Menu

Mode Gelap
Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana Sempat Buron, Jukir Penggelap Motor Rp18 Juta Diciduk di Bandar Purus Daftar 31 SPBU ‘ Nakal’ di Sumbar yang Disanksi Tegas Pertamina

News

Pabrik Indarung I Semen Padang Bakal Disulap Jadi Amfiteater dan Ruang Publik

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Pabrik Indarung I Semen Padang Bakal Disulap Jadi Amfiteater dan Ruang Publik Perbesar

Covesia.co.id – Pabrik Indarung I PT Semen Padang bakal direvitalisasi menjadi ruang publik dan pusat aktivitas seni serta kebudayaan masyarakat.

Bagian Kolam lama pada Bangunan Cagar Budaya Nasional ini rencana akan diubah menjadi amfiteater.

Rencana tersebut mengemuka saat Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko meninjau langsung kawasan Pabrik Indarung I di Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Jumat (4/9/2026).

Agus mengatakan revitalisasi dilakukan untuk memberikan fungsi baru terhadap bagian-bagian bekas fasilitas industri yang sudah tidak digunakan.

Dengan konsep tersebut, kawasan bersejarah itu tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Yang dulunya industri atau pabrik semen, kita dari Kementerian Kebudayaan dalam waktu dekat akan melakukan revitalisasi bekas pabrik semen ini. Salah satu dari tempat ini mau kita jadikan ruang publik,” kata Agus.

Salah satu perubahan yang disiapkan berada di area kolam lama dalam kompleks Pabrik Indarung I. Kolam yang sudah tidak digunakan tersebut akan ditata menjadi ruang pertunjukan terbuka atau amfiteater.

“Yang ini kan ada kolam. Nah, kita sulap, kita ubah menjadi sebuah amfiteater. Karena juga sudah tidak berfungsi lagi, kita jadikan amfiteater. Nanti digunakan untuk pertunjukan seni dan kegiatan-kegiatan berkebudayaan masyarakat,” ujarnya.

Selain menjadi lokasi pertunjukan seni, kawasan tersebut nantinya diarahkan sebagai ruang interaksi masyarakat.

Aktivitas kebudayaan, kreativitas, hingga kegiatan publik dapat digelar di lingkungan bekas pabrik tersebut tanpa menghilangkan karakter sejarah yang melekat pada bangunan dan kawasan.

Agus menegaskan revitalisasi harus membuat kawasan cagar budaya tetap hidup dan memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

“Artinya pabrik yang sudah tidak berfungsi, kalau digunakan, direvitalisasi, diubah penggunaannya sebagai pusat aktivitas budaya,” katanya.

Rencana itu juga menjadi bagian dari langkah jangka panjang untuk memperkuat nilai Pabrik Indarung I sebagai warisan industri sekaligus membuka peluang menuju pengakuan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Menurut Agus, upaya menuju pengakuan UNESCO tidak dapat dilakukan secara instan. Kawasan harus terlebih dahulu diaktifkan, dikelola secara berkelanjutan, dan memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.

“Seperti halnya Sawahlunto, Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto sudah menjadi warisan budaya dunia. Menjadi warisan ini juga butuh proses panjang, dan yang terpenting adalah kelanjutannya,” ujar Agus.

Ia mengatakan pengalaman Sawahlunto menjadi salah satu gambaran bahwa pengelolaan setelah memperoleh status warisan dunia juga menjadi hal penting.

Karena itu, pemerintah mendorong aktivasi kawasan Pabrik Indarung I sebelum melangkah lebih jauh menuju pengakuan internasional.

“Nah, setelah menjadi warisan dunia itu manajemennya bagaimana. Makanya kita sebelum menuju ke sana, kita aktivasi dulu sebagai pusat-pusat berkebudayaan,” katanya.

Pihak PT Semen Padang menyatakan mendukung rencana revitalisasi tersebut.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang Win Bernadino mengatakan Pabrik Indarung I memiliki nilai sejarah penting sebagai bagian dari perjalanan panjang industri semen di Indonesia.

“Kami mengapresiasi kunjungan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan ke Cagar Budaya Nasional Pabrik Indarung I. Kunjungan ini semakin mengukuhkan keberadaan Pabrik Indarung I sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah dan warisan budaya yang penting,” kata Win.

Menurut Win, revitalisasi harus tetap menjaga nilai sejarah kawasan sekaligus memberikan fungsi baru yang dapat dirasakan masyarakat.

“Yang terpenting adalah bagaimana nilai sejarah kawasan ini tetap terjaga, sementara pada saat yang sama kawasan tersebut dapat memiliki fungsi baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pabrik Indarung I memiliki posisi penting dalam sejarah industri semen di kawasan Asia Tenggara.

PT Semen Padang sebelumnya menyebut pabrik tersebut dibangun pada masa kolonial Belanda pada 1910 dan menjadi salah satu tonggak awal perkembangan industri semen di Indonesia.

Gagasan pemanfaatan Pabrik Indarung I sebagai ruang seni dan budaya sebenarnya telah mengemuka sejak kunjungan Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Maret 2026.

Saat itu, Fadli juga mendorong kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang edukasi, ekspresi seni, pameran, pertunjukan teater, hingga amfiteater.

Dengan revitalisasi tersebut, Pabrik Indarung I diharapkan tidak hanya menjadi kawasan yang menyimpan sejarah industri, tetapi berkembang sebagai ruang publik yang mempertemukan sejarah, seni, budaya dan aktivitas masyarakat di Kota Padang. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu

13 September 2026 - 09:55 WIB

Daftar 31 SPBU ‘ Nakal’ di Sumbar yang Disanksi Tegas Pertamina

12 September 2026 - 12:39 WIB

BMKG Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Sumatera Barat

12 September 2026 - 11:27 WIB

Tak Kuat Menanjak di Sitinjau Lauik, Pikap Hantam Truk hingga Masuk Jurang

12 September 2026 - 10:04 WIB

BMKG: Gempa Terjadi di Sejumlah Wilayah, Jakarta hingga Maluku Turut Terdampak

12 September 2026 - 09:59 WIB

Trending Topik News