Menu

Mode Gelap
Pagi Ini Kualitas Udara Padang Kembali Berbahaya, ISPU Tembus 440 Komplotan Curanmor Di Kota Padang Dibekuk, Polisi Ungkap Puluhan TKP Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana

Daerah

Pemanfaatan Limbah Ikan sebagai Pangan Fungsional: Model Pemberdayaan Ekonomi Pasca Bencana di Nagari Katapiang

Redaksi Covesiabadge-check

Pemanfaatan Limbah Ikan sebagai Pangan Fungsional: Model Pemberdayaan Ekonomi Pasca Bencana di Nagari Katapiang Perbesar

Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga mengguncang struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Di wilayah pesisir seperti Desa Bandacino, Nagari Katapiang, Kabupaten Padang Pariaman, dampak bencana seringkali diperparah oleh ketergantungan masyarakat pada sektor perikanan yang rentan terhadap perubahan lingkungan. Dalam situasi ini, dibutuhkan pendekatan pemberdayaan yang tidak hanya bersifat tanggap darurat, tetapi juga berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak yang dipimpin oleh Ns. Sri Burhani Putri, M.Kep, PhD selaku Ketua Pelaksana, bersama tim anggota yang terdiri dari Bd. Rahmatul Ulya, M.Keb, PhD, Vilma Humaira, M.Farm, dan apt. Fajrian Aulia Putra, M.Farm, sebuah model pemberdayaan pasca bencana dikembangkan dengan mengoptimalkan limbah ikan sebagai sumber pangan fungsional sekaligus produk bernilai ekonomi. Pendekatan ini bertujuan untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu pemulihan ekonomi masyarakat dan peningkatan ketahanan pangan keluarga.

Limbah ikan, seperti tulang, kulit, dan kepala, selama ini cenderung terbuang dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah tersebut memiliki kandungan gizi tinggi, terutama protein, kalsium, dan kolagen, yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dengan pengolahan yang tepat, limbah ikan dapat diubah menjadi berbagai produk pangan fungsional seperti tepung tulang ikan, kerupuk kulit ikan, hingga nugget ikan berbasis limbah.

Program ini diawali dengan identifikasi kebutuhan masyarakat serta potensi sumber daya lokal. Mahasiswa bersama masyarakat melakukan pelatihan pengolahan limbah ikan dengan teknologi sederhana namun higienis. Selain itu, masyarakat juga dibekali dengan pengetahuan tentang keamanan pangan, pengemasan produk, serta strategi pemasaran untuk meningkatkan daya saing produk.

Hasil implementasi menunjukkan adanya peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah ikan menjadi produk bernilai jual. Kelompok usaha kecil yang terbentuk mulai mampu memproduksi dan memasarkan produk secara mandiri di tingkat lokal. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha baru, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan.

Lebih dari itu, model pemberdayaan ini mendorong perubahan paradigma masyarakat terhadap limbah. Limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat kesehatan. Dengan demikian, program ini turut berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah nagari, dan masyarakat setempat. Sinergi ini menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan mahasiswa berakhir. Pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan kebijakan dari pemerintah daerah sangat diperlukan untuk memperluas dampak program ke wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa.

Model pemberdayaan berbasis pemanfaatan limbah ikan ini dapat menjadi alternatif strategi pemulihan pasca bencana yang inovatif dan aplikatif. Dengan mengedepankan potensi lokal, pendekatan ini mampu menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ke depan, diharapkan model ini dapat direplikasi secara lebih luas sebagai bagian dari upaya pembangunan masyarakat tangguh bencana di Indonesia.

Penulis: Ns.Sri Burhani Putri, M.Kep, PhD

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Pagi Ini Kualitas Udara Padang Kembali Berbahaya, ISPU Tembus 440

14 September 2026 - 11:11 WIB

Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen

13 September 2026 - 10:38 WIB

Sempat Buron, Jukir Penggelap Motor Rp18 Juta Diciduk di Bandar Purus

12 September 2026 - 17:04 WIB

Hutang Sabu di Balik Dapur: Ketika Kristal Haram Menyasar Pekerja Kasar di Padang Pariaman

12 September 2026 - 10:23 WIB

Kualitas Udara Kota Padang Capai Level Sangat Tidak Sehat

2 September 2026 - 17:50 WIB

Trending Topik Lingkungan