Covesia.co.id — Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Barat kembali memburuk, setelah tidak adanya hujan selama dua hari terakhir.
Kabut asap pun kembali pekat dengan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada Selasa (15/9/2026), Parit Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, mencatat kualitas udara terburuk dengan Air Quality Index (AQI) mencapai 209 atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Kota Padang berada di urutan berikutnya dengan AQI 194. Sementara itu, Tuapejat, Kepulauan Mentawai, mencatat AQI 160.
Sejumlah wilayah lain juga berada pada kategori tidak sehat, yakni Air Bangis, Pasaman Barat, dan Pulau Punjung, Dharmasraya, masing-masing dengan AQI 158. Kemudian Sijunjung dengan AQI 155, Talawi, Sawahlunto 152, dan Payakumbuh 151.
Adapun beberapa daerah masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Di antaranya Solok dengan AQI 139, Bukittinggi 136, dan Matur, Kabupaten Agam, dengan AQI 122.
Sementara itu, kualitas udara di Pariaman tercatat berada pada kategori sedang dengan AQI 81. Kondisi serupa juga terjadi di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, dengan AQI 74.
Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian di tengah paparan asap yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah pulau Sumatera.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memantau keberadaan aerosol, termasuk partikulat PM2,5, di sejumlah wilayah Sumatera Barat pada periode 16-18 September 2026. Kondisi atmosfer diprakirakan berada pada kategori baik hingga sedang di sebagian wilayah.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker dan menjaga kondisi kesehatan.
Kualitas udara juga perlu dipantau secara berkala karena dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin serta sumber emisi di wilayah sekitar. (*)










