Covesia.co.id – Ketika masuk ke kawasan Kota Tua Padang pasti akan langsung merasakan vibes zaman penjajahan bukan?
Kota Tua Padang atau sering juga disebut Padang Lama memang menyimpan jejak sejarah yang sangat penting. Kawasan di sepanjang Sungai Batang Arau ini merupakan saksi bisu perkembangan Kota Padang sebagai pusat perdagangan dan administrasi kolonial Belanda sejak abad ke-17 hingga abad ke-20.
Kawasan ini menampilkan deretan bangunan bergaya arsitektur Kolonial Belanda dan Tionghoa, dan menjadi pusat pertukaran budaya pada masa lalu.
Sekarang, kawasan bersejarah tersebut telah direvitalisasi menjadi destinasi wisata cagar budaya yang dilengkapi dengan kafe klasik, area bersantai, dan spot fotografi menarik dengan latar Sungai Batang Arau serta Jembatan Siti Nurbaya.
Menyimpan kekayaan nilai budaya yang tinggi sebagai pusat perdagangan sejak abad ke-17.
Kawasan di sepanjang Sungai Batang Arau ini menjadi simbol gabungan budaya, yang terlihat dari perpaduan arsitektur Kolonial Belanda, Tionghoa, dan Minangkabau, serta menjadi saksi sejarah multikulturalisme di Ranah Minang.
Namun timbul kekhawatiran derasnya perkembangan zaman cukup membuat cemas jika Kota Tua Padang tidak dijaga eksistensinya. Karena itulah butuh kesadaran penuh untuk pelestarian kawasan Kota Tua ini, yang diharapkan dari generasi muda hari ini.
Pelestarian ini bukan tanpa alasan. Dari kawasan yang tersebar di 5 kelurahan dari 2 kecamatan ini sangat kaya literasi dan warisan masa lampau.
Sebut saja dari aspek sejarah dan edukasinya, Kota Tua Padang punya jejak arsitektur kolonial yang bernilai tinggi karena kawasan ini merupakan saksi bisu perkembangan Kota Padang sebagai pusat perdagangan.
Kemudian dari sisi ekonomi, Kota Tua sudah di memiliki ragam usaha kuliner dan usaha ekonomi kreatif lainnya. Berpadukan corak budaya dan sejarah, kawasan ini memiliki daya tarik perekonomian maupun wisata.
Pemko Padang sangat sadar akan potensi Kota Tua. Sejak satu dekade terakhir, pengembangan sangat masif, termasuk. Menarik investor untuk pengembangan wilayah. Sehingga vibes kawasan tempo dulu cukup kental, walaupun dijalankan pada zaman modern saat ini.
Untuk itu perlu kolaborasi bersama untuk menjaga dan menggerakkan Kota Tua agar warisan Metropolitan masa lampau masih bisa dirasakan hingga generasi penerus selanjutnya.
“Untuk membangun, menjaga, melestarikan Kota Tua Padang butuh kolaborasi bersama dengan niat maupun kesadaran yang tinggi, ” Ucap Syamdani Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang kepada Covesia (10/7/2026)
Syamdani adalah orang yang cukup peduli terhadap Kawasan Kota Tua. Bahkan ia sampai membuat buku yang berjudul “Sekelumit Ide Tentang Kota Tua Padang”.
Di buku ini diterangkan bagaimana keresahan dan ancaman Kota Tua Padang. Namun, berbagai ide juga tertuang.
Dimana dalam buku tersebut ada dua topik besar yakni “Pengembangan Fisik Infrastruktur (Strukturall Heritage) dan Pengembangan Narasi Non-Fisik (Cultural Storytelling).”
“Lewat tulisan-tulisan yang saya hasilkan, semoga menjadi pemantik akan rasa kecintaan dan kepedulian untuk melestarikan sejarah Kota Padang, khususnya di kawasan Kota Tua,” ungkap Syamdani.
Jika dilihat lebih luas, saat ini Kota Tua Padang hanya sebatas konsumsi media sosial dan tongkrongan anak muda. Padahal Kota Tua Padang begitu kaya akan pembelajaran, pengetahuan dan literasi yang tak habis-habis dibahas.
Buku yang ditulis oleh Syamdani, bisa menjadi acuan bagi kita bersama untuk membuka mata akan banyak makna yang bisa dikupas di Kota Tua.
Kesadaran untuk menjaga dan melestarikan, bisa menyelamatkan harapan dan warisan masa lalu.
Jika tidak hari ini anak muda menyadarkan diri akan Kota Tua, mungkin dua atau tiga generasi nanti sudah tak lagi bisa menikmati pesona Kota Tua nan elok ini. (*)











