Covesia.co.id – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mempercepat pengembangan Pelabuhan Teluk Tapang di Kabupaten Pasaman Barat untuk menjadikannya sebagai kawasan pelabuhan industri yang mampu mendukung perdagangan internasional hingga ketahanan energi nasional.
Pelabuhan yang masuk dalam rencana pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Air Bangis tersebut diproyeksikan menjadi pintu ekspor dan impor berbagai komoditas sekaligus pusat pertumbuhan industri baru di wilayah pesisir barat Sumatera.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan pengembangan Pelabuhan Teluk Tapang mulai menunjukkan kemajuan melalui pembangunan sejumlah infrastruktur darat yang didanai Kementerian Perhubungan dengan anggaran sekitar Rp83 miliar pada 2026.
Hal itu disampaikannya saat meninjau langsung progres pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang di Kabupaten Pasaman Barat.
“Alhamdulillah, hari ini kita sengaja mengunjungi Pelabuhan Teluk Tapang karena memang tahun ini ada pengerjaan oleh Kementerian Perhubungan sebesar lebih kurang Rp83 miliar. Ini hasilnya, dan masih ada tahapan-tahapan selanjutnya untuk optimalisasi,” kata Mahyeldi.
Ia menjelaskan, pembangunan pelabuhan masih membutuhkan sejumlah fasilitas tambahan agar dapat beroperasi secara optimal, di antaranya kantor pelabuhan, pergudangan, serta kawasan penempatan dan pengelolaan barang.
Pemprov Sumbar juga tengah memproses perubahan status kawasan seluas 168 hektare dari hutan produksi menjadi area penggunaan lain (APL) sebagai bagian dari persiapan pengembangan kawasan tersebut.
“Nah, ini insya Allah kita tindak lanjuti sehingga kawasan ini betul-betul siap untuk dimanfaatkan pada tahapan selanjutnya,” ujarnya.
Selain pembangunan fasilitas pelabuhan, percepatan infrastruktur jalan menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan untuk menunjang aktivitas logistik di Teluk Tapang.
Mahyeldi menyebutkan, masih diperlukan pembangunan akses jalan sepanjang sekitar tujuh kilometer yang diharapkan mendapatkan dukungan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kebutuhan tersebut semakin mendesak karena aktivitas pengiriman bijih besi oleh PT Gamindra di kawasan Teluk Tapang sudah mulai berjalan.
“Pengiriman bijih besi saat ini sudah dilakukan PT Gamindra yang ada di sini. Makanya kebutuhan kita ini mendesak. Produksinya sudah ada, sehingga pembenahan harus segera dilakukan agar aktivitas ini bisa berjalan secara normal,” ungkapnya.
Menurut Mahyeldi, pembangunan jalan, dermaga, dan fasilitas operasional harus berjalan beriringan agar infrastruktur yang telah selesai dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi.
Sejumlah instansi turut dilibatkan dalam koordinasi pengembangan kawasan tersebut, antara lain Kementerian Perhubungan, ASDP, Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar, serta Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat.
Pekerjaan lanjutan juga mencakup pembenahan dermaga untuk tempat bersandar kapal, pembangunan perkantoran ASDP, dan penyediaan berbagai fasilitas penunjang operasional pelabuhan.
Mahyeldi berharap seluruh tahapan pembangunan dapat dipercepat sehingga Pelabuhan Teluk Tapang semakin siap beroperasi pada 2028.
“Mudah-mudahan bisa 2028 nanti, makin cepat makin baik,” katanya.
Teluk Tapang Berpeluang Pangkas Biaya Distribusi Komoditas
Pemprov Sumbar juga membidik Pelabuhan Teluk Tapang sebagai pelabuhan industri dan pelabuhan pengumpul yang dapat melayani kegiatan ekspor maupun impor secara langsung.
Pengembangan tersebut dinilai memiliki prospek besar karena kawasan sekitarnya mempunyai potensi komoditas unggulan, mulai dari batu bara, bijih besi, hingga hasil perkebunan kelapa sawit.
Mahyeldi menyebutkan, rencana pembangunan tangki timbun minyak sawit juga menjadi salah satu peluang pengembangan kawasan untuk memperkuat aktivitas perdagangan dan industri.
Keberadaan pelabuhan tersebut diharapkan dapat mempermudah distribusi hasil perkebunan, termasuk komoditas dari PTPN IV, Pasaman Barat, wilayah utara Sumatera, hingga kawasan Rokan di Provinsi Riau.
Menurutnya, pemanfaatan Teluk Tapang sebagai jalur distribusi akan memberikan keuntungan dari segi jarak tempuh, biaya angkutan, dan efisiensi logistik.
