Covesia.co.id — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla melepas 40 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sumatera Barat yang akan bekerja di sektor food and beverage (F&B) di Malaysia.
Pelepasan berlangsung di Balai Diklat Industri Kota Padang, Jumat (18/9/2026). Para pekerja tersebut merupakan calon PMI yang diberangkatkan melalui jalur private to private (P to P).
Dzulfikar mengatakan keberangkatan 40 PMI tersebut menjadi momentum penting karena merupakan angkatan awal dari rangkaian program penempatan pekerja migran dalam skala lebih besar.
“Pelepasan hari ini sangat bersejarah ya, judulnya pelepasan pecah telur karena ini akan menjadi awal dari seluruh proses penempatan-penempatan berikutnya,” kata Dzulfikar.
Ia menyebut sektor F&B di Malaysia menjadi pembuka untuk memperluas penempatan PMI asal Indonesia ke berbagai sektor lainnya.
Menurutnya, peluang kerja tidak hanya tersedia di bidang makanan dan minuman, tetapi juga manufaktur dan kesehatan.
“Harapannya tidak hanya F&B saja tapi juga sektor-sektor yang lain dengan peluang besar seperti manufaktur dan kesehatan,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 calon PMI melalui program SMK Go Global hingga 2029.
Target tersebut terdiri dari 40.000 orang pada 2026, meningkat menjadi 140.000 orang pada 2027, kemudian 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi calon pekerja migran agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Pemerintah juga menargetkan penempatan pada sejumlah sektor, antara lain perawat, caregiver, welder, pengemudi, hospitality, hingga sektor prioritas lainnya.
Negara tujuan mencakup Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Singapura, Turki, Taiwan dan sejumlah negara lainnya.
Dzulfikar mengatakan calon PMI harus mempersiapkan diri sebelum bekerja di luar negeri. Ia menekankan lima hal yang perlu dimiliki pekerja migran, yakni kesiapan fisik, mental, visi, dokumen, dan kompetensi.
“Kepada calon pekerja migran kami selalu sampaikan agar mempersiapkan lima hal ini, yaitu siap fisik, siap mental, siap visi, siap dokumen, dan siap kompetensi, agar dapat nyaman dan aman saat bekerja nanti,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat Jupriyadi mengatakan 40 calon PMI tersebut telah menjalani pelatihan selama sekitar 25 hari.
Pelatihan diberikan untuk meningkatkan keterampilan kerja, termasuk praktik pembuatan makanan dan persiapan menghadapi lingkungan kerja di Malaysia.
“Materi pelatihan mengenai peningkatan skill, serta praktik membuat makanan restoran agar tidak terkejut nantinya saat di tempat kerja,” jelas Jupriyadi.
Menurut Jupriyadi, para pekerja tersebut dijadwalkan berangkat ke Malaysia pada 22 atau 23 September 2026. Sementara kuota penempatan untuk Sumatera Barat pada 2027 masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat.
Salah seorang calon PMI, Imam Saputra (19), asal Pasaman, mengatakan dirinya memilih bekerja di luar negeri untuk mendapatkan pengalaman internasional.
“Saya ngejar pengalaman internasionalnya, standar di sana juga tidak banyak-banyak kan seperti harus kuliah atau harus punya ini dan itu. Tamat SMK sudah bisa bekerja yang layak,” ungkap Imam.
Ia juga mengajak teman-teman seusianya untuk tidak mudah menyerah dalam mencari peluang kerja.
“Untuk teman-teman yang seperjuangan yang berjuang di Indonesia, semangat terus karena jalur hidup tidak ada yang tahu. Tetap percaya diri dan konsisten,” katanya.
Pelepasan 40 PMI asal Sumbar tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan program pemerintah untuk memperluas akses tenaga kerja Indonesia ke pasar kerja internasional. (*)










