Covesia.co.id – Pemerintah tengah menyiapkan babak baru kebijakan energi nasional melalui pengembangan Tabung Merah Putih, tabung gas berbasis Compressed Natural Gas (CNG).
Tabung ini dirancang sebagai alternatif pengganti LPG subsidi 3 kilogram atau yang selama ini dikenal masyarakat sebagai “gas melon”.
Program yang digagas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertimbangkan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Padahal alam Indonesia, kaya akan cadangan gas bumi domestik. Alasan inilah kenapa muncul ide untuk membuat tabung gas merah putih dengan bahan baku gas bumi. Dengan begitu, bisa menekan beban subsidi dan import.
CNG dan LPG adalah bahan yang berbeda. Jika LPG adalah gas minyak bumi cair, CNG ada adalah gas alam terkompresi.
Gas ini dipadatkan dalam tekanan tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga dengan kapasitas energi.
Hingga saat ini, program tabung merah putih belum memasuki tahap distribusi kepada masyarakat. Seluruh kegiatan masih difokuskan pada penyempurnaan teknologi dan pengujian aspek keselamatan sebelum diproduksi secara massal.
Tabung gas merah putih dinilai lebih mengefisiensikan anggaran import. Pasalnya lebih dari 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Setiap tahun pemerintah harus mengimpor sekitar 6,5–7 juta metrik ton LPG, sementara anggaran subsidi LPG 3 kilogram mencapai lebih dari Rp80 triliun per tahun. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menanggung dua beban sekaligus, yakni biaya subsidi dan devisa impor.
Melalui pemanfaatan gas bumi domestik, beban impor dapat berkurang secara bertahap.
Dalam simulasi awal Kementerian ESDM, apabila harga jual kepada masyarakat tetap disamakan dengan LPG subsidi 3 kilogram, beban subsidi negara diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar 30 persen.
Namun angka tersebut masih berupa simulasi dan akan bergantung pada hasil implementasi di lapangan.
Secara teknis, Tabung Merah Putih juga memiliki sejumlah perbedaan dibanding tabung gas melon.
Dari sisi kelebihan, CNG memanfaatkan gas bumi yang tersedia di dalam negeri sehingga pasokannya dinilai lebih berkelanjutan. Material tabung menggunakan komposit tipe 4 yang lebih ringan dibanding tabung baja konvensional.
Selain itu, pemerintah membekali tabung dengan katup penurun tekanan otomatis sebagai fitur keselamatan tambahan. Karena gas alam lebih ringan daripada udara, apabila terjadi kebocoran gas cenderung naik ke atmosfer sehingga risiko penumpukan di lantai relatif lebih kecil dibanding LPG.
Namun di balik berbagai keunggulan tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang masih harus diselesaikan.
CNG disimpan dalam tekanan sekitar 200–250 bar, jauh lebih tinggi dibanding LPG.
Konsekuensinya, kualitas tabung, katup, regulator, serta proses pengisian harus memenuhi standar keselamatan yang jauh lebih ketat.
Infrastruktur distribusi juga belum tersedia secara luas karena membutuhkan jaringan pasokan gas dan stasiun pengisian khusus. Kondisi ini menjadi salah satu alasan pemerintah belum terburu-buru melakukan konversi secara nasional.
Tahapan uji coba kini menjadi fokus utama pemerintah. Menurut Direktorat Jenderal Migas, sekitar 15 unit prototipe disiapkan untuk menjalani pengujian di Lemigas.
Pengujian meliputi ketahanan tabung terhadap tekanan tinggi, keandalan katup pengaman, sistem regulator, hingga aspek keselamatan penggunaan sehari-hari.
Pemerintah menyebut proses uji coba telah memasuki tahap ketiga dan masih menyisakan satu tahap pengujian lagi sebelum diputuskan layak diedarkan kepada masyarakat.
Pada tahap awal, prototipe tabung masih didatangkan dari China karena menggunakan teknologi tabung komposit yang belum diproduksi di Indonesia.
Meski demikian, pemerintah membuka peluang pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri apabila kebutuhan Tabung Merah Putih meningkat pada masa mendatang.
Apabila seluruh pengujian dinyatakan berhasil, implementasi diperkirakan dilakukan secara bertahap, dimulai dari wilayah yang telah memiliki infrastruktur jaringan gas memadai sebelum diperluas ke daerah lain.
Pemerintah juga menyatakan harga jual kepada masyarakat akan diupayakan tetap setara dengan harga LPG subsidi agar proses transisi tidak membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
Dengan demikian, hingga akhir Juli 2026, Tabung Merah Putih masih berada pada fase pengembangan dan validasi. Belum ada keputusan mengenai penggantian nasional LPG 3 kilogram.
Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh hasil uji keselamatan, kesiapan infrastruktur distribusi, kemampuan industri dalam negeri memproduksi tabung, serta penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru yang diharapkan mampu mengurangi impor energi dan menekan beban subsidi negara. (*)











