Menu

Mode Gelap
Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Ditebus Rp 100 Juta, Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dievakuasi Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif Pemko Padang Matangkan Persiapan Menuju Kota Gastronomi Dunia

Lapsus

Refleksi Diri Untuk Generasi Muda :  Kota Tua Padang dan Rasa Kepemilikan

badge-check

Refleksi Diri Untuk Generasi Muda :  Kota Tua Padang dan Rasa Kepemilikan Perbesar

Covesia.co.id – Ketika masuk ke kawasan Kota Tua Padang pasti akan langsung merasakan vibes zaman penjajahan bukan?

Kota Tua Padang atau sering juga disebut Padang Lama memang menyimpan jejak sejarah yang sangat penting. Kawasan di sepanjang Sungai Batang Arau ini merupakan saksi bisu perkembangan Kota Padang sebagai pusat perdagangan dan administrasi kolonial Belanda sejak abad ke-17 hingga abad ke-20.

Kawasan ini menampilkan deretan bangunan bergaya arsitektur Kolonial Belanda dan Tionghoa, dan menjadi pusat pertukaran budaya pada masa lalu.

Sekarang, kawasan bersejarah tersebut telah direvitalisasi menjadi destinasi wisata cagar budaya yang dilengkapi dengan kafe klasik, area bersantai, dan spot fotografi menarik dengan latar Sungai Batang Arau serta Jembatan Siti Nurbaya.

Menyimpan kekayaan nilai budaya yang tinggi sebagai pusat perdagangan sejak abad ke-17.

Kawasan di sepanjang Sungai Batang Arau ini menjadi simbol gabungan budaya, yang terlihat dari perpaduan arsitektur Kolonial Belanda, Tionghoa, dan Minangkabau, serta menjadi saksi sejarah multikulturalisme di Ranah Minang.

Namun timbul kekhawatiran derasnya perkembangan zaman cukup membuat cemas jika Kota Tua Padang tidak dijaga eksistensinya. Karena itulah butuh kesadaran penuh untuk pelestarian kawasan Kota Tua ini, yang diharapkan dari generasi muda hari ini.

Pelestarian ini bukan tanpa alasan. Dari kawasan yang tersebar di 5 kelurahan dari 2 kecamatan ini sangat kaya literasi dan warisan masa lampau.

Sebut saja dari aspek sejarah dan edukasinya, Kota Tua Padang punya jejak arsitektur kolonial yang bernilai tinggi karena kawasan ini merupakan saksi bisu perkembangan Kota Padang sebagai pusat perdagangan.

Kemudian dari sisi ekonomi, Kota Tua sudah di memiliki ragam usaha kuliner dan usaha ekonomi kreatif lainnya. Berpadukan corak budaya dan sejarah, kawasan ini memiliki daya tarik perekonomian maupun wisata.

Pemko Padang sangat sadar akan potensi Kota Tua. Sejak satu dekade terakhir, pengembangan sangat masif, termasuk. Menarik investor untuk pengembangan wilayah. Sehingga vibes kawasan tempo dulu cukup kental, walaupun dijalankan pada zaman modern saat ini.

Untuk itu perlu kolaborasi bersama untuk menjaga dan menggerakkan Kota Tua agar warisan Metropolitan masa lampau masih bisa dirasakan hingga generasi penerus selanjutnya.

“Untuk membangun, menjaga, melestarikan Kota Tua Padang butuh kolaborasi bersama dengan niat maupun kesadaran yang tinggi, ” Ucap Syamdani Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang kepada Covesia (10/7/2026)

Syamdani adalah orang yang cukup peduli terhadap Kawasan Kota Tua. Bahkan ia sampai membuat buku yang berjudul  “Sekelumit Ide Tentang Kota Tua Padang”.

Di buku ini diterangkan bagaimana keresahan dan ancaman Kota Tua Padang. Namun, berbagai ide juga tertuang.

Dimana dalam buku tersebut ada dua topik besar yakni “Pengembangan Fisik Infrastruktur (Strukturall Heritage) dan Pengembangan Narasi Non-Fisik (Cultural Storytelling).”

“Lewat tulisan-tulisan yang saya hasilkan, semoga menjadi pemantik akan rasa kecintaan dan kepedulian untuk melestarikan sejarah Kota Padang, khususnya di kawasan Kota Tua,” ungkap Syamdani.

Jika dilihat lebih luas, saat ini Kota Tua Padang hanya sebatas konsumsi media sosial dan tongkrongan anak muda. Padahal Kota Tua Padang begitu kaya akan pembelajaran, pengetahuan dan literasi yang tak habis-habis dibahas.

Buku yang ditulis oleh Syamdani, bisa menjadi acuan bagi kita bersama untuk membuka mata akan banyak makna yang bisa dikupas di Kota Tua.

Kesadaran untuk menjaga dan melestarikan, bisa menyelamatkan harapan dan warisan masa lalu.

Jika tidak hari ini anak muda menyadarkan diri akan Kota Tua, mungkin dua atau tiga generasi nanti sudah tak lagi bisa menikmati pesona Kota Tua nan elok ini. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Tokoh Agama Dorong Peran Keluarga dan Sekolah Bendung Isu LGBT

24 Juli 2026 - 16:37 WIB

Fenomena LGBT di Sumbar, PBHI Dorong Regulasi yang Tidak Mencederai Hak Individu

24 Juli 2026 - 10:33 WIB

Sosiolog UIN IB : Regulasi Baru Terkait Isu LGBT Harus Didahului Kajian Mendalam

22 Juli 2026 - 20:13 WIB

Mantan Anggota DPR RI ini Dorong Aturan Khusus Cegah LGBT di Sumbar

22 Juli 2026 - 19:46 WIB

Soal LGBT, GP Anshor Sumbar Minta Regulasi Hukum Yang Menjaga Marwah Minangkabau

22 Juli 2026 - 11:42 WIB

Trending Topik Lapsus