Menu

Mode Gelap
Rencana Reaktivasi PT ARP, FPS Desak Pemprov Sumbar Selamatkan 108 Hektare Aset Daerah Fakta Remaja Korban Kekerasan Seksual di Sungai Limau “Dari Broken Home, Kemiskinan Hingga Dicabuli Tetangga” Diduga Cabuli Anak Dibawah Umur, Pria Paruh Baya di Pariaman Nyaris Diamuk Massa Kualitas Udara Kota Padang Capai Level Sangat Tidak Sehat 364 Siswa dan Guru di Palupuh Agam Diduga Keracunan Usai Santap MBG Kualitas Udara Sumbar Berfluktuasi, Wilayah Timur Terpantau Lebih Buruk

Life Style

Kasta Busana: Dari Piramida Kaku Menjadi Ajang Pamer di Jalanan

Fitratul Husnabadge-check

Kasta Busana: Dari Piramida Kaku Menjadi Ajang Pamer di Jalanan Perbesar

Covesia.co.id – Struktur sosial selalu punya cara tersendiri dalam mempengaruhi gaya hidup masyarakat, di mana kita seolah dituntut untuk terus berlari mengikuti perkembangan zaman. Perubahan dari masa ke masa ini memberikan dampak yang sangat pesat terhadap perilaku anak muda. Tengok saja bagaimana siklus pergantian tren digital dengan busana global kini melompat ke fase tercepat dalam sejarah, bergerak liar seiring maraknya penggunaan algoritma kecerdasan buatan (AI).

Perubahan gaya hidup kita saat ini memang didominasi oleh tren digital yang sangat masif, menyelinap ke dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dalam hitungan bulan, bahkan hari, gaya busana terbaru kini sudah bisa diproduksi secara massal dan diakses oleh konsumen lintas kelas sosial. Fenomena ini mengubah total cara masyarakat global dalam mengonsumsi produk sandang, terutama dalam cara berpakaian.

Mari menengok ke belakang. Jauh pada abad ke-14, gaya berpakaian fungsi utamanya adalah sebagai identifikasi sosial. Bukan sekadar penanda jabatan, melainkan sebuah hierarki visual yang kaku. Kala itu, pakaian seseorang secara instan menunjukkan posisi kelas, tingkat kekayaan, serta hak hukum mereka di masyarakat.

Piramida itu terlihat jelas: mulai dari kelas elit monarki yang pakaiannya hanya boleh digunakan oleh para bangsawan, hingga tingkat borjuis atau pedagang—mereka yang memiliki banyak uang dari hasil berdagang tetapi tidak memiliki garis keturunan darah biru. Sementara itu, di lapisan paling bawah, pakaian para budak hanya berfungsi sebagai pelindung dari cuaca, bukan sebagai alat estetika.

Waktu bergulir ke dekade 1950-an di abad ke-20. Masyarakat mulai mengubah selera mereka, bermigrasi dari sistem hierarki yang kaku penuh aturan menuju sistem horizontal yang lebih inklusif. Perubahan gaya ini terbukti ketika segelintir kelompok elit tidak lagi mendominasi dan mengendalikan tren atau aturan para leluhur.

Dinukil Covesia dari Crane, D. Fashion and Its Social Agendas: Class, Gender, and Identity in Clothing. University of Chicago Press, Rabu (18/6) disebutkan bahwa, di abad ke-20, lahirlah sebuah gerakan bernama “Demokratisasi Fashion”. Gerakan ini mendobrak banyak pemikiran bangsa elit, yang kemudian gaungnya berlanjut ke kaum pedagang hingga kelas bawah. Kini, pakaian tidak lagi dipandang sebagai sebuah aturan yang mengekang, melainkan sebuah karya seni. Adanya demokratisasi fashion ini berhasil mematahkan aturan piramida kaku yang dulunya dipenuhi kontrol, mengubahnya menjadi panggung bebas untuk ekspresi seni visual.

Tren itu berlanjut hingga hari ini. Fashion tidak lagi berkiblat pada satu tren tunggal, melainkan pecah menjadi berbagai subkultur gaya yang fantastis dan unik. Bahkan, jalanan kini bertransformasi menjadi ajang pamer dengan gaya yang nyentrik dan penuh variasi.

Salah satu ajang fashion show jalanan yang sempat viral di Indonesia adalah Citayam Fashion Week (CFW). Berlokasi di atas zebra cross kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta Pusat, fenomena unik ini digerakkan oleh sekumpulan remaja dari pinggiran Jakarta (seperti Citayam, Bojong Gede, dan Depok). Sebuah gerakan organik dari akar rumput yang dengan jenaka kerap diplesetkan oleh netizen sebagai remaja “SCBD” (Sudirman, Citayam, Bojong Gede, Depok). (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Kualitas Udara Kota Padang Capai Level Sangat Tidak Sehat

2 September 2026 - 17:50 WIB

KPAD Sumbar Bekali Korban Kekerasan Seksual di Sungai Limau dengan Keterampilan

2 September 2026 - 13:31 WIB

Kualitas Udara Sumbar Kian Memburuk, 3 Daerah Ini Berstatus Tidak Sehat

27 Agustus 2026 - 16:18 WIB

Kualitas Udara Sumbar Hari Ini 26 Agustus 2026, Payakumbuh Masuk Kategori Tidak Sehat

26 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Kualitas Udara di Sumbar Mulai Kurang Sehat, Polusi Tertinggi di Sawahlunto

26 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Trending Topik Lingkungan