Covesia.co.id — Narasi turun-temurun mengenai penggunaan putih telur sebagai perekat utama pembangunan Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat, terbantahkan oleh hasil kajian ilmiah. Menara jam ikonik yang genap berusia 100 tahun pada 2026 ini nyatanya dibangun menggunakan teknologi beton bertulang (reinforced concrete) yang sangat maju pada zamannya.
Fakta tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional “100 Tahun Jam Gadang” di Bung Hatta Convention Hall, Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026).
Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, mengungkapkan bahwa ketahanan Jam Gadang menghadapi serangkaian gempa besar di Sumatera Barat bukan disebabkan oleh mitos perekat putih telur, melainkan karena kualitas desain dan material struktural modern.
“Kehebatan sesungguhnya adalah kemampuannya bertahan 100 tahun di kawasan yang sangat aktif secara seismik. Itu merupakan bukti kualitas desain, material, dan konstruksi yang luar biasa,” ujar Iskandar.
Iskandar merujuk pada penelitian berjudul The Construction and Structural Reliability of Jam Gadang oleh Khadavi dan Yulcherlina dari Universitas Bung Hatta yang diterbitkan pada Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil (Maret 2018). Kajian ilmiah yang dilakukan pascagempa besar Sumatera tahun 2007 dan 2009 ini mendapati sejumlah fakta teknis:
Teknologi Beton Bertulang: Struktur utama menara setinggi 28,3 meter ini dilengkapi tulangan baja pada kolom, balok, hingga pelat lantai.
Kuat Tekan Tinggi: Hasil pengujian memperlihatkan kuat tekan beton Jam Gadang mencapai sedikitnya 25 megapascal (MPa). Angka ini masih memenuhi standar spesifikasi bangunan struktural modern saat ini.
Kondisi Fondasi: Investigasi mengonfirmasi tidak ditemukan kerusakan struktural signifikan, penurunan, maupun kerusakan pada fondasi, sehingga perkuatan struktur (retrofitting) dinilai belum diperlukan.
Penggunaan teknologi beton bertulang pada tahun 1926 tersebut dinilai logis mengingat Sumatera Barat telah memiliki pabrik semen pertama di Indarung, Kota Padang, yang berdiri sejak tahun 1910.
Selain meluruskan mitos material perekat, seminar tersebut juga mengklarifikasi dua narasi populer lain yang kerap keliru disampaikan kepada publik:
Bukan Kembaran Big Ben: Mesin Jam Gadang diproduksi oleh Benhard Vortmann di Recklinghausen, Jerman. Sementara itu, menara jam Big Ben di London menggunakan mekanisme buatan Dent & Co asal Inggris. Kedua jam ini diproduksi oleh perusahaan yang berbeda secara historis.
Misteri Angka Romawi “IIII”: Penulisan angka empat dengan simbol “IIII” pada penunjuk waktu Jam Gadang bukanlah kesalahan cetak atau keunikan lokal. Penulisan tersebut merupakan praktik lazim pada menara jam klasik di Eropa demi menjaga keseimbangan visual (visual balance) dan estetika arsitektur.
Kisah penggunaan putih telur kini dikategorikan sebagai folklor atau cerita rakyat, bukan fakta utama konstruksi. Meski demikian, keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan fisik Jam Gadang tercatat nyata secara historis.
Salah satu bukti kontribusi lokal datang dari perajin bata merah tradisional, A Datuak Rajo Dilangik. Menurut penuturan keturunannya, Vesco Datuak Rajo Mangkuto, material bata merah diolah secara tradisional menggunakan bantuan kerbau dan wajib melewati uji jatuh dari pedati untuk memastikan kualitas terbaik sebelum dipasang.
Menanggapi temuan-temuan ilmiah ini, Ahli Utama Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, menyatakan bahwa data teknis dan historis ini akan menjadi masukan penting untuk memperbarui materi informasi wisata sejarah bagi para pelancong ke depannya.
Pakar dan praktisi mendorong agar pelurusan sejarah berbasis riset ini diintegrasikan ke dalam paket wisata warisan budaya (heritage tourism) Sumatera Barat, yang menghubungkan Jam Gadang dengan situs industri bersejarah lain seperti Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto dan Cagar Budaya Nasional Pabrik Semen Indarung I. (*)











