Menu

Mode Gelap
Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Ditebus Rp 100 Juta, Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dievakuasi Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif Pemko Padang Matangkan Persiapan Menuju Kota Gastronomi Dunia

Budaya

Seabad Gempa Padang Panjang 1926, Unand Bedah Buku “Gempa Tujuh Hari” Untuk Mitigasi Bencana

badge-check

Seabad Gempa Padang Panjang 1926, Unand Bedah Buku “Gempa Tujuh Hari” Untuk Mitigasi Bencana Perbesar

Covesia.co.id – Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (Unand) menggelar Lecture and Learning Session Series #46 yang dirangkaikan dengan diskusi dan bedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya jurnalis Yose Hendra.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan seabad Gempa Padang Panjang 1926 sekaligus upaya memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana melalui pembelajaran sejarah.

Kegiatan berlangsung secara hybrid di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Padang, Rabu (22/7/2026).

Acara berada di bawah arahan Direktur Sekolah Pascasarjana Unand, Prof. Henny Lucida, dan dipimpin Ketua Program Studi Magister Manajemen Bencana, Prof. Yenny Narny.

Diskusi menghadirkan Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi, serta penulis buku Yose Hendra.

Dalam pemaparannya, Rustian menegaskan bahwa sejarah memiliki peran penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi.

Menurutnya, Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di Indonesia.

“Rangkaian bencana tersebut menunjukkan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, masih memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman gempa bumi. Karena itu, pengurangan risiko bencana harus diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang,” ujar Rustian.

Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana. Salah satunya melalui pelestarian rumah panggung tradisional Minangkabau yang dinilai memiliki konstruksi adaptif terhadap guncangan gempa.

“Desain tiang rumah yang tidak ditanam langsung ke tanah membuat bangunan dapat mengikuti arah guncangan gempa. Prinsip ini memiliki kemiripan dengan konsep base isolator pada teknologi bangunan modern. Rumah gadang bahkan telah dikenal dunia sebagai salah satu ikon arsitektur Indonesia yang aman terhadap gempa,” katanya.

Sementara itu, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi membagikan pengalaman rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa Padang 2009 yang menyebabkan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan.

Menurutnya, penanganan pascabencana tersebut melahirkan banyak pembelajaran penting, mulai dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa, penyempurnaan standar bangunan, peningkatan kapasitas tenaga tukang, hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk membangun hunian yang lebih aman.

“Tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kesadaran itu agar tidak menurun seiring berjalannya waktu,” ujar Dody.

Pada sesi bedah buku, penulis Yose Hendra menjelaskan bahwa buku Gempa Tujuh Hari disusun melalui penelusuran arsip kolonial, surat kabar, laporan ilmiah, hingga penelitian geologi terkini guna menghidupkan kembali memori kolektif mengenai salah satu bencana terbesar dalam sejarah Sumatera Barat.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Sumatera Barat hidup berdampingan dengan dua sumber utama ancaman gempa, yakni Zona Subduksi Mentawai dan Sesar Sumatra yang hingga kini masih aktif.

“Sejarah menunjukkan gempa besar pada jalur Sesar Sumatra terus berulang, seperti tahun 1822, 1926, dan 2007. Bahkan Sumatera Barat mengenal fenomena doublet earthquake, yaitu dua gempa utama yang terjadi berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar yang berbeda,” jelas Yose.

Yose mengungkapkan, gempa yang terjadi pada 28 Juni 1926 menjadikan Padang Panjang sebagai wilayah dengan dampak paling parah. Sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, sementara korban jiwa mencapai 247 orang. Kerusakan juga meluas hingga Bukittinggi, Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, dan Lubuk Sikaping.

Ia menambahkan, istilah “Gampo Tujuh Hari” lahir karena ratusan gempa susulan terus terjadi selama beberapa hari setelah gempa utama, bahkan getarannya masih tercatat hingga Agustus 1926.

“Istilah itu kemudian menjadi memori kolektif masyarakat Minangkabau mengenai salah satu bencana terbesar abad ke-20. Penyebutannya dipopulerkan media-media pada masa itu dan diperkuat oleh anggota Volksraad Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo dalam percakapannya dengan ahli zoologi Edward Richard Jacobson,” ungkapnya.

Direktur Sekolah Pascasarjana Unand, Prof. Henny Lucida, mengatakan kegiatan Lecture and Learning Session Series menjadi ruang akademik yang mempertemukan hasil riset, pengalaman praktis, dan pembelajaran sejarah untuk membangun budaya sadar bencana.

Senada dengan itu, Ketua Program Studi Magister Manajemen Bencana Unand, Prof. Yenny Narny, menilai peringatan seabad Gempa Padang Panjang merupakan momentum penting untuk memperkuat literasi kebencanaan di kalangan mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, hingga masyarakat.

“Satu abad telah berlalu sejak Gempa Padang Panjang menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Momentum ini menjadi pengingat bahwa membangun masyarakat yang tangguh dimulai dari pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata,” ujar Prof. Yenny.

Ia menambahkan, sejarah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai catatan masa lalu, tetapi menjadi sumber pengetahuan dalam membangun masa depan yang lebih aman.

“Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber pengetahuan yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana pada masa depan,” tutupnya.

Diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang membahas strategi pengurangan risiko bencana, pelestarian pengetahuan lokal, serta penguatan budaya sadar risiko di tengah tingginya ancaman gempa bumi di Sumatera Barat. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Di Tengah Gempuran Kopi Modern, Kawa Daun Tetap Jadi Kebanggaan Minangkabau

28 Juli 2026 - 15:59 WIB

Kopi Tatungkuik, Sensasi Menikmati Kopi Terbalik Khas Malalak yang Sarat Tradisi dan Filosofi

24 Juli 2026 - 11:16 WIB

Mengintip Sejarah Benteng Van der Capellen Yang Diusulkan Jadi Museum Sejarah

21 Juli 2026 - 15:34 WIB

Perayaan HUT Kota Padang Ke-357 Tahun, Ini Rangkaian Acara Taste Of Padang Experience 2026

16 Juli 2026 - 14:46 WIB

2 Budaya di Kota Padang Ini Ditetapkan Kemenbud Sebagai WBTbi

11 Juli 2026 - 10:30 WIB

Trending Topik Budaya