Covesia.co.id – Pertanyaan yang sama selalu berulang hampir setiap pagi di salah satu sudut Desa Balai Naras, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat.
Pertanyaan itu bukan keluhan rasa sakit yang menusuk kepala, melainkan sebuah impian yang melampaui kondisi fisik sang penanya.

“Kapan Nabila bisa kuliah?”
Kalimat tersebut kerap meluncur dari bibir Nabila Sandi (20).
Bagi ibunya, Era Mimi Calwati (49), pertanyaan putri tunggalnya itu bak sembilu sekaligus penyemangat hidup.
Era mengaku pedih melihat putrinya terbaring lemah. Namun di sisi lain, ia takjub melihat semangat Nabila yang tidak pernah padam meski raganya digerogoti penyakit.
Nabila bukan remaja biasa. Sejak duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar (SD) pada 2012, ia sudah harus akrab dengan lorong-lorong rumah sakit.
Diagnosis dokter menyatakan Nabila mengidap tumor otak akut. Kondisi ini memaksanya naik-turun meja operasi hingga lima kali.
Tak hanya itu, dalam prosesnya, Nabila juga sempat harus berjuang melawan komplikasi TBC dan gangguan paru-paru.
Setahun terakhir, pasca-lulus dari SMAN 4 Pariaman, hari-hari Nabila lebih banyak dihabiskan di atas tempat tidur.
Sementara teman-teman sebayanya sibuk dengan persiapan semester awal perkuliahan, Nabila harus bergelut dengan kontrol rutin dan keterbatasan ekonomi keluarga.
Sang ayah, Irwan (51), dan Era terus berupaya mencukupi asupan gizi dan susu yang dibutuhkan Nabila di tengah impitan ekonomi.
Namun, untuk membayangkan Nabila duduk di bangku universitas saat itu, rasanya seperti mengejar bayangan.
“Penyakit ini sudah mendera lebih dari 10 tahun. Namun semangatnya melanjutkan pendidikan tidak pernah pupus,” ujar Era dengan mata berkaca-kaca saat diwawancara beberapa waktu lalu.
Doa-doa panjang di setiap sujud keluarga kecil ini akhirnya terjawab pada Kamis siang.
Rumah mereka didatangi oleh rombongan dari Universitas Sumatera Barat (Unisbar). Kampus ini dikenal masyarakat setempat dengan sebutan “Kampus Orange”.
Hadir langsung dalam kunjungan tersebut Rektor Unisbar DR Hj Nurtati, Wakil Rektor 1 Ns Sri Burhani Putri S.Tr.Kes PhD, dan Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Ns Weddy Martin S.Tr.Kes M.Kep.
Kedatangan mereka membawa kabar yang menghapus lara keluarga Nabila selama bertahun-tahun.
Tanpa proses birokrasi yang rumit, Nurtati menyampaikan bahwa Nabila resmi diterima sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi Unisbar.
Bukan sekadar diterima, Nabila juga mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus, ditambah uang saku bulanan untuk menunjang pendidikannya.
“Nabila sudah bisa kuliah sekarang. Semoga Nabila cepat sehat, ya,” ujar Nurtati lembut sambil menggenggam tangan calon mahasiswinya itu.
Nurtati mengaku terenyuh mendengar kisah kegigihan Nabila melalui informasi dari komunitas sosial Aksi Solidaritas Piaman Laweh (ASPILA).
Baginya, keinginan kuat Nabila untuk belajar adalah bukti bahwa keterbatasan fisik dan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar.
Mendengar kabar tersebut, senyum yang sempat redup kini merekah kembali di wajah Nabila. Ia seolah mendapatkan suntikan energi baru untuk sembuh.
Cita-cita Nabila sederhana namun mulia. Ia ingin menjadi seorang pengusaha sukses agar bisa membahagiakan kedua orangtuanya.
“Ingin jadi pengusaha, biar bisa bahagiakan Ibu dan Ayah yang sudah setia mendampingi dari rumah sakit ke rumah sakit selama belasan tahun,” kata Nabila.
Kini, pertanyaan “Kapan Nabila bisa kuliah?” tidak akan lagi terdengar sebagai beban bagi Era dan Irwan.
Jawabannya sudah ada di depan mata. Nabila, sang pejuang tumor otak itu, kini resmi menyandang status sebagai mahasiswa. (*)


















