Covesia.co.id – Bagi sebagian orang, kayu apung yang terdampar di pantai mungkin hanyalah sampah laut yang tak berharga. Namun, di tangan Sri Intan Rahmadia (30) dan Rafi Maizendra (30) yang akrab disapa Ambu dan Abah—limbah ombak tersebut disulap menjadi karya seni magis yang mendatangkan kebahagiaan.
Berawal dari kecintaan mereka terhadap Studio Ghibli, studio animasi legendaris asal Tokyo yang didirikan oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata sejak 1985, Ambu berhasil membawa keajaiban dunia fantasi yang emosional dan imajinatif tersebut ke dunia nyata.
Kisah kreatif ini sejatinya dimulai pada tahun 2024 di Bandung. Saat itu, Ambu dan Abah merintis usaha berani memanfaatkan mengomel kayu yang mereka temukan di jalanan. Melihat peluang yang menjanjikan, keduanya memboyong mimpi mereka ke Kota Padang.
Di titik baliknya. Bertemu dengan “Taplau” (Tepi Laut) Padang yang kaya akan hamparan kayu apung, Ambu dan Abah menemukan bahan baku utama yang sempurna untuk mahakarya mereka.
Berkat kekuatan media sosial, karya unik berbasis kayu apung ini mendadak viral. Permintaan pun melonjak tajam, termasuk pesanan khusus untuk dekorasi salah satu kafe estetika di Bandung.
Seiring berkembangnya usaha, pasangan ini memutuskan untuk membangun sebuah galeri mini. Uniknya, galeri tersebut memanfaatkan ruang yang dulunya merupakan studio musik milik saudaranya Ambu. Fakta menariknya, darah seni memang mengalir deras di darah Ambu. Jika Ambu andal dalam seni rupa, saudatra kandungnya adalah seorang musisi berbakat yang menciptakan lagu “Sembuh” yang dipopulerkan oleh Sofie Anastasya.
Bagi para pengunjung, galeri mini ini adalah oase tersembunyi yang menenangkan jiwa. Banyak pencinta seni yang datang bukan sekadar untuk berfoto, melainkan duduk menyesap kopi sambil menikmati atmosfer syahdu yang dihadirkan Ambu.
Perjalanan ini tentu tidak selalu mulus. Sebagai seorang ibu, Ambu sempat berada di titik di mana ia merasa dunianya menjadi terbatas. Namun, ia menolak membiarkan semangatnya padam.
“Ada kalanya kita merasa tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena ruang gerak yang terbatas. Namun, ketika semangat tidak dibiarkan padam, itu mampu menciptakan peluang yang tak disangka-sangka, bahkan menjadi jalur pemasukan dari hal yang awalnya hanya hobi,” ungkap Ambu kepada Covesia, Senin (22/6)..
Bagi Ambu, kepuasan terbesar bukanlah materi, melainkan perasaan mampu membahagiakan orang lain melalui karya tangan.
Hebatnya lagi, galeri mini ini tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya para pencinta karakter Ghibli, tetapi juga menjadi motor penggerak perekonomian warga sekitar. Ambu kini mulai memberdayakan masyarakat lokal dengan memajang karya-karya lain di galerinya, termasuk produk rajutan titipan dari tetangga sekitar.
Di era digital yang serba instan ini, Ambu dan Abah berhasil membuktikan bahwa keindahan sejati justru sering kali datang dari alam sekitar yang terabaikan. Bagi Anda yang penasaran dengan keajaiban kayu apung ini, karya-karya Ambu dan Abah dapat diintip melalui akun Instagram dan TikTok @jajandiakuuu, serta pemesanan melalui Shopee.
(*)











