Covesia.co.id – Struktur sosial selalu punya cara tersendiri dalam mempengaruhi gaya hidup masyarakat, di mana kita seolah dituntut untuk terus berlari mengikuti perkembangan zaman. Perubahan dari masa ke masa ini memberikan dampak yang sangat pesat terhadap perilaku anak muda. Tengok saja bagaimana siklus pergantian tren digital dengan busana global kini melompat ke fase tercepat dalam sejarah, bergerak liar seiring maraknya penggunaan algoritma kecerdasan buatan (AI).
Perubahan gaya hidup kita saat ini memang didominasi oleh tren digital yang sangat masif, menyelinap ke dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dalam hitungan bulan, bahkan hari, gaya busana terbaru kini sudah bisa diproduksi secara massal dan diakses oleh konsumen lintas kelas sosial. Fenomena ini mengubah total cara masyarakat global dalam mengonsumsi produk sandang, terutama dalam cara berpakaian.

Mari menengok ke belakang. Jauh pada abad ke-14, gaya berpakaian fungsi utamanya adalah sebagai identifikasi sosial. Bukan sekadar penanda jabatan, melainkan sebuah hierarki visual yang kaku. Kala itu, pakaian seseorang secara instan menunjukkan posisi kelas, tingkat kekayaan, serta hak hukum mereka di masyarakat.
Piramida itu terlihat jelas: mulai dari kelas elit monarki yang pakaiannya hanya boleh digunakan oleh para bangsawan, hingga tingkat borjuis atau pedagang—mereka yang memiliki banyak uang dari hasil berdagang tetapi tidak memiliki garis keturunan darah biru. Sementara itu, di lapisan paling bawah, pakaian para budak hanya berfungsi sebagai pelindung dari cuaca, bukan sebagai alat estetika.
Waktu bergulir ke dekade 1950-an di abad ke-20. Masyarakat mulai mengubah selera mereka, bermigrasi dari sistem hierarki yang kaku penuh aturan menuju sistem horizontal yang lebih inklusif. Perubahan gaya ini terbukti ketika segelintir kelompok elit tidak lagi mendominasi dan mengendalikan tren atau aturan para leluhur.
Dinukil Covesia dari Crane, D. Fashion and Its Social Agendas: Class, Gender, and Identity in Clothing. University of Chicago Press, Rabu (18/6) disebutkan bahwa, di abad ke-20, lahirlah sebuah gerakan bernama “Demokratisasi Fashion”. Gerakan ini mendobrak banyak pemikiran bangsa elit, yang kemudian gaungnya berlanjut ke kaum pedagang hingga kelas bawah. Kini, pakaian tidak lagi dipandang sebagai sebuah aturan yang mengekang, melainkan sebuah karya seni. Adanya demokratisasi fashion ini berhasil mematahkan aturan piramida kaku yang dulunya dipenuhi kontrol, mengubahnya menjadi panggung bebas untuk ekspresi seni visual.
Tren itu berlanjut hingga hari ini. Fashion tidak lagi berkiblat pada satu tren tunggal, melainkan pecah menjadi berbagai subkultur gaya yang fantastis dan unik. Bahkan, jalanan kini bertransformasi menjadi ajang pamer dengan gaya yang nyentrik dan penuh variasi.
Salah satu ajang fashion show jalanan yang sempat viral di Indonesia adalah Citayam Fashion Week (CFW). Berlokasi di atas zebra cross kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta Pusat, fenomena unik ini digerakkan oleh sekumpulan remaja dari pinggiran Jakarta (seperti Citayam, Bojong Gede, dan Depok). Sebuah gerakan organik dari akar rumput yang dengan jenaka kerap diplesetkan oleh netizen sebagai remaja “SCBD” (Sudirman, Citayam, Bojong Gede, Depok). (*)


















