terlepas dari sejarah perkembangan ajaran Islam yang dibawa Syekh Burhanuddin.

“Tradisi Maulid Nabi yang seperti ini di Nagari Lubuk Pandan sudah dari dahulunya dilaksanakan serta diceritakan oleh orang dahulu. Adanya malamang pun juga dipengaruhi oleh tradisi yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin,” ungkapnya.

Nasruddin menjelaskan, malamang dipercaya menjadi salah satu cara Syekh Burhanuddin berdakwah. Pada masa itu, kegiatan memasak lamang dapat menjadi sarana untuk mengumpulkan masyarakat. Setelah berkumpul, masyarakat kemudian mendengarkan ajaran Islam yang disampaikan.

Tradisi tersebut pada akhirnya tidak hanya melahirkan kebiasaan memasak lamang, tetapi juga membangun semangat kebersamaan. Proses pembuatan lamang yang dilakukan secara bersama-sama mencerminkan nilai gotong royong yang masih dipertahankan masyarakat.

Lamang yang telah selesai dimasak kemudian diberikan kepada tamu yang datang ke masjid sebagai cendera mata. Sementara itu, kaum ibu membawa jamba ke masjid untuk disantap bersama-sama.

Menjaga Tradisi agar Tidak Terputus

Di tengah perubahan zaman, keberlangsungan tradisi tidak hanya bergantung pada generasi tua. Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting agar adat dan budaya nagari tetap hidup.

Maizal dan Nasruddin sama-sama menekankan pentingnya mengajak anak muda terlibat dalam berbagai kegiatan adat dan nagari. Bagi mereka, regenerasi menjadi salah satu kunci agar tradisi yang telah diwariskan para pendahulu tidak berhenti pada satu generasi.

“Sudah menjadi tugas kita yang paham akan adat dan budaya nagari untuk kembali mengajak mereka berkontribusi dalam perayaan acara adat dan budaya nagari,” tutupnya.

Di Lubuk Pandan, Maulid Nabi akhirnya bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Ia juga menjadi ruang tempat masyarakat merawat kebersamaan, menghidupkan gotong royong, serta menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas nagari.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Lomba Mural Wisata di Padang Selatan, 18 Karya Masuk Final

29 Agustus 2026 - 21:29 WIB

Makna Lamang Bagi Masyarakat Padang Pariaman Dalam Mauluik Nabi

29 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Dengan Mural, Dinding Tak Terawat Disulap Jadi Media Promosi Wisata Padang Selatan

29 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Makam Syekh Burhanuddin Ditetapkan Jadi Cagar Budaya Nasional

29 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Jam Gadang dan SMA 2 Bukittinggi Jadi Cagar Budaya Nasional, Bordir Kerancang Diakui sebagai WBTb

29 Agustus 2026 - 09:36 WIB

Trending Topik Budaya