Covesia.co.id – Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Barat belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik.
Kabut asap masih menyelimuti Sumatera Barat dengan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada Rabu (15/9/2026), Padang kembali menjadi daerah yang kualitas udaranya terburuk dengan Air Quality Index (AQI) 903 atau masuk kategori berbahaya.
Wilayah berikutnya mencatatkan kualitas udara tidak sehat adalah Parit Malintang, Padang Pariaman mencatat AQI 194, disusul Air Bangis, Pasaman Barat dengan AQI 172.
Sejumlah wilayah lainnya yang juga berada pada kategori tidak sehat, yaitu Pulau Punjung, Dharmasraya dengan AQI 168, Sijunjung dengan AQI 165, lalu Talawi, Sawahlunto dengan AQI 163.
Masih pada kategori yang sama, Batusangkar dengan AQI 161, Solok dengan AQI 161, Payakumbuh dengan AQI 160, dan Sarilamak Kabupaten Lima Puluh Kota dengan AQI 160 juga.
Kualitas udara dengan kategori tidak sehat hari ini memang mendominasi wilayah Sumatera Barat.
Padang Panjang dengan AQI 159, lalu Bukittinggi dengan AQI 157, dan Matur, Agam mencatat AQI 151.
Adapun daerah yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Tuapejat, Mentawai dengan AQI 133.
Meski begitu masih ada wilayah Sumbar yang punya kualitas udara sedanh hari ini diantaranya, Painan (Pesisir Selatan) dengan AQI 81, Lubuk Sikaping (Pasaman) dengan AQI 80, dan Pariaman dengan AQI 78.
Kondisi kualitas udara tersebut terus menjadi perhatian di tengah paparan asap yang masih membungkus langit Sumatera Barat yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah pulau Sumatera.
Lebih lanjut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memantau keberadaan aerosol, termasuk partikulat PM2,5, di sejumlah wilayah Sumatera Barat pada periode 17-19 September 2026.
Dimana kondisi atmosfer diprakirakan berada pada kategori baik hingga sedang di sebagian wilayah.
Kembali diimbau kepada masyarakat yang berada di wilayah dengan kategori udara yang buruk untuk mengurangi segala bentuk aktivitas di luar ruangan.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker dan menjaga kondisi kesehatan.
Kualitas udara juga perlu dipantau secara berkala karena dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin serta sumber emisi di wilayah sekitar. (*)










