Covesia.co.id – Dewasa ini, fenomena perempuan yang terjebak dalam hubungan toxic semakin sering menjadi perhatian.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, apa yang membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang sebenarnya dapat memberikan dampak buruk bagi dirinya?
Sejumlah anak muda yang diwawancarai Covesia.co.id turut menyampaikan pandangan mereka mengenai faktor yang dapat membuat perempuan terjebak dalam hubungan tidak sehat.
Beberapa di antaranya mengaitkannya dengan pengalaman keluarga, kurangnya figur ayah, hingga luka batin yang belum terselesaikan.
Tiwi (24), seorang fresh graduate, menilai kurangnya peran ayah dalam keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara seorang perempuan memandang hubungan dengan lawan jenis.
Menurutnya, ketika kebutuhan akan kasih sayang dari figur ayah tidak terpenuhi, seorang perempuan dapat berusaha mencari pemenuhan kasih sayang tersebut melalui pasangan.
Dalam kondisi tertentu, kebutuhan tersebut bahkan dapat membuat seseorang tetap bertahan meskipun pasangannya menunjukkan perilaku yang tidak sehat.
“Fatherless sangat berpengaruh, jadi perempuan akan mengharapkan kasih sayang dari laki-laki yang jadi pasangannya. Walaupun dikabarin, asal disayang, tidak apa-apa,” kata Tiwi kepada Covesia.co.id, Kamis (13/8/2026)
Pandangan serupa disampaikan Rani (24), seorang pegawai swasta. Ia menilai perempuan yang kerap terjebak dalam hubungan toxic dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya peran ayah, kondisi keluarga yang kurang harmonis, hingga luka batin yang belum ditangani dengan baik.
“Berputar-putar di sini menurut saya. Perempuan yang sering terjebak hubungan toxic biasanya punya luka batin, fatherless, broken home,” ungkap Rani.
Sementara itu, Hafizah (24), juga seorang pegawai swasta, menyampaikan pandangan yang hampir sama.
Menurutnya, pengalaman fatherless dapat menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian perempuan lebih rentan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
“Berbicara perempuan yang terjebak hubungan toxic, biasanya kebanyakan dari mereka fatherless,” kata Hafizah kepada Covesia.
Hubungan Toxic dan Dampaknya
Hubungan toxic merupakan relasi yang dapat memberikan dampak negatif terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Kondisi tersebut berbeda dengan hubungan yang sehat, yang idealnya memberikan rasa aman, nyaman, saling menghargai, serta memberikan ruang bagi masing-masing pihak untuk berkembang.
Dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang dapat mengalami tekanan emosional, manipulasi, kontrol berlebihan hingga kekerasan.
Berdasarkan hasil survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2024, satu dari dua perempuan di Indonesia disebut pernah mengalami kekerasan psikologis dalam hubungan.
Sementara itu, sebuah kajian mengenai peran keluarga terhadap anak dari Universitas Negeri Malang menyebutkan bahwa pengalaman fatherless dapat memengaruhi pemahaman anak mengenai kasih sayang.
Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai bentuk hubungan yang sehat, termasuk ketika menghadapi perilaku kekerasan dalam sebuah hubungan.
Namun, pengalaman fatherless tidak dapat secara otomatis menjadi penyebab seseorang terjebak dalam hubungan toxic.
Kondisi psikologis, pola asuh, lingkungan, pengalaman masa lalu, serta kualitas hubungan yang dijalani juga dapat menjadi faktor yang saling berkaitan.
Ikatan Emosional Membuat Sulit Pergi
Ketika seseorang sudah berada dalam hubungan yang tidak sehat, meninggalkan pasangan juga bukan perkara mudah.
Salah satu faktor yang dapat membuat seseorang bertahan adalah ikatan emosional yang tidak sehat.
Perasaan sayang, ketergantungan terhadap pasangan, rasa takut kehilangan, hingga harapan bahwa pasangan akan berubah dapat membuat seseorang terus mempertahankan hubungan tersebut.
Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat menganggap perilaku buruk pasangan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang.
Hal ini membuat korban semakin sulit mengenali bahwa hubungan yang dijalani sebenarnya telah memberikan dampak negatif bagi dirinya.
Karena itu, keluar dari hubungan toxic bukanlah proses yang selalu dapat dilakukan dengan cepat. Dibutuhkan kesadaran diri, keberanian, waktu, serta dukungan dari lingkungan sekitar.
Dukungan tersebut dapat membantu seseorang memahami bahwa dirinya berhak mendapatkan hubungan yang sehat.
Hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar rasa aman, penghargaan, komunikasi yang terbuka, saling mendukung, serta kesetaraan antara kedua pihak. (*)











