Covesia.co.id – Di tengah sejuknya kawasan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdapat satu tradisi minum kopi yang masih terus dipertahankan masyarakat hingga kini.
Tradisi tersebut dikenal dengan Kopi Tatungkuik, sajian kopi khas yang tidak hanya menawarkan cita rasa unik, tetapi juga pengalaman menikmati kopi dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Sekilas, proses pembuatan Kopi Tatungkuik tidak jauh berbeda dengan kopi tubruk.
Bubuk kopi murni dicampur dengan beras yang telah dibakar, kemudian diseduh menggunakan air mendidih. Setelah itu, gula atau susu ditambahkan sesuai selera.
Keunikan minuman ini terletak pada cara penyajiannya. Setelah kopi siap diseduh, gelas ditutup menggunakan piring kecil, kemudian dibalik secara perlahan hingga posisi gelas berada di atas piring.
Cara ini dipercaya mampu menjaga suhu kopi tetap hangat lebih lama sekaligus menjadi ciri khas yang membedakannya dengan sajian kopi lainnya.
Saat akan diminum, gelas diangkat sedikit demi sedikit atau ditiup menggunakan sedotan sehingga kopi mengalir ke piring. Penikmat kemudian menyeruput kopi langsung dari piring kecil tersebut.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali mencoba, cara menikmati Kopi Tatungkuik mungkin terasa tidak biasa. Namun, justru keunikan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri.
Salah seorang penikmat Kopi Tatungkuik, Razi, mengaku telah dua kali menikmati minuman khas Malalak tersebut.
Menurutnya, perpaduan rasa kopi dengan beras bakar menghadirkan cita rasa yang berbeda dibandingkan kopi pada umumnya.
“Kalau dari saya pribadi sudah dua kali menikmati Kopi Tatungkuik. Rasanya lebih enak karena bukan hanya terasa kopi, tetapi juga ada cita rasa khas dari beras yang dibakar. Perpaduan rasa kopi dan sedikit pahit dari beras bakar itu sangat cocok dikombinasikan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Tidak hanya dari sisi rasa, Razi juga menilai Kopi Tatungkuik menyimpan filosofi sederhana tentang cara menikmati sesuatu dalam kehidupan.
“Dari Kopi Tatungkuik saya punya filosofi sederhana. Kalau ingin menikmati sesuatu yang enak dan berbeda, kita harus memakai logika dulu untuk bisa menikmatinya. Seperti kopi ini, sebelum diminum kita harus tahu caranya. Setelah paham, barulah kita bisa menikmati rasa manis dan nikmat yang berbeda dari kopi pada umumnya,” katanya.
Menurutnya, filosofi tersebut mengajarkan bahwa tidak semua kenikmatan dapat diperoleh secara instan.
Dibutuhkan pemahaman, kesabaran, dan proses sebelum akhirnya seseorang dapat menikmati hasilnya.
Seiring perkembangan sektor pariwisata di Sumatera Barat, Kopi Tatungkuik kini tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional masyarakat Malalak, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Banyak wisatawan yang sengaja berhenti di kawasan Malalak untuk mencicipi sensasi menyeruput kopi dari piring, sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi para pelintas jalur Padang–Bukittinggi, menikmati secangkir Kopi Tatungkuik bukan sekadar melepas penat dalam perjalanan.
Lebih dari itu, pengalaman tersebut menghadirkan perpaduan antara kekayaan cita rasa, tradisi lokal, dan filosofi hidup yang sederhana, menjadikan Kopi Tatungkuik sebagai salah satu kekayaan kuliner khas Sumatera Barat yang patut terus dilestarikan. (*)











