Covesia.co.id – Isu LGBT masih menjadi perhatian hangat di tengah masyarakat dan memicu beragam pandangan dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama. Pakar agama Islam, Duski Samad, menilai pembahasan mengenai isu ini perlu dipahami secara utuh, terutama dengan membedakan antara penghormatan terhadap martabat manusia dan penilaian agama terhadap suatu perilaku.
Dalam wawancara bersama Covesia.co.id, Duski menjelaskan bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah SWT yang memiliki kemuliaan, sehingga wajib diperlakukan secara adil dan penuh penghormatan. Namun di sisi lain, Islam memiliki aturan dan ketentuan moral yang tegas mengenai perilaku yang dibolehkan maupun dilarang.
“Islam mengajarkan bahwa setiap manusia adalah makhluk Allah SWT yang memiliki kemuliaan dan hak untuk diperlakukan secara adil. Namun pada saat yang sama, Islam juga memiliki ketentuan moral mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” ujarnya pada Jumat (24/7/2026).
Ia memaparkan bahwa pandangan tersebut berlandaskan sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya kisah Nabi Luth AS dalam Surah Al-A’raf ayat 80–84, Surah Hud ayat 77–83, Surah Asy-Syu’ara ayat 165–166, dan Surah An-Naml ayat 54–58. Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW turut menjadi rujukan utama para ulama dalam menetapkan hukum terkait hubungan seksual sesama jenis.
Menurut Duski, mayoritas ulama—baik dalam fikih klasik maupun kontemporer—sepakat bahwa praktik hubungan seksual sesama jenis tidak sesuai dengan syariat. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pendekatan kepada generasi muda tidak boleh dilakukan melalui penghakiman atau celaan.
“Kita hendaknya tidak membangun budaya saling mencela dan memberi stigma. Tugas seorang mukmin adalah saling menolong dalam kebaikan. Dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah dakwah yang penuh hikmah, kelembutan, kasih sayang, dan keteladanan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau para orang tua untuk memperkuat komunikasi di dalam keluarga. Ia juga berharap para guru dapat hadir sebagai pendidik sekaligus pembimbing, serta tokoh agama mampu menyajikan dakwah yang menyejukkan dan membuka ruang dialog bagi generasi muda. Menurutnya, langkah pencegahan melalui pendidikan dan pembinaan karakter jauh lebih efektif dibanding penanganan saat persoalan sudah terlanjur meluas.
Duski turut mengingatkan generasi muda agar tidak pernah berkecil hati atau kehilangan harapan apabila pernah berbuat kesalahan. Dalam ajaran Islam, pintu rahmat dan tobat Allah SWT selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang berniat memperbaiki diri.
Menutup wawancaranya, ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 sebagai pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari dalam diri sendiri. Ia berharap generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta memberikan manfaat luas bagi agama, bangsa, dan masyarakat. (*)











