Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Ekonomi Sumbar Tumbuh 4,69 Persen, Angka Pengangguran Turun Petani Ditemukan Meninggal di Kebun Sawit Pasaman Barat Sukses di Koto Lalang, Parkir Digital Antrean BBM Sasar SPBU Mata Air dan Pengambiran 9 Pedagang Korban Kebakaran Los Batiah Payakumbuh Dipastikan Kembali ke Lapak Semula Vasko Dorong Pengembangan Nagari Creative Hub, 13 Nagari Jadi Percontohan di Sumbar Diduga Jadi Mucikari Anak di Bawah Umur, Mahasiswa di Padang Ditangkap di Hotel

News

Nurani Perempuan: Stop Anggap Remeh Perundungan Anak

Safira Ariel Putribadge-check

Nurani Perempuan: Stop Anggap Remeh Perundungan Anak Perbesar

Covesia.co.id – Fenomena perundungan (bullying) kembali menggegerkan Kota Padang. Belum hilang dari ingatan publik mengenai insiden ledakan bom kelas yang diduga dipicu aksi perundungan, kini kasus serupa kembali terjadi. Seorang siswi kelas 3 SD di Padang Selatan, mengembuskan napas terakhirnya yang diduga akibat perlakuan bullying dari temannya.

Menanggapi tragedi ini, Koordinator Divisi Pendidikan Nurani Perempuan, Fitri Fidia Ningsih, menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa perundungan bukanlah perkara sepele yang bisa dimaklumi, siapa pun pelakunya.

“Perilaku bullying tidak boleh kita toleransi, baik yang dilakukan oleh perempuan dewasa maupun anak-anak. Ini adalah tindakan berbahaya yang jika dibiarkan dapat berujung pada kematian. Dan kita tahu betul, kasus kematian akibat perundungan ini bukan lagi satu atau dua kali terjadi, melainkan sudah memakan banyak korban,” tegas Fitri kepada Covesia.co.id, Senin (27/7/2026).

Fitri menilai perundungan sebagai persoalan kompleks. Dinamika perkembangan zaman dan pola pergaulan turut memengaruhi tumbuhnya “bibit-bibit” perundungan pada anak, terlebih jika kepedulian lingkungan sekitarnya amat minim.

Ia menekankan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada segelintir orang. Butuh peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua hingga warga di lingkungan sekitar.

“Budaya pergaulan memang memengaruhi, tetapi kita tidak bisa menghentikan perkembangan zaman. Anak-anak adalah peniru yang handal. Karena itu, kepedulian orang-orang di sekitar sangat krusial. Jika melihat anak mulai menunjukkan indikasi meniru sikap perundungan, orang tua atau siapa pun yang mengenalnya harus berani bertindak dan menegur (speak up),” lanjutnya.

Selain memberikan perhatian penuh kepada korban, Fitri mengingatkan pentingnya penanganan khusus bagi pelaku yang masih berstatus anak-anak. Mereka memerlukan pendampingan ketat agar menyadari kesalahannya, mendapatkan bimbingan psikologis yang tepat, dan berhenti mengulangi perbuatannya.

Disamping itu, Nurani Perempuan mendesak Pemerintah Daerah untuk melakukan pembenahan sistematis dan mengevaluasi secara menyeluruh penanganan fenomena bullying di dunia pendidikan, khususnya yang menimpa anak dan perempuan.

(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Petani Ditemukan Meninggal di Kebun Sawit Pasaman Barat

5 November 2026 - 14:12 WIB

Sukses di Koto Lalang, Parkir Digital Antrean BBM Sasar SPBU Mata Air dan Pengambiran

5 November 2026 - 12:14 WIB

9 Pedagang Korban Kebakaran Los Batiah Payakumbuh Dipastikan Kembali ke Lapak Semula

5 November 2026 - 10:00 WIB

Vasko Dorong Pengembangan Nagari Creative Hub, 13 Nagari Jadi Percontohan di Sumbar

5 November 2026 - 09:52 WIB

Diduga Jadi Mucikari Anak di Bawah Umur, Mahasiswa di Padang Ditangkap di Hotel

5 November 2026 - 08:34 WIB

Trending Topik News