Menu ✖

Mode Gelap
Mancing Berujung Petaka, Satu Warga Kerinci Hanyut di Sungai Sangir Solsel GAPEKA 2026 Berlaku 1 Desember, KA Pariaman Ekspres Kini Singgah di Shelter Kampung Jua Mahyeldi Imbau Masyarakat Sumbar Waspadai Potensi Hujan Lebat hingga 10 November Reaktivasi Jalur KAI Sumbar, Vagub Vasko: Pemprov Siap Bantu Sosialisasi ke Masyarakat Polda Sumbar Ungkap Peredaran Sabu di Padang, Dua Pria Ditangkap Tiga Kali Masuk Penjara, Pria di Sijunjung Kembali Ditangkap Kasus Curanmor

Life Style

Dari Pakem Tradisi ke Tren Kekinian: Evolusi Estetika Busana Pengantin Minangkabau

Fitratul Husnabadge-check

Ilustrasi (Wikipedia) Perbesar

Ilustrasi (Wikipedia)

Covesia.co.id – Berpakaian di bumi Minangkabau memiliki akar sejarah yang diturunkan dari masa ke masa. Bukan sekadar penutup tubuh, cara berpakaian di sini juga menjadi perwujudan dari martabat, kesopanan, dan kepribadian.

Flashback ke masa lalu, dalam tradisi Minangkabau, seorang perempuan dituntut untuk berpakaian longgar, tertutup, dan tidak membentuk lekuk tubuh. Ketatnya aturan kesopanan berpakaian ini berpegang teguh pada prinsip dasar hidup orang Minang, yakni “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

Namun, perubahan zaman membawa pengaruh global yang cukup besar. Di Minangkabau sendiri, gaya berpakaian kini mulai bergeser menjadi tren kekinian dengan menggabungkan variasi antarbudaya.

Mengutip dari diskusi Google Groups Mochtar Naim, Jumat (19/6): Budaya Merantau Orang Minang, disampaikan bahwa penggabungan variasi busana adat ini sangat dipengaruhi oleh tradisi masyarakat Minangkabau yang gemar merantau. Hal ini sejalan dengan pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Kebiasaan ini membuat masyarakat membawa budaya asal ke perantauan, dan sebaliknya, membawa budaya perantauan masuk ke kampung halaman. Perpaduan inilah yang melahirkan variasi baru pada pakaian adat budaya Minangkabau, terutama pada pakaian pengantin perempuan atau anak daro. Jika dahulu identik dengan baju kurung bertabur yang dipadukan dengan suntiang, kini tampilannya bergeser menjadi kebaya Minang modern, gaun mewah, hingga paduan perhiasan emas yang mengilap.

Melansir dari situs WeddingMarket.com, perpaduan warna pengantin Minangkabau juga mengalami evolusi. Jika dahulu baju pengantin didominasi oleh warna-warna pakem seperti merah, emas, dan hitam, tren terkini justru banyak mengadopsi warna-warna pastel mewah. Warna seperti terracotta, sage green, rose gold, hingga putih bersih (cloud dancer) kini makin digandrungi karena menyesuaikan dengan tren warna pernikahan global.

Bukan hanya perihal warna, pergeseran juga terjadi dari segi material kain. Dulunya, busana pengantin wajib menggunakan kain sutra murni, satin, dan songket Pandai Sikek asli hasil tenunan tangan. Sekarang, bahan tersebut kerap diganti atau dimodifikasi dengan kain beludru (velvet), mikado, jacquard (jaguar), hingga songket Silungkang.

Pergeseran dari segi model, warna, dan bahan ini memberikan dampak yang cukup signifikan. Bagi pengantin modern, faktor kenyamanan kini menjadi prioritas utama. Hal ini sedikit berbeda dengan pengantin zaman dahulu, di mana pakaian pengantin murni menjadi lambang kehormatan keluarga yang harus terlihat megah dan kokoh, meskipun sang pengantin harus rela menahan beban yang berat di badannya sepanjang hari.

(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Sala Lauak, Camilan Khas Minangkabau yang Gurih di Luar, Lembut di Dalam

30 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Manfaat Aia Aka, Minuman Tradisional Minangkabau berkhasiat Redakan Panas Dalam

29 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Sleep Hygiene : Tips Memperbaiki Kualitas Tidur yang Aman

12 Oktober 2026 - 10:08 WIB

Jejak Bukittinggi, Kota Perjuangan yang Menjaga Republik Tetap Berdiri Saat PDRI

6 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Mekarnya Bunga Putih Enceng Gondok, Pengundang Romansa Sore di Pasir Jambak

29 September 2026 - 17:33 WIB

Trending Topik Life Style