“Kalau melalui sini tentu biayanya lebih murah, lebih efektif, dan lebih efisien. Ini juga akan meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” jelasnya.
Ia menilai posisi geografis Teluk Tapang cukup strategis karena memiliki akses langsung ke Samudra Hindia dan berpotensi menjadi alternatif jalur distribusi komoditas dari sejumlah daerah di Sumatera.
Mahyeldi mencontohkan, pengiriman hasil perkebunan kelapa sawit menuju Pelabuhan Belawan dapat memerlukan waktu lebih dari 10 jam, sedangkan perjalanan dari kawasan yang dimaksud menuju Teluk Tapang diperkirakan hanya sekitar dua jam.
Dengan keunggulan tersebut, Teluk Tapang diharapkan mampu menjadi pilihan baru bagi pelaku usaha untuk menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing komoditas daerah.
Tidak hanya berorientasi pada perdagangan dan industri perkebunan, Pemprov Sumbar juga mendorong pengembangan Pelabuhan Teluk Tapang untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Mahyeldi mengungkapkan, pemerintah daerah tengah menjajaki peluang pembangunan fasilitas pengolahan minyak atau kilang (refinery) serta industri petrokimia di kawasan tersebut.
Menurutnya, penguatan cadangan energi nasional menjadi salah satu alasan penting untuk mendorong pengembangan kawasan Teluk Tapang sebagai pusat industri strategis.
Ia menyinggung kondisi ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang menurutnya hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 18 hari sehingga perlu diantisipasi melalui penguatan cadangan energi.
Mahyeldi menilai ketergantungan terhadap pasokan minyak dunia dapat menjadi persoalan apabila terjadi gangguan distribusi akibat konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah.
“BBM kita cuma memiliki kemampuan sekitar 18 hari. Kalau ada masalah lagi di Timur Tengah sana, pasti akan terganggu. Makanya kita perlu mengantisipasi itu. Kita ingin ada langkah ke depan untuk memperkuat stok BBM dan ketahanan nasional,” tuturnya.
Ia mengatakan, potensi Teluk Tapang cukup menjanjikan untuk mendukung rencana tersebut karena memiliki akses langsung ke Samudra Hindia serta didukung ketersediaan lahan yang luas.
Mahyeldi menyebutkan, terdapat potensi kawasan sekitar 16 ribu hektare yang dinilai dapat mendukung pengembangan industri berskala besar.
“Kita ingin ada refinery di sini, ada industri petrokimia di sini. Inilah salah satu kontribusi yang bisa dihadirkan Sumatera Barat untuk Indonesia,” katanya.
Selain mendukung kebutuhan energi, pengembangan kawasan tersebut juga diharapkan membuka alternatif jalur perdagangan dan distribusi internasional di tengah meningkatnya tantangan keamanan serta kepadatan sejumlah jalur pelayaran dunia.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pemprov Sumbar terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat guna memperoleh dukungan kebijakan dan pembiayaan pembangunan infrastruktur.
Mahyeldi mengaku telah menyampaikan secara lisan sejumlah gagasan pengembangan Teluk Tapang kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan kepala daerah yang dihadiri Presiden.
Ia berharap rencana tersebut mendapat tindak lanjut sehingga pengembangan Teluk Tapang tidak hanya memberikan manfaat bagi Sumatera Barat, tetapi juga berkontribusi terhadap kepentingan nasional.
“Ini menjadi bagian dari PSN Air Bangis. Mencari kawasan seluas ini, apalagi yang berada di pinggir laut, tidak mudah. Karena itu, kita berharap Teluk Tapang bisa menjadi kontribusi Sumatera Barat dan Pasaman Barat untuk Indonesia,” ujarnya.
Dalam peninjauan tersebut, Mahyeldi didampingi Kepala Dinas Perkimtan Sumbar Ahdiarsyah, Kepala Dinas Kehutanan Ferdinal Asmin, Kepala Dinas Perhubungan Deddy Diantolani, Kepala Biro Umum Andree Algamar, Kepala Biro Adpim Nolly Eka Mardianto, serta Kepala Bagian Makopim Budi Arif.
Dalam rangkaian kunjungan ke Pasaman Barat, Mahyeldi turut bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat Nagari Air Bangis sekaligus menyerap aspirasi masyarakat dalam momentum peresmian Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Air Bangis.
Kunjungan tersebut juga diisi dengan jamuan makan bajamba bersama Niniak Mamak dan Bundo Kanduang. (*)










