Menu ✖

Mode Gelap
Operasi Senyap Polda Sumbar di Pasaman, Alat Berat dan Operator Berhasil Diamankan Polisi Razia Tempat Hiburan Malam di Solok, Ratusan Botol Miras Disita Hujan Intensitas Sedang Hingga Lebat Diprakirakan Guyur Sejumlah Wilayah Sumbar  Sumbar Diprediksi Diguyur Hujan Berintensitas Sedang- Lebat Hari Ini Mengenal Yulius, Hakim Agung Kelahiran Bukittinggi yang Pimpin Sidang Kasasi Suket Gibran Waspada! November-Desember Jadi Puncak Musim Hujan di Sumbar

Lingkungan

Terparah dalam 122 Tahun, Gelombang Panas Tewaskan 16 Warga Korea Selatan

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Terparah dalam 122 Tahun, Gelombang Panas Tewaskan 16 Warga Korea Selatan Perbesar

Covesia.co.id – Korea Selatan tengah menghadapi gelombang panas paling ekstrem sejak 122 tahun terakhir. Suhu udara di sejumlah wilayah menembus 42 derajat Celsius.

Kondisi ini memicu krisis kesehatan masyarakat dan menewaskan sedikitnya 16 orang sejak awal musim panas tahun ini.

Badan Meteorologi Korea (Korea Meteorological Administration/KMA) mencatat suhu tertinggi terjadi di Kota Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan, yang mencapai 42,5 derajat Celsius pada 2 Agustus 2026.

Angka tersebut menjadi suhu tertinggi sejak pencatatan cuaca modern dimulai pada 1904.

Pemerintah Korea Selatan pun meningkatkan status kewaspadaan terhadap gelombang panas. Termasuk menetapkan peringatan panas ekstrem di wilayah Seoul dan Provinsi Gyeonggi untuk pertama kalinya.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, meminta seluruh kementerian dan pemerintah daerah memperkuat langkah perlindungan bagi masyarakat. Khususnya kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, pekerja luar ruangan, serta warga yang memiliki penyakit kronis.

“Kita perlu berupaya melakukan perombakan mendasar terhadap sistem krisis nasional, karena cuaca ekstrem ini sudah menjadi hal yang biasa,” ujar Lee Jae Myung pada Selasa (4/8/2026).

Presiden Korsel juga menginstruksikan pemerintah memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan aman serta menjaga pasokan listrik di tengah meningkatnya penggunaan pendingin ruangan akibat suhu ekstrem.

Menurut data KMA, sejak Mei 2026 lebih dari 2.000 orang telah mendapatkan perawatan medis akibat penyakit yang berhubungan dengan paparan panas, mulai dari dehidrasi hingga serangan panas (heat stroke).

Gelombang panas yang sebelumnya terkonsentrasi di wilayah tenggara kini meluas ke Seoul, kota berpenduduk lebih dari sembilan juta jiwa.

Pemerintah Kota Seoul segera menggelar rapat darurat dan memperluas langkah mitigasi. Sekitar 63.000 lansia, penyandang disabilitas, serta warga dengan penyakit kronis menjadi sasaran pemeriksaan kesehatan secara intensif.

Selain itu, pemerintah mengerahkan sekitar 200 truk penyiram air untuk mendinginkan hampir 2.000 kilometer ruas jalan guna menurunkan suhu permukaan perkotaan.

Sejumlah lokasi juga dilengkapi zona kabut air sebagai tempat warga berlindung dari panas.

Aktivitas Masyarakat Terganggu
Cuaca ekstrem turut mengganggu aktivitas sehari-hari.

Banyak warga memilih menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, kafe berpendingin udara, maupun tempat perlindungan sementara guna menghindari paparan panas.

Seorang pekerja konstruksi di Seoul mengaku kondisi kerja menjadi semakin berat akibat minimnya fasilitas pendingin.

“Kami istirahat 10 menit setiap jam, tetapi bahkan tidak ada kipas angin di sini. Yang bisa kami lakukan hanyalah duduk di tempat teduh,” ujar seorang pekerja konstruksi kepada The Korea Times.

Pekerja lainnya menggambarkan suasana di lokasi proyek seperti berada di dalam sauna karena buruknya sirkulasi udara.

Dampak suhu ekstrem juga dirasakan sektor olahraga. Organisasi Bisbol Korea membatalkan pertandingan di Changwon setelah suhu di wilayah tersebut mencapai 39,5 derajat Celsius, demi menjaga keselamatan pemain maupun penonton.

Fenomena Foehn Perparah Suhu
KMA menjelaskan gelombang panas dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang bertahan di atas Semenanjung Korea sehingga menghalangi masuknya udara yang lebih sejuk.

Di wilayah Gyeongsang Selatan, kondisi diperburuk oleh fenomena foehn, yakni angin yang menjadi lebih panas dan kering setelah melewati pegunungan.

Fenomena tersebut menyebabkan suhu di sejumlah wilayah mampu menembus 40 derajat Celsius selama beberapa hari berturut-turut. (*).

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Polda Sumbar Ungkap Dugaan Jaringan Penadah Motor Lintas Provinsi

31 Oktober 2026 - 12:46 WIB

Antisipasi Bencana, IJTI Sumbar Soroti Efektivitas CSR dan Pemulihan Pasca-Bencana

22 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Kualitas Udara di Sumbar Belum Menunjukkan Tanda Membaik

20 Oktober 2026 - 09:18 WIB

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Sejumlah Wilayah Sumbar

19 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ini Tanggapan Dishut Sumbar Soal Tumpang Tindih Tanah Milik Fauzi Bahar

17 Oktober 2026 - 11:36 WIB

Trending Topik Lingkungan