Covesia.co.id – Pewarta Foto Indonesia (PFI) berkolaborasi dengan Yayasan Mata Waktu dan PLN untuk menggelar pameran foto bencana Hidrometeorologi yang melanda tiga Provinsi di pulau Sumatera di Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar dari tanggal 27-30 Juli 2026.
Ada 68 karya yang dipajang dalam pameran ini. Semuanya memperlihatkan bagaimana dahsyatnya efek bencana Hidrometeorologi yang menghantam provinsi Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Foto-foto ini mengingatkan bagaimana Pulau Sumatera pernah berduka atas kehilangan ribuan nyawa dalam tragedi banjir dan longsor akhir November 2025 silam.
Koordinator Wilayah PFI Region Sumatra, Hendra Syamhari, mengatakan pameran foto ini bagian dari roadshow karya fotografi jurnalistrik di tiga provinsi yang terdampak bencana.
“Kami berharap dengan adanya pameran ini bisa mengingatkan perlunya mitigasi bencana. Termasuk merekam memory bahwa Sumatera pernah babak belur akibat bencana, agar generasi saat ini dan nanti bisa memahami pentingnya menjaga alam, ” kata Hendra kepada Covesia.co.id, Rabu (29/7/2026).
Disampaikan Hendra, dari 68 karya yang dipamerkan ini, berasal dari 36 pewarta foto seluruh Indonesia yang datang ke lokasi bencana. Dengan naluri, skill dan komponen kamera, mereka menyajikan visual yang bisa menyentuh emosional pengunjung.
“Kami tidak menulis. Kami hanya memotret sisi yang bisa menceritakan bagaimana perihnya bencana Hidrometeorologi kemarin. Karya kawan-kawan PFI dari seluruh Indonesia inilah yang diharapkan mengedukasi dan menyentuh hati pengunjung, ” katanya.
Bagi Hendra, alam diciptakan bukan cuma untuk generasi saat ini. Menjaga alam hari ini, bukti cinta pada anak cucu. Mereka berhak juga menikmati alam yang bersih dan terjaga.
“Karena itulah kami memilih Istano Basa Pagaruyung sebagai tempat pameran. Karena Istano ini adalah simbol adat dan keturunan. Dengan menjaga alam, bukti rasa sayang pada keturunan kita nantinya. Mereka berhak mendapatkan alam yang terjaga, ” Kata Hendra lagi.
Sementara itu Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menyampaikan apresiasi kepada PFI yang telah menghadirkan pameran foto jurnalistik di Istano Basa Pagaruyung.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi tonggak baru dalam pemanfaatan kawasan budaya sebagai ruang edukasi sekaligus pengingat akan pentingnya mitigasi bencana.
“Sebelumnya tidak pernah ada pameran foto di Istano Basa Pagaruyung. Ini ide yang luar biasa. Ini perdana adanya pameran foto di sini,” kata Eka Putra.
Ia berharap masyarakat, khususnya di tiga provinsi yang pernah terdampak bencana, dapat memanfaatkan pameran tersebut sebagai sarana belajar dari peristiwa yang pernah terjadi.
“Saya mengimbau masyarakat di tiga provinsi yang terdampak bencana, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumbar untuk mengunjungi pameran foto yang diselenggarakan teman-teman PFI ini,” ujarnya.
Menurut Eka, setiap foto yang dipamerkan bukan sekadar dokumentasi, melainkan pengingat agar masyarakat tidak lengah terhadap ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.
“Pameran ini mengingatkan kita kembali tentang bencana yang terjadi, supaya kita mengantisipasi dan terus menyosialisasikan kepada masyarakat,” ucapnya.
Ia menegaskan, peristiwa bencana tidak boleh dilupakan karena menyimpan banyak pelajaran penting, terutama dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
“Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada PFI yang sudah melakukan pameran foto ini. Ini mengingatkan kepada kami bahwa bencana ini tidak bisa dilupakan,” katanya. (*)










