Covesia.co.id – Fenomena lagu Minang yang saat ini sukses menjangkau ranah nasional menjadi prestasi membanggakan bagi kita, masyarakat Minangkabau. Aransemennya yang easy listening, iringan tradisional melalui alat musik khas seperti saluang (suling bambu), rabab, talempong, serta lirik yang menggambarkan indahnya kebudayaan Minangkabau memang menarik untuk dikulik. Lagu memang menjadi teman dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Namun, fungsinya lebih dari sekadar hiburan; lagu juga menjadi media penyampaian pesan moral, adat istiadat, petuah kehidupan, dan sejarah bagi masyarakat.
Lagu Minang apa yang paling kamu suka?
Kenal dengan lagu “Taragak Pulang”?

Lagu yang dinyanyikan oleh Eja SM, Abdi Fachrury, dan Dira Sari dengan liriknya, “Alah Bataun Rantau Manjadi Labuahan Hiduik”, berhasil menjadi anthem utama mudik—bukan hanya bagi masyarakat Minangkabau, tetapi juga Indonesia. Sejak dirilis, lagu yang menggambarkan kerinduan mendalam para perantau setelah berjuang mencari nafkah di negeri orang serta kebanggaan akan kampung halaman ini, sukses menciptakan vibes haru di setiap momen mudik Lebaran berkat iringan alat musik tradisionalnya.
Dinukil Covesia dari jurnal Bahasa dan Sastra Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sabtu (20/6) bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai alat komunikasi dan ekspresi jiwa, salah satu bentuk penggunaan bahasa yang paling indah adalah ketika dikemas dalam lagu. Lagu yang memiliki struktur serta diiringi musik membawa kita pada cara komunikasi yang artistik dan indah. Lagu disebut sebagai ekspresi jiwa memang benar adanya, tetapi lagu juga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya suatu daerah, termasuk Minangkabau.
Lagu Minang sendiri tidak hanya fokus pada kisah cinta, tetapi memiliki elemen penting yang menjadikannya sarat akan nilai budaya, di antaranya:
Falsafah Hidup: Lirik lagu Minang sering kali mengisahkan filosofi hidup masyarakat Minangkabau, seperti ketaatan pada adat dan agama (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah).
Sarana Cerita: Melalui lagu, banyak kisah yang disampaikan. Mulai dari liku-liku kehidupan di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman, hingga rasa hormat kepada Bundo Kanduang dan keluarga.
Iringan Tradisional: Lagu tanpa musik rasanya akan hampa. Musik aslinya berakar dari dendang tradisional yang dimainkan dengan alat musik khas Minangkabau, menjadikannya jembatan untuk memperkenalkan indahnya alunan musik tradisional tersebut.
Peran Penting dalam Acara Adat: Lagu-lagu tertentu memiliki peran sakral dalam acara adat Minangkabau. Contohnya lagu “Malam Bainai” yang khusus dimainkan ketika prosesi menjelang pernikahan, yang selalu sukses membawa suasana syahdu.
Dikenalnya lagu Minang di kancah nasional memang tak lepas dari peran generasi muda kreatif yang memanfaatkan platform media sosial. Bahkan sekarang, perkembangannya sudah semakin pesat dengan adanya kolaborasi bersama lagu daerah lain—bukti bahwa lagu Minang punya pesona yang luar biasa.
Namun, di samping lagu-lagu Minang yang modern, lagu-lagu legendaris seperti Kampuang Nan Jauah Di Mato, Ayam Den Lapeh, Bareh Solok, dan Minangkabau adalah warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Maka dari itu, kita sebagai generasi muda harus memastikan warisan ini tetap abadi, agar generasi selanjutnya tetap terhubung dengan akar budaya dan identitas Minangkabau.
(*)


















