Covesia.co.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian ketika kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk.
Selain mengganggu jarak pandang, paparan asap dalam waktu lama juga dapat berdampak pada kesehatan.
Mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk hingga sesak napas dapat muncul akibat paparan polutan dari kabut asap.
Karena itu, menggunakan masker menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan partikel di udara.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada masker yang mampu memberikan perlindungan terhadap seluruh jenis polutan maupun seluruh bagian tubuh.
Setiap jenis masker memiliki tingkat perlindungan yang berbeda. Berikut beberapa jenis masker yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi paparan partikel asap karhutla:
1. Respirator P100 dan jenis lainnya
Respirator memiliki berbagai jenis, seperti P100, N100, R95, R100 dan P95. Huruf dan angka pada respirator menunjukkan karakteristik serta tingkat efisiensi penyaringannya.
Bagi masyarakat umum, pemilihan respirator perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Tidak semua jenis respirator cocok atau nyaman digunakan oleh setiap orang.
2. Masker N95
Masker N95 merupakan salah satu pilihan untuk mengurangi paparan partikel asap ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Masker ini dirancang untuk menyaring setidaknya 95 persen partikel pada kondisi pengujian tertentu.
Namun, angka 95 pada N95 menunjukkan efisiensi penyaringan terhadap partikel dalam kondisi tersebut, bukan berarti masker mampu menyaring 95 persen seluruh asap karhutla.
Dibandingkan respirator P100, N95 lebih umum digunakan masyarakat. Meski demikian, penggunaan dalam waktu lama dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Karena itu, penggunaannya tetap perlu mengikuti petunjuk yang benar.
3. Masker bedah
Masker bedah lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masker ini tidak memberikan perlindungan optimal terhadap kabut asap karena tidak menutup wajah secara rapat dan bukan dirancang sebagai respirator.
Fungsi utama masker bedah adalah melindungi dari percikan droplet dan membantu mencegah penyebaran kontaminan.
Meski demikian, jika tidak memiliki masker respirator, penggunaan masker bedah tetap lebih baik daripada tidak menggunakan perlindungan sama sekali ketika berada di tengah kabut asap.
4. Masker kain
Kemampuan masker kain dalam menyaring partikel sangat bervariasi, tergantung bahan dan jumlah lapisannya. Masker yang longgar dan memiliki banyak celah tidak dapat memberikan perlindungan optimal.
Karena itu, masker kain tidak disarankan sebagai pilihan utama untuk menghadapi paparan kabut asap karhutla. Jika digunakan, masker perlu diganti dan dicuci secara berkala sesuai kondisinya.
Di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap, pemilihan masker yang tepat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel berbahaya. (*)










