Menu

Mode Gelap
Komplotan Curanmor Di Kota Padang Dibekuk, Polisi Ungkap Puluhan TKP Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana Sempat Buron, Jukir Penggelap Motor Rp18 Juta Diciduk di Bandar Purus

Budaya

Di Tengah Gempuran Kopi Modern, Kawa Daun Tetap Jadi Kebanggaan Minangkabau

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Di Tengah Gempuran Kopi Modern, Kawa Daun Tetap Jadi Kebanggaan Minangkabau Perbesar

Covesia.co.id – Tren kedai kopi modern dengan beragam varian minuman terus berkembang di berbagai daerah. Namun di Sumatera Barat, secangkir kopi kawa daun masih menjadi pilihan favorit bagi banyak penikmat kopi yang merindukan cita rasa tradisional khas Minangkabau.

Berbeda dengan kopi pada umumnya yang diolah dari biji, kawa daun dibuat dari daun kopi yang telah dikeringkan dan disangrai, kemudian diseduh seperti teh.

Keunikan lainnya terletak pada penyajiannya yang menggunakan batok kelapa, memberikan aroma alami sekaligus menghadirkan nuansa tradisional yang sulit ditemukan pada minuman kopi modern.

Bagi sebagian masyarakat, kawa daun bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Minuman ini juga menjadi simbol warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Salah seorang penikmat kopi kawa daun, Karim, warga Lubuk Basung, Kabupaten Agam, mengaku lebih menyukai minuman tradisional tersebut dibandingkan kopi yang berasal dari biji kopi.

“Rasa kawa daun lebih ringan dan tidak terlalu pahit. Ada aroma khas dari daun kopi yang membuatnya berbeda dengan kopi biasa,” ujar Karim, Senin (27/7/2026).

Karim mengatakan dirinya hampir selalu memesan kawa daun setiap kali berkunjung ke warung kopi. Sesekali ia menikmati kawa daun yang dicampur susu, namun lebih sering memilih kawa daun murni yang ditemani gorengan sebagai pelengkap.

“Kalau sudah minum kawa daun sambil makan gorengan, rasanya lebih nikmat. Itu sudah menjadi kebiasaan saya,” katanya.

Ia menuturkan, kecintaannya terhadap kawa daun sudah dimulai sejak berusia sekitar 15 tahun. Saat itu ia diajak seorang teman untuk mencicipi minuman khas Minangkabau tersebut. Sejak pertama kali mencoba, Karim langsung jatuh hati dengan cita rasa yang unik dan berbeda.

Selain rasanya yang khas, menurut Karim, harga yang terjangkau juga menjadi alasan kawa daun tetap diminati berbagai kalangan. Dengan harga mulai sekitar Rp5.000 per gelas, minuman tradisional ini masih mudah dijangkau oleh masyarakat.

Di tengah pesatnya perkembangan industri kopi modern, kawa daun membuktikan bahwa minuman tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Cita rasa yang khas, penyajian menggunakan batok kelapa, serta nilai budaya yang melekat menjadikan kawa daun tidak hanya sekadar minuman, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Minangkabau yang terus lestari hingga kini. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin

31 Agustus 2026 - 13:27 WIB

Lomba Mural Wisata di Padang Selatan, 18 Karya Masuk Final

29 Agustus 2026 - 21:29 WIB

Makna Lamang Bagi Masyarakat Padang Pariaman Dalam Mauluik Nabi

29 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Dengan Mural, Dinding Tak Terawat Disulap Jadi Media Promosi Wisata Padang Selatan

29 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Makam Syekh Burhanuddin Ditetapkan Jadi Cagar Budaya Nasional

29 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Trending Topik Budaya