Covesia.co.id – Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar) mengalami fluktuasi dalam 24 jam terakhir. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau naik dan turun pada waktu tertentu, dengan kondisi yang relatif lebih buruk di sejumlah wilayah bagian timur.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (P2KL) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) , Defrizal, mengatakan secara umum kualitas udara di wilayah Sumbar bagian barat masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, kondisi berbeda terlihat di sejumlah wilayah bagian timur yang berbatasan dengan Dharmasraya, Sijunjung, dan Lima Puluh Kota.
“Untuk Sumatera Barat yang bagian barat, udara kita baik sampai sedang. Namun, bagian timur, seperti perbatasan Dharmasraya, Sijunjung, dan 50 Kota, kategorinya tidak sehat,” ujar Defrizal saat diwawancarai Covesia.co.id.
Menurutnya, kualitas udara di wilayah perbatasan dapat berubah dalam hitungan jam. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika konsentrasi PM2.5 serta faktor atmosfer.
“Ini peningkatannya dalam 24 jam, kadang turun, kadang naik. Sekarang kondisi dari BMKG sedang, sedangkan dari lingkungan hidup tidak sehat,” jelasnya.
Konsentrasi PM2.5 Berubah Sepanjang Hari
Defrizal menjelaskan, konsentrasi PM2.5 sangat dinamis. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta sumber partikulat di sekitar wilayah pemantauan.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menjadikan kondisi udara pada satu waktu sebagai gambaran kondisi sepanjang hari.
“Bisa dilihat dari aplikasi cuaca, namun tidak bisa jadi rujukan. Kadang berubah per jamnya, terus berputar, kadang turun, kadang naik,” katanya.
Ia menyebutkan, konsentrasi PM2.5 pada pagi hari masih dapat berada pada kategori sedang. Namun, memasuki siang hari, konsentrasinya dapat meningkat secara signifikan.
“Kalau secara konsentrasi PM2.5 jam 9 masih sedang, kalau untuk siang ini sudah parah, sudah ekstrem,” ungkapnya.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Defrizal mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan, untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
“Imbauannya tetap menggunakan masker,” tegasnya.
Kondisi Cuaca Tidak Selalu Menunjukkan Kualitas Udara
Masyarakat juga perlu memahami bahwa informasi cuaca tidak selalu menggambarkan kondisi kualitas udara. Kualitas udara ditentukan berdasarkan konsentrasi polutan yang terukur, sedangkan informasi cuaca mencakup kondisi atmosfer, seperti suhu, kelembapan, hujan, dan angin.
BMKG menyediakan informasi mengenai kualitas udara, termasuk pemantauan PM2.5, sekaligus prakiraan cuaca.
Pada 2 September 2026, Sumbar termasuk wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Sementara itu, prakiraan cuaca periode 1–6 September 2026 menunjukkan kondisi panas dan kering masih berpengaruh di sejumlah wilayah Indonesia, meskipun hujan lokal tetap berpotensi terjadi.
Kondisi tersebut menunjukkan cuaca di Sumbar dapat berbeda antardaerah. Satu wilayah dapat mengalami kondisi panas dan kering, sementara wilayah lain berpotensi mengalami pertumbuhan awan dan hujan.
Kualitas Udara Wilayah Barat dan Timur Berbeda
Perbedaan kondisi geografis antara wilayah barat dan timur Sumbar juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca dinamika kualitas udara.
Wilayah barat yang berada di sepanjang pesisir memiliki karakteristik atmosfer yang berbeda dengan wilayah timur yang berada di kawasan perbukitan dan berbatasan dengan provinsi lain.
Defrizal mengatakan sejumlah wilayah di bagian timur Sumbar saat ini perlu mendapat perhatian karena kualitas udaranya dapat berada pada kategori tidak sehat.
Sementara itu, wilayah seperti Pariaman masih menunjukkan kondisi yang relatif baik dalam pemantauan tertentu.
“PM2.5 Pariaman baik,” katanya.
Meski demikian, kondisi tersebut dapat berubah karena konsentrasi PM2.5 dipengaruhi dinamika atmosfer dan dapat mengalami perubahan dalam hitungan jam.
Masyarakat Diminta Memantau Kondisi Udara
Masyarakat diimbau tidak hanya memperhatikan kondisi cuaca, tetapi juga memantau kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Apabila kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan, terutama bagi masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara.
Pemantauan secara berkala juga penting karena kondisi udara yang masih berada pada kategori sedang pada pagi hari belum tentu bertahan hingga siang atau sore.
Dengan kondisi cuaca dan kualitas udara yang dinamis, masyarakat diharapkan mengikuti pembaruan informasi dari BMKG dan instansi lingkungan hidup untuk mengetahui perkembangan kondisi udara di wilayah masing-masing.










