Menu

Mode Gelap
Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif Pemko Padang Matangkan Persiapan Menuju Kota Gastronomi Dunia

News

Harga Minyak Dunia Turun Drastis, Efek Selat Hormuz Mulai Normal

badge-check

Harga Minyak Dunia Turun Drastis, Efek Selat Hormuz Mulai Normal Perbesar

 

Covesia.co.id – Sejak empat bulan terakhir, harga minyak hari ini, Rabu (24/6/2026) menunjukkan trend positif. Dimana harga minyak dunia turun drastis, melebihi 1 persen ke harga sekitar US$75,88 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WITI) turun ke sekitar US$72,07 per barel. Kembalinya harga minyak ini karena pasar berkeyakinan bahwa pengiriman minyak melalui selat Hormuz mulai kembali normal setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Para pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk mulai berkurang setelah lebih banyak kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak Timur Tengah.

Oman dilaporkan membuka jalur pelayaran sementara tanpa biaya bagi kapal-kapal yang sebelumnya tertahan akibat konflik, sehingga mempercepat normalisasi distribusi minyak dari kawasan tersebut.

Selain faktor pengiriman, pasar juga mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya pasokan minyak Iran. Reuters melaporkan bahwa pelonggaran sementara sanksi Amerika Serikat dan izin ekspor selama 60 hari memungkinkan Iran kembali menjual minyak mentah ke pasar internasional dalam jumlah yang lebih besar.

Tekanan terhadap harga juga datang dari pasar fisik minyak dunia. Pasokan dari Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab meningkat dalam beberapa pekan terakhir sehingga sejumlah kargo dijual dengan diskon untuk menarik pembeli. Banyak kilang di Asia bahkan telah mengamankan pasokan hingga Agustus sehingga permintaan pembelian tambahan menjadi terbatas.

Meski demikian, analis memperingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan pandangan mengenai inspeksi program nuklir Iran serta mekanisme pelaksanaan kesepakatan pascakonflik. Ketidakpastian tersebut dapat kembali memicu volatilitas harga minyak apabila situasi memburuk.

Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial bagi pasar energi global karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Setiap gangguan baru berpotensi langsung memengaruhi harga energi internasional.

Sebelumnya, selama puncak krisis Hormuz pada Maret 2026, harga Brent sempat melonjak hingga melampaui US$120 per barel akibat terganggunya pasokan global. Kini pasar bergerak ke arah sebaliknya setelah arus ekspor mulai pulih dan pasokan kembali meningkat. (*)

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara

30 Juli 2026 - 15:24 WIB

Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia

30 Juli 2026 - 15:01 WIB

Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan

30 Juli 2026 - 13:54 WIB

Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar

30 Juli 2026 - 13:34 WIB

Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif

30 Juli 2026 - 09:48 WIB

Trending Topik News