Covesia.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menolak proposal gencatan senjata sementara yang didukung Amerika Serikat (AS).
Penolakan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan, sekaligus mendorong harga minyak dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel.
Berdasarkan laporan The New York Times, proposal gencatan senjata yang dimediasi Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, ditolak Teheran.
Penolakan ini didasari karena AS belum menyelesaikan persoalan strategis, khususnya terkait kendali atas Selat Hormuz.
Dalam laporan tersebut disebutkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak memerlukan perantara tambahan dalam proses negosiasi dengan Washington.
“Iran tidak membutuhkan perantara tambahan. Hambatan dalam negosiasi bukan terletak pada komunikasi, melainkan pada pendekatan yang dilakukan Washington,” kata Araghchi, seperti dikutip The New York Times, Kamis (23/7/2026).
Penolakan itu muncul di tengah meningkatnya ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyatakan akan memberikan “hukuman militer besar-besaran” terhadap Iran dan kelompok Houthi di Yaman. Terlebih lagi pasca serangan Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi global, terutama di dua jalur pelayaran penting dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab al-Mandab.
Para pejabat Iran juga dikabarkan mulai mempersiapkan berbagai skenario jika Amerika Serikat benar-benar melancarkan serangan terhadap wilayah maupun infrastruktur strategis Iran.
Salah satu opsi yang disebut dalam laporan adalah memperluas konflik dengan melibatkan sekutu-sekutunya di kawasan.
Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel
Meningkatnya tensi geopolitik langsung direspons pasar energi. Harga minyak mentah Brent kembali melampaui US$100 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Analis komoditas dari ING menilai risiko gangguan pasokan minyak kini berada pada titik tertinggi akibat eskalasi konflik yang terus memburuk.
Data pasar menunjukkan harga minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$101,06 per barel, setelah melonjak sekitar 7 persen menyusul serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$91,20 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Jika konflik semakin meluas, pasokan energi global dikhawatirkan akan semakin tertekan dan mendorong harga minyak naik lebih tinggi lagi.
Sumber: The New York Times, Reuters, AP News.










