Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag
(Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang)
Covesia.co.id – Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam memang menarik sekaligus mengundang perdebatan sejak dari judulnya. Berdasarkan katalog Gramedia, buku ini ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Buku tersebut berusaha membaca sejarah, perjalanan, kiprah, karakter, serta kepemimpinan Prabowo Subianto dari perspektif pengamalan nilai-nilai Islam.
Menurut saya, menulis sisi religiositas seorang Presiden adalah sesuatu yang sah dan penting. Presiden bukan hanya pejabat politik. Ia manusia yang memiliki latar keluarga, pengalaman hidup, keyakinan, nilai, spiritualitas, serta pandangan moral yang sedikit banyak memengaruhi cara mengambil keputusan.
Persoalannya bukan boleh atau tidak boleh menulis religiositas Prabowo. Pertanyaan akademiknya adalah: bagaimana religiositas itu dibaca, dengan metodologi apa, berdasarkan data apa, dan sejauh mana penulis mampu menjaga jarak kritis terhadap tokoh yang ditulisnya?
Judul Menarik, tetapi Perlu Kehati-hatian
Frasa “Islam ala Prabowo” mempunyai daya tarik publik yang kuat, tetapi sekaligus sensitif secara teologis. Islam tentu tidak boleh direduksi menjadi milik atau versi personal seseorang. Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah serta memiliki tradisi keilmuan yang panjang.
Karena itu, judul tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai “Islam versi Prabowo”, apalagi sebagai mazhab atau formulasi ajaran baru. Berdasarkan deskripsi buku yang tersedia, memang bukan itu yang hendak ditawarkan. Fokusnya lebih kepada bagaimana nilai-nilai Islam dibaca dalam perjalanan hidup dan kepemimpinan Prabowo.
Secara akademik, saya bahkan melihat konstruksi yang lebih aman adalah “Prabowo dalam perspektif nilai-nilai Islam” atau “Religiositas dan Etika Kepemimpinan Prabowo.” Dengan formulasi seperti itu, Islam ditempatkan sebagai sumber nilai untuk membaca seorang pemimpin, bukan seolah-olah Islam memperoleh coraknya dari figur politik tertentu.
Religiositas Tidak Cukup Diukur dari Simbol
Salah satu hal yang menarik dari tema buku ini adalah peluang memperluas cara masyarakat memahami religiositas seorang pemimpin.
Keislaman seseorang tidak semestinya hanya diukur dari pakaian, retorika agama, frekuensi menggunakan istilah keagamaan, atau kedekatan dengan tokoh agama. Religiositas juga mempunyai dimensi substantif: kejujuran, amanah, keadilan, keberpihakan kepada masyarakat lemah, kasih sayang, kemampuan menahan diri, penghormatan terhadap perbedaan, serta tanggung jawab terhadap kekuasaan.
Dalam perspektif Islam, kekuasaan justru merupakan ujian moral yang sangat berat. Karena itu, bila buku ini hendak menjelaskan religiositas Prabowo, ukurannya pada akhirnya tidak cukup pada kehidupan personal Presiden. Ia harus sampai kepada pertanyaan: bagaimana nilai agama hadir dalam kebijakan dan penggunaan kekuasaan?
Dari Kesalehan Personal Menuju Kesalehan Kekuasaan
Di sinilah buku seperti Islam ala Prabowo dapat memberikan ilmu kepada pembaca apabila dibaca secara kritis.
Pembaca perlu diajak membedakan kesalehan personal, kesalehan sosial, dan kesalehan struktural. Seorang pemimpin mungkin mempunyai kehidupan spiritual personal yang baik, tetapi sebagai Presiden ukuran akhirnya lebih luas.
Apakah kekuasaannya menghadirkan keadilan? Apakah kebijakannya mengurangi kemiskinan dan kesenjangan? Apakah hukum ditegakkan secara adil? Apakah kekayaan negara dikelola untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat? Apakah kelompok lemah memperoleh perlindungan? Apakah persatuan bangsa terpelihara?
Dengan ukuran seperti itu, Islam tidak berhenti menjadi identitas seorang Presiden, tetapi menjadi etika publik dan moral kekuasaan.
Jangan Berubah Menjadi Hagiografi Politik
Buku mengenai Presiden yang sedang berkuasa mempunyai tantangan khusus. Penulis harus mampu menjaga jarak antara kajian, apresiasi, dan glorifikasi.
Bila sebuah buku hanya mengumpulkan sisi-sisi positif seorang pemimpin dan menghubungkan semuanya dengan nilai agama, pembaca dapat melihatnya sebagai hagiografi politik—yakni pengagungan tokoh—bukan kajian kritis.
Karena itu, semakin tinggi posisi orang yang ditulis, semakin tinggi pula tuntutan metodologis dan etik penulisnya.
Terlebih belakangan muncul polemik mengenai status sejumlah nama yang tercantum dalam buku. Yusril Ihza Mahendra, misalnya, menjelaskan bahwa dirinya merupakan narasumber yang diwawancarai dan bukan penulis buku. Pemberitaan terbaru juga mencatat adanya pertanyaan dari beberapa tokoh lain mengenai bentuk keterlibatan mereka. Hal seperti ini penting diklarifikasi oleh penyusun dan penerbit karena menyangkut transparansi sumber dan integritas sebuah karya.
Apakah Buku Ini Bermanfaat?
Ya, berpotensi bermanfaat, terutama jika ditempatkan sebagai salah satu perspektif untuk memahami dimensi lain seorang Prabowo Subianto yang selama ini lebih sering dibaca melalui latar militer, politik, nasionalisme, dan kekuasaan.
Tetapi pembaca jangan berhenti pada pertanyaan “seberapa Islami Prabowo?” Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
“Sejauh mana nilai-nilai universal Islam—keadilan, amanah, rahmah, kemanusiaan, persaudaraan, antikorupsi, perlindungan terhadap yang lemah, dan kesejahteraan—terwujud dalam praktik kepemimpinannya?”
Di situlah buku ini dapat memperoleh nilai pendidikan politik dan pendidikan keagamaan.
Islam Lebih Besar daripada Seorang Tokoh
Pada akhirnya, buku tentang religiositas seorang Presiden adalah sah dan dapat memperkaya literatur kepemimpinan Indonesia. Namun harus tetap ditegaskan bahwa Islam lebih besar daripada Prabowo, lebih besar daripada partai politik, dan lebih besar daripada kekuasaan mana pun.
Prabowo, seperti pemimpin Muslim lainnya, bukan ukuran kebenaran Islam. Justru nilai-nilai Islamlah yang menjadi salah satu ukuran moral untuk menilai kepemimpinannya.
Karena itu, saya akan membaca Islam ala Prabowo bukan sebagai “Islam menurut Prabowo”, tetapi sebagai ikhtiar sejumlah penulis membaca Prabowo melalui nilai-nilai Islam. Perbedaan kalimat itu sangat penting secara teologis, akademik, sekaligus politik.










