Menu

Dark Mode
Dari Pakem Tradisi ke Tren Kekinian: Evolusi Estetika Busana Pengantin Minangkabau Jogging Jadi Mood Booster Sekaligus Lifestyle Kece Vespa: Dari ‘Kerangka’ Pesawat Tempur Menjadi Ikon Klasik Abadi Bukan Dapat Restu Malah Dapat Malu, Terduga Maling Ini Diciduk di Rumah Pacarnya Urai Antrean Panjang di SPBU, Gubernur Sumbar Bentuk Satgas Pengawasan BBM Subsidi Ditangkap di Jakarta, Anggota DPRD Sumbar Beny Saswin Dibawa ke Kejati Sumbar

Life Style

Dari Pakem Tradisi ke Tren Kekinian: Evolusi Estetika Busana Pengantin Minangkabau

badge-check


Ilustrasi (Wikipedia) Perbesar

Ilustrasi (Wikipedia)

Covesia.co.id – Berpakaian di bumi Minangkabau memiliki akar sejarah yang diturunkan dari masa ke masa. Bukan sekadar penutup tubuh, cara berpakaian di sini juga menjadi perwujudan dari martabat, kesopanan, dan kepribadian.

Flashback ke masa lalu, dalam tradisi Minangkabau, seorang perempuan dituntut untuk berpakaian longgar, tertutup, dan tidak membentuk lekuk tubuh. Ketatnya aturan kesopanan berpakaian ini berpegang teguh pada prinsip dasar hidup orang Minang, yakni “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

Namun, perubahan zaman membawa pengaruh global yang cukup besar. Di Minangkabau sendiri, gaya berpakaian kini mulai bergeser menjadi tren kekinian dengan menggabungkan variasi antarbudaya.

Mengutip dari diskusi Google Groups Mochtar Naim, Jumat (19/6): Budaya Merantau Orang Minang, disampaikan bahwa penggabungan variasi busana adat ini sangat dipengaruhi oleh tradisi masyarakat Minangkabau yang gemar merantau. Hal ini sejalan dengan pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Kebiasaan ini membuat masyarakat membawa budaya asal ke perantauan, dan sebaliknya, membawa budaya perantauan masuk ke kampung halaman. Perpaduan inilah yang melahirkan variasi baru pada pakaian adat budaya Minangkabau, terutama pada pakaian pengantin perempuan atau anak daro. Jika dahulu identik dengan baju kurung bertabur yang dipadukan dengan suntiang, kini tampilannya bergeser menjadi kebaya Minang modern, gaun mewah, hingga paduan perhiasan emas yang mengilap.

Melansir dari situs WeddingMarket.com, perpaduan warna pengantin Minangkabau juga mengalami evolusi. Jika dahulu baju pengantin didominasi oleh warna-warna pakem seperti merah, emas, dan hitam, tren terkini justru banyak mengadopsi warna-warna pastel mewah. Warna seperti terracotta, sage green, rose gold, hingga putih bersih (cloud dancer) kini makin digandrungi karena menyesuaikan dengan tren warna pernikahan global.

Bukan hanya perihal warna, pergeseran juga terjadi dari segi material kain. Dulunya, busana pengantin wajib menggunakan kain sutra murni, satin, dan songket Pandai Sikek asli hasil tenunan tangan. Sekarang, bahan tersebut kerap diganti atau dimodifikasi dengan kain beludru (velvet), mikado, jacquard (jaguar), hingga songket Silungkang.

Pergeseran dari segi model, warna, dan bahan ini memberikan dampak yang cukup signifikan. Bagi pengantin modern, faktor kenyamanan kini menjadi prioritas utama. Hal ini sedikit berbeda dengan pengantin zaman dahulu, di mana pakaian pengantin murni menjadi lambang kehormatan keluarga yang harus terlihat megah dan kokoh, meskipun sang pengantin harus rela menahan beban yang berat di badannya sepanjang hari.

(*)

Facebook Comments Box

Kabar lainnya

Jogging Jadi Mood Booster Sekaligus Lifestyle Kece

19 June 2026 - 09:54 WIB

Vespa: Dari ‘Kerangka’ Pesawat Tempur Menjadi Ikon Klasik Abadi

19 June 2026 - 09:47 WIB

Kasta Busana: Dari Piramida Kaku Menjadi Ajang Pamer di Jalanan

18 June 2026 - 13:32 WIB

Solidaritas Tanpa Batas: Vespa Jadi Identitas Diri dan Ruang Bertemunya Berbagai Generasi

18 June 2026 - 11:43 WIB

Sensasi Ngopi Membelah Kabut: Menikmati Lanskap Indah di Danau Kembar Scenery Alahan Panjang

17 June 2026 - 17:00 WIB

Trending Topik Life Style